Dionanda #7 : Lembaran Baru Nanda

Nanda memasuki ruang Balai Sudirman dengan rasa penuh percaya diri. Rasa yang nyaris hilang dari relung dadanya selama ini. Nanda menghembuskan nafas panjang sebelum ia menaiki tangga masuk Balai Prajurit.

Malam ini ia memakai gaun terbagus yang kupunya, sebuah gaun malam berwarna hijau tosca lengan panjang dengan kerah tinggi berbahan wool berwarna biru gelap. Dibagian sisi kanan gaun, terdapat bordiran benang emas bunga-bunga kecil.

Selama ini Nanda menyimpan rapih baju-baju mahal yang selamat dari kebakaran, sehingga ia masih dapat memakainya sewaktu-waktu jika ada undangan seperti malam itu. Nanda menyadari bahwa dengan penghasilanku saat itu, adalah hal yang mustahil untuk dapat membeli baju-baju seperti yang ia pakai malam itu.

“NANDA !!!” teriakan seorang wanita membuatnya menoleh dari buku tamu.

Nanda menoleh dan melihat Sisi, salah satu teman kuliahnya. Sisi melambaikan tangannya dan menyuruh Nanda menuju tempat ia berdiri.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Sisi setelah mencium kedua pipi Nanda.

Nanda sekilas memperhatikan Sisi. Hampir tidak ada yang berubah dari Sisi menurut Nanda, penampilan yang sama, dandanan tebal yang masih sama, dan selera busana yang lebih mewah dan lebih mahal.

“Baik. Alhamdulilah…” Jawab Nanda

Sisi berdecak kagum dan memandangi Nanda dari ujung kaki hingga kepala. “Tidak nyangka ya, sekarang hidupmu sudah kembali seperti sedia kala”

“Sediakala?” tanya Nanda bingung “Maksudmu?”

“Ya… sejahtera seperti dahulu”

Nanda mencoba tersenyum sewajar mungkin menanggapi ucapan Sisi. Teman kuliahnya itu memang penyindir sejati. Nanda tidak berkata apapun. Ia hanya mengangguk pelan. Ia tidak mau digosipkan yang tidak-tidak oleh teman lamanya itu.

“Sama siapa?” tanya Sisi sambil menarik pelan lengan pria asing yang sedari tadi berdiri di sampingnya. “Oya kenalkan, ini suamiku, Roger”

Nanda bersalaman dengan pria asing yang Sisi perkenalkan sebagai suaminya. Pria itu sangat tinggi dan sudah agak tua, terlihat rambut coklatnya sudah mulai memutih. Nanda merasa agak aneh melihat Sisi yang mungil berdiri disebelah pria itu. Mereka seperti Ayah dan anak.

“Oya, sama siapa datangnya? Sendiri?” tanya Sisi lagi

“Sendiri” jawab Nanda dengan tersenyum kaku.

Terlintas rasa sesal dari balik senyum kaku Nanda. Semenjak harus menghidupi dirinya sendiri, Nanda menjadi workholic. Bahkan pada awal-awal dirinya bekerja, ia bekerja 2 pekerjaan sekaligus dalam 1 waktu. Sehingga hampir semua waktunya terbuang untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Nanda mengedarkan pandangan untuk mencari wajah-wajah yang mungkin ia kenal. Dan, ia menemukan Dion. Pria itu sedang berdiri menatapnya tajam. Nanda membalas tatapan itu dengan tersenyum dan anggukan pelan.

Apa mungkin Dion masih mengenalku? Ah, Dia semakin gagah. Pasti sudah menikah. Ah Sudahlah…

***

“Sahabatnya Wulan ya?” bisikan lembut dari Dion tepat ditelinga Nanda membuat nafas nanda tertahan dan jantungnya berdegup kencang.

Spontan Nanda menoleh kaget. Ia menyadari sangat dekat jarak wajahnya dengan wajah Dion. Begitu dekatnya, hingga Nanda dapat merasakan tarikan nafas berat Dion.

Apa tadi dia bilang? Oya, dia tidak tahu siapa aku. Dia tidak mengenaliku!!

Nanda tersenyum geli, dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Dion. Ia begitu lega karena Dion tidak mengenalinya. Nanda mengangkat bahunya, dan berjalan cuek menuju pelaminan Wulan. Tiba-tiba tangan Dion mencengkram kuat lengan kiri Nanda hingga ia sangat kesakitan.

“Sakit!!!” desis Nanda meringis.

