I’m not A loser, i just a woman

“BOO!!!”

Kedua sahabatku menoleh kaget menatapku. Aku suka sekali melihat ekspresi kaget mereka.

“ULI!!!” teriak Ayu sambil melotot menatapku “Berhenti melakukan hal itu!!!”

“Apa?” ucapku pura-pura tidak tahu

Ayu menggeleng-gelengkan kepala “Sudahlah!! Lo kaya hantu aja”

“Akuu… Seperti hantu…” ucapku menirukan Once menyanyikan lagu hantu nya Dewa

Intan menatapku sambil tersenyum dan ikut mengeleng-geleng seperti Ayu. Seperti biasa Intan tidak banyak berkomentar. Aku tahu pasti ia kaget melihat kehadiranku yang tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka.

Aku sedikit mendorong Ayu kesamping sehingga aku berada diantara kedua sahabatku. Ayu menatapku sinis, ia mau protes karena tindakanku itu, tapi aku langsung memotong nafasnya. “Guys, ada midnight sale di Debenhams!!!”

***

Aku benci kekalahan! Aku harus menang, Dan pasti aku akan menang!

Itu adalah prinsipku. Mungkin hal ini karena aku dilahirkan sebagai anak tunggal, dan menjadi cucu pertama dari keluarga besarku. Semenjak kecil aku selalu tidak pernah mau kalah, dan akupun selalu menang. Walaupun begitu, kedua orang tuaku selalu mendidikku keras. Jadi walau aku keras kepala dan egoistic, tapi aku mampu membuktikan kepada dunia aku wanita muda mandiri.

Aku benci kekalahan. Oleh karena itu, aku tak pernah membahas kekalahanku kepada orang lain. Karena aku harus seperti orang sempurna dihadapan siapapun. Aku harus menjadi pemenang dihadapan siapapun. Termasuk kedua orang tuaku.

Dan kali ini aku kalah. Kalah oleh cinta. Dan aku membenci semua ini!!!

“Yang, bisa cepetan ga makannya?” sebuah ucapan yang nyaris seperti bentakan itu memecahkan lamunan singkatku.

Aku menatap pria berkacamata dihadapanku. Pria yang kucintai sekaligus pria yang kubenci saat ini.

“Iya sayang” ucapku perlahan “Maagku kambuh. Jadi tidak bisa makan cepet-cepet”

“Arhhh!! Alasan!! Gw harus ke tempat Jody nih. Klo lo masih lama gw tinggal aja ya”

Ia mulai memakai kata gw-lo. Hatiku sakit mendengarnya. Ia mulai menganggapku bukan siapa-siapanya dia.

Aku cepat-cepat memakan sisa makananku demi menuruti dirinya. Cepat-cepat pula aku menghabiskan es teh manis disamping piring gado-gadoku. Ketika semua sudah selesai, akupun melihat dirinya yang sedang merokok sambil memainkan hapenya.

“Sudah?” ucapnya sinis sambil menatap piring dihadapanku “Kamu makan kaya babi”

Harga diriku langsung jatuh. Aku kalah telak dihadapannya. Dan aku tidak bisa berkata apa-apa.

***

Pikiranku terfokus oleh satu hal. BELANJA!! Entahlah belanja menjadi bagian terpenting dalam hidupku semenjak diriku mempunyai penghasilan sendiri. Aku menyukai belanja, dan aku mencintai SALE!

“Li, R u alright?” tanya Intan ketika ku sedang mengamati beberapa sepatu yang kuincar di Debenhams.

“Iya. Kenapa memangnya?”

“Wajah lo pucat banget. Sakit?”

“I’m on diet” jawabku berbohong sambil tertawa lepas. Lebih tepatnya berusaha tertawa senatural mungkin.

“Ah! Lo mah ngga usah diet kali. Badan lo udah kurus juga”

“Kan belum nyamain tubuh Intan yang turun 10kg”

Intan tertawa “Gw ini kurus karena stress kerja”

“Klo aku kurus biar keliatan seksih” ucapku sambil memonyongkan bibirku

Intan tertawa lagi. Aku suka sekali melihat orang lain tertawa karena ulahku. Setidaknya tawa mereka adalah pengobat rasa sakit yang ada dihatiku ini. Mereka tidak boleh tahu aku sakit. Mereka harus tahu aku itu baik-baik saja.

Aku harus menyembunyikan fakta bahwa saat itu keadaanku sedang hancur. Sedang berada di titik terbawah dari kondisiku. Aku diinjak-injak. Aku dihina. Aku kalah.

***

Aku dibangunkan pagi itu oleh dering lagu yang memang sengaja kusetting untuk menandakan telp darinya. Aku tersenyum membuka mataku. Ia selalu baik hati membangunkanku ketika adzan subuh menyapa pagi. Belum sempat aku menyapanya, ia langsung berkata sinis

“Aku sudah tidak tahan denganmu”

Mataku langsung terbuka lebar, semua kantukku hilang dan aku langsung bangkit duduk dari tidurku. Ada apa ini?

“Kukira lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini” ucapnya lagi

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokanku tercekat. Nafasku tertahan. Pikiranku kosong. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

“Jangan hubungi aku lagi. Selamat tinggal” Ia pun mengakhiri telp nya.

Aku tetap terdiam. Mematung tanpa tahu harus berkata apa. Tak berapa lama suara dering handphoneku berbunyi. Deringnya berbeda. Bukan dari dirinya.

“ULI!!!” Teriakan wanita dari seberang sana hampir memecahkan gendang telingaku.

