Dionanda #8 : Undangan Makan Malam

“Papa Jojon!!” Lira berlari menyambut Dion ketika pria itu masuk ke gerbang TK keponakannya.

Wajah Dion merengut. Ia tidak suka jika keponakannya itu memanggilnya dengan sebutan “Papa”. Menurut Dion, kesannya dia sudah tua karena sudah punya anak sebesar Lira. Tapi Dion tidak tega memarahi Lira jika gadis mungil itu menjawab “Khan Lira jarang ketemu Papa… jadi om, papa Lira yang kedua ”

Dion memang harus memaklumi. Rama, Ayah Lira memang orang tersibuk. Rama adalah salah satu dokter bedah jantung yang bertangan dingin di Jakarta. Pasien-pasiennya puluhan dan ia menjadi dokter spesialis jantung termuda yang banyak direkomendasikan orang-orang.
More

Advertisements

Dionanda #7 : Lembaran Baru Nanda

Nanda memasuki ruang Balai Sudirman dengan rasa penuh percaya diri. Rasa yang nyaris hilang dari relung dadanya selama ini. Nanda menghembuskan nafas panjang sebelum ia menaiki tangga masuk Balai Prajurit.

Malam ini ia memakai gaun terbagus yang kupunya, sebuah gaun malam berwarna hijau tosca lengan panjang dengan kerah tinggi berbahan wool berwarna biru gelap. Dibagian sisi kanan gaun, terdapat bordiran benang emas bunga-bunga kecil.

Selama ini Nanda menyimpan rapih baju-baju mahal yang selamat dari kebakaran, sehingga ia masih dapat memakainya sewaktu-waktu jika ada undangan seperti malam itu. Nanda menyadari bahwa dengan penghasilanku saat itu, adalah hal yang mustahil untuk dapat membeli baju-baju seperti yang ia pakai malam itu.

“NANDA !!!” teriakan seorang wanita membuatnya menoleh dari buku tamu.
More

Dionanda #6: Rasa Awal

Nanda tertawa kecil membaca nama yang tercetak di undangan merah itu. Wulan dan Teddy. Sekilas ia mengingat kejadian ketika dirinya menggoda Wulan, salah satu sahabatnya saat kuliah, yang lebih menyukai Teddy, seorang pemuda desa miskin, daripada Dion, senior genius dari fakultas tekhnik.

Saat itu Wulan pernah berkata kepadanya. Awalnya Nanda mengira itu hanya ucapan naif Wulan semata, tapi kata-kata Wulan tak pernah Nanda lupakan.

“Untuk apa uang yang banyak dan otak yang sangat cerdas jika tidak mempunyai prilaku yang baik?”

Nanda tersenyum dan menatap undangan itu nanar.

***

More

Dionanda #5: Arti sebuah Status

“Sakiit!!!”

Dion masih mengingat jelas ekspresi kesakitan di wajah wanita itu. Ia kesakitan oleh cengkraman tangan Dion di lengan kirinya.Wajah cantik wanita itu berubah menjadi sangat pucat.

Dion sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti wanita itu. Ia hanya ingin menghentikan langkah wanita muda itu, dan meminta penjelasan siapakah dirinya sebenarnya hingga mengetahui hubungannya dengan Wulan.

“Wina…” Desis Dion

Wajah wanita itu ketika menatapnya marah terus membayangi ingatan Dion. Wanita itu tidak berkata apapun meski Dion telah meminta maaf dengan tulus karena refleks mencengkram tangannya.
More

Dionanda #4 : Masa Lalu Nanda

“Sore, Mbak Nanda” sapa Mang Bejo, seorang supir angkot setengah baya ketika Nanda melewati rumah kontrakannya, memecahkan lamunan singkat wanita muda itu.

“Baru pulang?” ucapnya Mang Bejo basa basi.

Nanda mengangguk pelan dan tersenyum sekedarnya.

“Iya, mang. Macetnya nggak ketulungan” jawab Nanda sambil mempercepat langkahnya menuju rumah kecilnya. Ia bukannya tidak menyukai tetangganya itu, tapi karena ia membenci basa basi dan migren di kepalanya kambuh lagi.
More

Previous Older Entries