Tiga Sisi

NANA

Pacaran yuk!

Aku melotot memandang tulisan di messenger dihadapanku. Pria yang baru kukenal satu bulan itu menembakku secara online.

Yakin? tulisku. Kurasakan jantungku berdebar-debar. Aduh. Koq jadi begini sih? Seharusnya kan tidak seperti ini

Pria itu mengeluarkan emoticon tertawa guling-guling. Puih. Dia hanya bercanda. Dia memang suka begitu. Suka mempermainkan hatiku saja. Entah apa jadinya jika aku beneran pacaran sama dia. Bisa shock semua orang.

Kalo gitu, nikah aja yuk! Besok aku kerumahmu ngelamar kamu langsung. Gimana? tulisnya.

Aku terpaku sambil membaca tulisan di messenger itu berulang-ulang. Dia becanda kan? Kurasakan handphoneku bergetar. No Yoyo, pria itu, tertulis di panggilan masuk.

“Ya?”

“Besok aku dateng ya, Na”

“He? Lo serius?”

Yoyo tertawa diseberang sana. “Ya serius lah. Ngapain aku boong sama kekasih hatiku”

“Gombal!!”

Yoyo tertawa, ia mendehem dan nada suaranya pun berubah menjadi serius “Gapapa kan kalo aku dateng besok ngelamar kamu?”

Jantungku berdetak semakin cepat mendengarnya.

“Orang gila” desisku kemudian.

***

DEDE

Pria itu terus memperhatikanku. Aku semakin tidak bisa konsentrasi menghabiskan makan siangku. “Habiskan makanannya dong” ucapku sambil terus menunduk.

Kulihat ia melirik piring yang masih berisi nasi dan lauk dihadapannya. “Lebih enak melihat kamu daripada makan makanan ini” ucapnya.

Ah dasar gombal. Semua pria sama. Gombal semua. Wajahku pasti memerah karena gombalannya ini. Duh, aku semakin tidak bisa konsentrasi makan kalo ditatap terus-terusan seperti ini.

“Aduh tolong dong jangan terus menatapku. Aku jadi ngga tenang nih makan” rengekku manja

Dia tertawa lepas. Kemudian ia mengambil sesuatu dari saku celananya. Handphonenya. Ia melihat sekilas, lalu mematikan panggilan telepon dari handphone itu.

“Kenapa tidak diangkat?” tanyaku

Ia tersenyum “karena aku lebih suka melihat wajahmu dibandingkan menerima telepon ini”

“dasar gombal! Sudah berapa orang yang kamu buat ga tenang makan seperti ini?”

Dia mengelus-elus dagunya. Memilin-milin jenggot sehelainya. “Cuma kamu”

“Masa?”

***

FIFI

Sekilas aku mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Tak lama terdengar suara salam dari arah ruang depan. Ada tamu sepertinya. Aku masih sibuk dengan semua masakan, hingga aku berteriak memanggil adik semata wayangku.

Gadis berjilbab itu turun dengan pakaian komplit. Aku terkadang heran melihatnya yang begitu ketakutan tubuhnya dilihat oleh orang lain. Tak lama aku mendengar suara cekikikan dari arah depan. Sepertinya orang yang datang itu tamu adikku.

Aku mengintip dari sela-sela dapur untuk melihat tamu itu. Wajahnya tidak terlihat, ia membelakangiku. Tapi satu hal yang pasti, dia pria. Jarang-jarang adikku kedatangan tamu pria. Apa ini artinya adikku itu sudah punya pacar? Wah aku tidak rela dilangkahi.

Aku mulai membuat minum untuk tamu itu. Kira-kira apa ya sajian yang cocok? Racun? Ah jahat sekali, masa karena adikku kedatangan tamu pria, trus aku cemburu oleh kemesraan adikku dengan tamunya? Kuambil sirup yang belum dibuka oleh-oleh dari Mama ketika dinas di cirebon.

Aku menaruh dua gelas minuman berisi sirup diatas baki, dan mengantarnya kedepan. Semakin dekat menuju ruang tamu, aku merasa mengenal suara dari pria yang diajak bicara adikku, Nana. Betapa kagetnya ketika aku melihat pria itu dihadapanku.

“Yoyo? Kamu?” Aku terpaku sambil menatap pria itu dan adikku bergantian.

Yoyo spontan berdiri dan menatapku kaget. Nana juga ikut berdiri dan memperhatikan kami.

“Kalian sudah saling kenal?” ucap Nana “Kalian kenal dimana?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Nana. Cepat-cepat aku menaruh baki di meja tamu dan berlalu pergi menuju kamarku. Ya Tuhan… Kenapa dari begitu banyak wanita di Jakarta, atau bahkan di Indonesia, Yoyo harus memilih adikku Nana? Ya Tuhan…

***

Sementara itu…

“Kamu pernah pacaran atau pernah punya masalah sama kakakku?” Nana menatap tajam Yoyo sambil melipat tangan di dadanya ketika melihat Fifi berlari masuk kedalam rumah.

Yoyo speechless. Masih berusaha menyadarkan diri dari kekagetannya.

“Bukan” ucap Yoyo pelan. Ia kembali duduk dan menatap ubin rumah Nana dengan nanar.

“Lalu?” ucap Nana tidak sabar. Ia kembali duduk di samping Yoyo

“Fifi itu teman sma ku” ucap Yoyo sambil melamun

“Lalu? Kalian pernah berhubungan? Pacaran? Ayo dong jelasin!!” Nana memekik tertahan. Ia berusaha untuk tidak teriak-teriak.

Yoyo menghela nafas. Punggungnya semakin membungkuk hingga seperti udang. “Fifi itu adalah…”

Seorang wanita setengah baya masuk kedalam rumah. Wanita itu langsung kaget melihat sosok pria muda dihadapannya.

“Ngapain kamu kesini?” teriak wanita itu histeris “Darimana kamu tahu rumahku?”

“Mama kenal Yoyo juga?” tanya Nana bingung. Ia menatap bergantian mamanya dan Yoyo.

“Kamu juga kenal dia, dek?”

Nana mengangguk pelan. “Kak Fifi juga”

“APA?” histeris wanita itu lagi. “Beraninya kamu!!!” Wanita itu mendekati Yoyo dan siap untuk melemparkan tas besarnya kearah pria muda itu, tapi tangannya dipengang oleh suaminya.

“Mama, apa-apaan sih? Malu teriak-teriak sore-sore begini. Nanti apa kata tetangga?” ucap suaminya dengan nada tertahan.

Wanita itu mengendus kesal. “Ini semua gara-gara kamu, tahu ngga?”

Suaminya menghela nafas dan menatap Yoyo sedih. Yoyo pun juga semakin duduk membungkuk bagaikan udang. Nana semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Ma, Pa, ada apa ini? Yoyo, coba jelaskan. Kenapa kalian bisa saling mengenal, tetapi aku sedikitpun tidak tahu hal ini?”

“Nana, kamu tahu tidak siapa pria ini?” tanya mamanya.

Nana membalas dengan gelengan pelan.

“Dia pacar Dede Suparman, Ayahmu!!”

***

As_3d
10 August 2010

*Kali ini repost dari facebook lain, 7 tahun lalu…*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s