Dionanda #6: Rasa Awal

Nanda tertawa kecil membaca nama yang tercetak di undangan merah itu. Wulan dan Teddy. Sekilas ia mengingat kejadian ketika dirinya menggoda Wulan, salah satu sahabatnya saat kuliah, yang lebih menyukai Teddy, seorang pemuda desa miskin, daripada Dion, senior genius dari fakultas tekhnik.

Saat itu Wulan pernah berkata kepadanya. Awalnya Nanda mengira itu hanya ucapan naif Wulan semata, tapi kata-kata Wulan tak pernah Nanda lupakan.

“Untuk apa uang yang banyak dan otak yang sangat cerdas jika tidak mempunyai prilaku yang baik?”

Nanda tersenyum dan menatap undangan itu nanar.

***


Nanda memasuki ruang Balai Sudirman dengan rasa penuh percaya diri. Rasa yang nyaris hilang dari relung dada Nanda selama ini. Nanda menghembuskan nafas panjang sebelum menaiki tangga masuk Balai Prajurit.

Malam itu, Nanda memakai gaun terbagus yang ia punya. sebuah gaun malam lengan panjang dengan kerah tinggi berbahan wool berwarna hijau gelap. Dibagian sisi kanan gaun, terdapat bordiran benang emas bunga-bunga kecil.

Selama ini Nanda menyimpan rapih baju-baju mahal yang selamat dari kebakaran. Ia melakukan itu agar masih bisa memakainya sewaktu-waktu jika ada undangan pesta. Dengan penghasilannya sebagai seorang guru, adalah hal yang mustahil untuk bisa membeli baju-baju seperti yang ia pakai malam itu.

“NANDA !!!” teriakan seorang wanita membuat Nanda menoleh dari buku tamu.

Nanda menoleh dan melihat Sisi, salah satu teman kuliahnya. Ia melambaikan tangannya dan berjalan menuju Sisi berdiri. Sisi langsung mencium kedua pipi Nanda begitu wanita muda itu sampai didekatnya.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Baik. Alhamdulilah…” ucap Nanda

Nanda memperhatikan penampilan Sisi dari ujung kaki hingga kepala, hampir tidak ada yang berubah. Penampilan yang sama, dandanan tebal yang masih sama, dan selera busana yang lebih mewah dan lebih mahal.

Tak berbeda dengan Nanda, Sisi pun memperhatikan penampilan Nanda. Ia berdecak kagum memandangi Nanda. Nanda merasa decakan itu lebih mirip sindiran. Karena ia tahu, Sisi termasuk dari orang-orang yang tidak mau dekat lagi dengannya karena takut diketahui berteman dengan anak seorang koruptor. Nanda selalu muak dengan sikap munafik teman-temannya yang baik didepan wajahnya, tapi menjelek-jelekkan dirinya dibelakangnya.

“Tidak nyangka ya, sekarang hidupmu sudah kembali seperti sedia kala” ucap Sisi

“Sediakala?” tanya Nanda bingung “Maksudmu?”

“Ya… sejahtera seperti dahulu”

Nanda hanya mencoba tersenyum sewajar mungkin menanggapi ucapan Sisi. Menurutnya Sisi memang penyindir sejati. Sisi akan memakai istilah ‘lebih sopan’ jika berkata atau menyindir seseorang. Hal itu ia lakukan agar orang yang ia sindir tidak tersinggung.

“Biasa saja” jawab Nanda akhirnya.

Sisi menarik lengan pria asing yang sedari tadi berdiri di sampingnya dan membelakangi kami. “Oya kenalkan, ini suamiku, Roger”

Nanda bersalaman dengan pria asing yang Sisi perkenalkan sebagai suaminya. Pria itu sangat tinggi dan sudah agak tua, terlihat rambut coklatnya sudah mulai memutih. Nanda agak aneh melihat Sisi yang mungil berdiri disebelah pria itu. Mereka seperti Ayah dan anak.

“Oya, sama siapa tadi datangnya? Sendiri?” tanya Sisi

“Sendiri” jawab Nanda dengan tersenyum kaku.

