Dionanda #4 : Masa Lalu Nanda

“Sore, Mbak Nanda” sapa Mang Bejo, seorang supir angkot setengah baya ketika Nanda melewati rumah kontrakannya, memecahkan lamunan singkat wanita muda itu.

“Baru pulang?” ucapnya Mang Bejo basa basi.

Nanda mengangguk pelan dan tersenyum sekedarnya.

“Iya, mang. Macetnya nggak ketulungan” jawab Nanda sambil mempercepat langkahnya menuju rumah kecilnya. Ia bukannya tidak menyukai tetangganya itu, tapi karena ia membenci basa basi dan migren di kepalanya kambuh lagi.

Nanda membuka pintu rumah yang telah ia tempati selama hampir 6 tahun terakhir. Rumah tersebut jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan dengan rumah keluarganya dahulu yang habis terbakar 8 tahun silam.

Nanda tidak pernah menyangka, bahkan terlintas untuk memikirkan bahwa dirinya bisa tetap bertahan dalam hidup yang 180 derajat berbeda seperti sekarang.

Ia dilahirkan di keluarga yang cukup berada dan cukup dikenal oleh masyarakat banyak karena status para anggota keluarganya. Nenek Nanda merupakan salah satu sepupu keluarga kesultanan Solo, Ayahnya merupakan pejabat terhormat dan pernah menjadi anggota MPR, sedang Bundanya merupakan designer terkenal semenjak ia belum menikahi Ayahnya.

Sejak kecil Nanda dilimpahi kemewahan dan keinginan yang tidak terbatas. Mungkin ini disebabkan perbedaan umur antara dirinya dan kakaknya yang cukup jauh, 10 tahun, sehingga dirinya merupakan anak emas, paling disayang dan dimanja oleh semua anggota keluarga besarnya.

Tragedi itu dimulai ketika seseorang memfitnah Ayahnya Nanda melakukan tindakan korupsi, tidak tanggung-tanggung, 10 Milyar Rupiah. Ayahnya di jebloskan ke penjara. Usaha hukum untuk membela Ayah terus dilakukan semenjak Ayah kalah di pengadilan dan dijatuhui hukuman 18 tahun penjara. Hingga sampai ke tahap MA, Ayah masih tidak mendapatkan keringanan sedikit pun.

Setelah tidak ada harapan bebas lagi, orang-orang yang mengaku sebagai pegawai pemerintahan mulai menyita barang-barang yang ada di rumahnya, sehingga hampir semua aset yang dimiliki keluarga Nanda disita oleh pemerintah.

Hanya tinggal rumah warisan keluarga yang telah Nanda tempati semejak ia masih bayi yang tidak diambil oleh orang-orang tersebut. Rumah besar nan mewah itu menjadi kosong melompong dengan sedikitnya barang yang tersisa.

Daud, kakak Nanda yang sekolah S2 dan tinggal di Amerika Serikat bersama keluarganya memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Ia percaya Ayahnya melakukan semua yang dituduhkan kepadanya dan Daud merasa malu karenanya.

Ia mengatakan kepada Bundanya bahwa ia akan membantu keuangan keluarga dengan rutin mengirimkan uang dari Amerika. Bundanya kecewa dengan sikap anak tertuanya, maka ia pun menolak bantuan anaknya dan mengatakan bahwa ia masih bisa mencari uang sendiri dan tidak membutuhkan uang dari Daud.

Mengetahui tindakan anak pertamanya, Ayahnya menjadi depresi berat. Tidak kuat akan semua beban cobaan itu. Ayahnya merasa telah mencoreng nama baik keluarga dan membuat anak sulungnya malu terhadapnya. Lelaki setengah baya itu memutuskan untuk menggantung dirinya sebulan setelah keputusan kasasi dibacakan. Istrinya shock mendengar kematian suaminya, tiba-tiba mengalami serangan jantung akut. Ia menghembuskan nafas terakhirnya 3 hari setelah suaminya.

Dalam waktu kurang dari seminggu, Nanda telah menjadi seorang yatim piatu. Dan cobaan untuknya belumlah berakhir. Sekitar seminggu setelah meninggalnya Bundanya, ada beberapa orang yang menyiram rumah Nanda dengan bensin dan membakarnya. Rumah besar yang diperkirakan harganya sekitar 3M itu pun habis dilahap api dalam waktu kurang dari sejam.

Nanda hanya bisa terdiam meliha itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak punya apa-apa, Yatim piatu, tidak punya rumah, tidak mempunyai uang, dan mempunyai kakak yang tidak lagi mau berurusan dengannya lagi. Bahkan ketika tahu rumahnya terbakar, Daud hanya menelpon Nanda dan mengatakan agar adiknya harus lebih bersabar, tanpa sedikitpun menyinggung bantuan moril ataupun psikis.

Nanda menatap bayangan dirinya di sebuah cermin panjang yang tergantung di kamarnya.

Aku pucat sekali… Pikirnya sedih sambil meraba wajahnya.

Dulu aku dikenal sebagai miss Matching karena tidak akan pernah lupa dandan sebelum keluar dari rumah, dan selalu berpakaian yang selalu serasi dan senada dari ujung rambut hingga kaki. Sekarang boro-boro beli kosmetik ataupun baju yang bisa diserasikan setiap hari, untuk membayar listrik dan telpon saja kadang-kadang aku harus puasa.</I>

Nanda teringat ketika ia masih kuliah dahulu. Kuliah yang akhirnya harus ia tinggalkan, karena ia sudah tidak punya biaya untuk membayar uang kuliahnya. Saat itu ia termasuk dari empat bunga kampus yang dikejar oleh banyak pria. Mulai dari para mahasiswa pria hingga dosen muda.Nanda tidak pernah sedikitpun memperhatikan para penggemarnya saat itu. Ia merasa terlalu cantik untuk bisa berdampingan dengan mereka.

Sedangkan saat ini, untuk bisa menarik perhatian seorang pria adalah hal terakhir yang ada di benaknya. Hasratnya untuk mencintai dan dicintai telah hilang seiring dengan semua tragedi dan perjuangan hidup yang harus ia jalani selama lebih dari 7 tahun terakhir.

Sebuah ketukan di pintu rumahnya memecahkan lamunan Nanda. Ia segera membuka pintu dan melihat Bu Agus, salah satu tetangganya.

“Ya bu, ada apa ya?”

“Ini Mbak Nanda, ada undangan pernikahan yang nyasar ke rumah saya” Bu Agus menyerahkan undangan berwarna merah tua.

“Terima kasih”

Nanda menutup pintu dan membaca pelan undangan yang dikirimkan untuk Winanda Prawirahardaya

***

As_3d

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s