Seperti tersadar akan perbuatannya, Dion langsung melepaskan cengkramannya. “A-a-a Maaf! Aku tidak bermaksud…”

Nanda memegang lengannya dan menatap Dion marah. Ia berbalik menuju pelaminan dan tujuannya hanya satu saat itu, salaman ke Wulan, lalu cepat pulang sampai rumah.

***

Sebuah ketukan di pintu kelas membuat Nanda berpaling dari konsentrasinya membereskan buku-buku yang diletakkan disalah satu pojok kelas. Seorang Ibu muda yang sedang hamil besar terlihat berdiri di depan pintu kelas. Wajahnya pucat, seperti habis berlari mengelilingi lapangan. Nanda langsung mengenalinya. Ia Ibu dari gadis mungil yang sekarang sedang terlelap disalah satu sudut kelasnya.

“Maaf miss, tadi saya ada urusan mendadak jadi baru bisa menjemput Lira sekarang” ucap Ibu muda itu dengan nafas yang masih terengah-engah sambil menatap jam tangan indah yang melingkar di tangan kirinya.

Siang itu menunjukkan jam 2 siang. Sedangkan kelas sudah berakhir semenjak jam 11. Lira tidak mengeluh sedikit pun ia belum dijemput-jemput. Ia hanya meminta ijin untuk membaca buku-buku cerita sembari ia menunggu seseorang menjemputnya. Benar-benar anak yang manis.

Nanda tersenyum memandang Ibu itu. “Lira sudah sedari tadi tertidur pulas. Ia tidak marah belum di jemput, bahkan ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku cerita”

Ibu itu tersenyum lega mendengarnya. Ia langsung menuju tempat Lira tertidur pulas. Seperti mengetahui ibunya sudah menjemput, Lira duduk terbangun.

“Bunda…” panggil Lira

“Ya ini Bunda sayang, ayo pulang yuk” jawab ibunya “Lira bisa jalan sendiri khan? Bunda sudah tidak bisa gendong Lira lagi” ibunya menunjuk kepada perutnya yang besar

Gadis mungil itu mengangguk-angguk lemah mengerti sambil menggosok-gosok matanya. Ia sepertinya masih mengantuk, berkali-kali ia menguap. Dengan tubuh yang masih agak oleng, ia berusaha berdiri tegak.

“Sini Miss Wina bantu jalan” ucap Nanda sambil memegang tangan Lira agar dapat berdiri tegak.

Di TK itu Nanda dikenal oleh murid-murid dan semua rekan kerjanya dengan panggilan Miss Wina. Yang diambil dari nama depannya, Winanda. Awalnya Nanda merasa janggal dipanggil seperti itu, mengingat selama lebih dari 25 tahun ia dipanggil dengan nama Nanda. Nanda berharap dengan panggilan baru, ia dapat menghilangkan sedikit kesedihan di masa lalunya.

“Maaf merepotkan anda” ucap Ibu muda itu “Yang didalam sini kembar” ucapnya sambil mengelus perutnya.

“Oya, selamat ya bu! Sebentar lagi Ibu akan menjadi super sibuk” ucap Nanda basa-basi. Ibu muda itu mengangguk-angguk mengiyakan. Nanda berpaling ke Lira yang sibuk menggosokkan kedua matanya dan mengajaknya berjalan keluar kelas.

“Sepertinya saya pernah bertemu anda sebelumnya” ucap ibunya Lira disela-sela jalan menuju keluar kelas. “Maksud saya sebelum kenal anda di TK ini”

“Benarkah? Dimana ya?” Nanda berusaha mengingat wajah wanita yang berjalan di sampingnya. Wajah wanita itu memang agak familier di benaknya.

“Nama kecil miss, Nanda bukan? adikknya Daud Prawirahardaya?”

Nafas Nanda sesak mendengar nama itu disebut lagi. Nama lengkap Kakaknya, Daud. Nanda memandang lekat-lekat wajah Ibu muda itu. Mencoba mengingat-ingat kembali siapa dia

“Kak Dian? Kak Dian mantan pacar Kak Daud?”

Seberkas senyum lebar langsung menghiasi wajah ibu itu. Wanita itu langsung memeluk Nanda dengan hangat. Nanda merasakan tendangan dari dalam perut Dian. Nanda perlahan melepaskan pelukannya.

“Sepertinya yang didalam sini marah jika aku berpelukan dengan orang lain, termasuk dengan bapaknya”

Tawa renyah langsung menghiasi suasana. Nanda tidak ingat kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti itu. Dian seperti membuka lembaran baru dalam kehidupan sedih Nanda. Untuk pertama kalinya Nanda menemui bagian dari masa lalunya yang tidak membuatnya kecewa.

***

As_3d

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s