Sisi mengangguk-angguk mengerti. Terlihat senyumnya berubah menjadi senyum sedih. Nanda tertawa kecil menatap Sisi, walau dalam hatinya ia merasa sedih. Semenjak harus berjuang hidup sendiri, ia menjadi workholic. Bahkan pada awalnya ia sampai bekerja 2 pekerjaan sekaligus dalam 1 waktu. Sehingga hampir semua waktunya terbuang untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Nanda mengedarkan pandangan untuk mencari wajah-wajah yang mungkin kukenal, saat ia menoleh kearah belakang, ia melihat Dion. Dion sedang berdiri menatapnya. Nanda tersenyum malu membalas tatapannya.

Ah, Dion memabalas senyumanku. Apakah ia masih mengenalku?

“Hei itu pengantinnya sudah datang” ucap Sisi membuat Nanda berpaling dari tatapan Dion.

Nanda mengikuti langkah Sisi menuju ketengah ballroom yang ditata mewah untuk melihat lebih jelas pengantin yang berbahagia malam itu. Setelah merasa cukup dekat dan pandangan kearah pengantin tidak terhalangi seorangpun, Nanda berhenti dan mulai mengagumi kecantikan Wulan dalam kebaya berwarna kuning muda.

Nanda merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Saat ia menoleh, ternyata Dion.

“Haloo ” sapa Dion pelan

Nanda sedikit tidak mempercayai pendengarannya. Dion menyapanya? Tapi ia mencoba tersenyum sewajar mungkin dan tidak terlihat gugup dihadapan pria itu.

“Hai,on. Apa kabar?” ucap Nanda sambil mengulurkan tangannya

“Baik” jawab Dion gugup dan menjabat erat tangan Nanda.

“Sendiri?” tanya Nanda

“iya” jawab Dion sambil tertawa pelan

Suara gending Jawa membuat Nanda dan Dion kembali menatap iring-iringan pengantin. Nanda menoleh dan melihat Dion sedang menatap lurus tidak berkedip. Nanda tersenyum geli

Dugaanku benar, ia masih belum bisa melupakan Wulan. Kasihan Dion. Ia harus mengaku kalah karena Wulan lebih memilih Teddy dibandingkan dirinya.

“cemburu ya?” bisik Nanda menggoda Dion “Tidak nyangka ya? Mereka akhirnya menikah juga”

Dion tidak menjawab. Dari ekor matanya, Nanda melihat Dion sedang menatapnya kaget. Nanda tersenyum lebar. Ada perasaan puas menggelora dalam hatinya.

“Maaf, anda ini siapa ya?” bisik Dion tepat ditelinga Nanda. Hal itu membuat nafas Nanda tertahan dan jantungnya berdegup kencang.

Nanda menoleh kaget dan menyadari sangat dekat jarak wajahnya dengan wajah Dion. Begitu dekatnya, hingga Nanda dapat merasakan tarikan nafas Dion di pipinya. Nanda mencoba bersikap sewajar mungkin.

Apa tadi dia bilang? Oya, dia tidak tahu siapa aku. Dia tidak mengenaliku!! Nanda tersenyum dan tertawa pelan. Ia tidak menjawab pertanyaan Dion.

Nanda bersiap-siap untuk berjalan menuju pelaminan, ketika MC mempersilahkan para tamu untuk mengucapkan doa restunya kepada kedua mempelai. Tapi, tiba-tiba tangan Dion telah mencengkram kuat lengan kiri Nanda hingga kesakitan.

“Sakit!” desis Nanda.

Seperti tersadar akan perbuatannya, Dion langsung melepaskan cengkramannya.

“A-a-a Maaf! Aku tidak bermaksud…” ucap Dion tersadar dari luapan kemarahannya

Nanda berbalik dan langsung meninggalkannya.

Untung Wulan menolaknya mentah-mentah saat itu. Meskipun dia gagah, tampan, jenius, tapi ternyata ia punya prilaku sekasar itu. Aku merasa kasihan kepada wanita yang akan mendampinginya nanti. pikir Nanda sambil terus memegang tangan kirinya yang memerah

***

As_3d

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s