“Udah siap semua kan? Gw mau ingetin ntar gw jemput lo jam 5 ya” ucap Reni penuh antusias.

Kami akan berliburan selama seminggu di Osaka, Jepang. Liburan yang telah direncanakan oleh Reni, Intan dan diriku selama dua tahun. Liburan ke luar negeriku untuk pertama kalinya.

Aku tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum. Aku tidak boleh terdengar sedih ditelinga sahabatku itu. Karena jika aku cemberut, secara tidak langsung, Reni bisa mengetahuinya dari nada suaraku yang berubah sedih.

“Siap!!” jawabku “Jam setengah lima, Insya Allah gw udah siap nunggu dijemput jeung Reni menuju Sukarno Hatta”

“kita akan ke bali dulu!!!” Terdengar tawa Reni diujung sana

“Iyee mampir doang sejam cuma buat foto-foto di Ngurah Rai” jawabku sinis

Reni tertawa lagi “Jangan gitu lo!! itu si Ayu belum pernah ke Bali”

Aku tertawa, berusaha tertawa lepas.

“Li, gw dipanggil ma nyokap gw. Kayaknya urusan koper. Jangan lupa ya jam 5 sore gw jemput”

“Iye”

“Siiip!! Dach”

Aku meletakkan handphoneku ke buffet samping tempat tidurku. Nafasku tiba-tiba sesak, dadaku sakit, dan tanpa menunggu lama air mata pecah dari pelupuk mataku.

Aku menutup wajahku. Kenapa hal ini harus terjadi disaat aku seharusnya berbahagia? Apa salahku? Mengapa ini harus terjadi? Mengapa Tuhan?

***

“Yang, aku mau menjadi bajingan” ucap Bowo ketika aku sedang duduk menonton dvd bajakan bersamanya, hanya berdua saja, di rumahnya.

Aku menoleh dan menatapnya penuh canda. “Mau jadi Kaya di film-film? jadi penjual narkoba?”

Ia menggeleng. “Aku mau menidurimu”

Kaget. Aku mematung. Dia sudah gila. Refleks aku menjauhkan tubuhku dari tubuhnya.

“Ga lucu!!!” bentakku

Ia menegakkan punggungnya. “Aku ngga becanda”

Aku menatap mata dibalik kacamata minus itu. Mencari kejujuran. Mata tajam itu malah seolah menantangku apakah aku bisa mendapatkan kejujuran itu darinya.

“Aku mau pulang!”

Aku berdiri, menunggu responnya untuk bangkit berdiri dan mengantarku pulang. Tapi Bowo kembali menjatuhkan dirinya di karpet dan tidur-tiduran.

“Silahkan” ucapnya malas-malasan.

Lagi-lagi aku mematung. Terdiam bagai orang bodoh. Sementara pria yang kucintai tetap tidak bergerak dari tidurnya. Aku menghentakkan kaki dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu rumah Bowo.

“Uli…” tiba-tiba Bowo memanggilku.

Aku berhenti melangkah tapi tidak membalikkan badan. Menunggu ia mengatakan sesuatu.

“Kalo pun lo mau ML ma gw, gw akan menolak lo koq. Badan lo terlalu berat buat gw” ucapnya sambil tertawa lepas

Aku sudah tidak tahan mendengar tawanya. Aku menutup pintu rumah itu dengan membanting sekencang-kencangnya dan setengah berlari menuju tempat mangkal angkot. Tak terasa air mataku sudah mengalir deras.

***

Aku membencinya!!!
Aku Marah kepadanya, sangat marah.
Tapi aku pun merindukannya.
Merindukan dering telponnya.
Merindukan ucapan sayangnya.
Bahkan merindukan ungkapan kasarnya.

Aku tersiksa oleh semua ini. Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa makan dan akupun mulai kehilangan konsentrasi. Semua karena dia. Karena dirinya telah memutuskan untuk hilang dari sisiku. Ia membuatku menderita!!

Tunggu!
Jika ia tahu aku menderita karenanya, maka ia akan tertawa. Ia bisa membuktikan kepada dunia aku pecundang. Well, I’m Not!! Aku tidak boleh kalah kali ini. Aku harus kuat. Aku bisa melanjutkan hidupku tanpa dia. Tanpa manusia tidak punya perasaan itu. Aku harus bisa.

“Uli” suara halus Ayu dari balik pintu kamar hotel Toyo di Osaka memecahkan lamunan singkatku. Aku menampar wajahku yang hampir mengeluarkan air mata. Aku tidak boleh menangis.

“Ya? Ada Apa?” ucapku sambil pura-pura sibuk membaca koran berbahasa jepang yang dikit-dikit kumengerti apa artinya.

“Boleh curhat?”

Gosh!! Ngga di Jakarta, ngga di Osaka. Semua orang membutuhkan nasehatku. Apa mereka kira aku tempat penampungan curhat? Well… Aku harus bersikap seperti biasa. Aku tidak boleh sedikitpun memperlihatkan permasalahanku.

“Ada apa yu?”

“Aku patah hati. Pria itu memutuskan untuk menikahi tunangannya dibandingkan memilih diriku”

Gosh!! Kenapa aku harus mendengarkan rintihan ini? Aku menghela nafas. Aku harus bisa. Tidak ada yang boleh tahu kesedihanku. Mereka harus tahu akulah pemenang dari situasi ini bukan pecundang!

Aku bangkit dari dudukku dan memeluk Ayu. Ayu akhirnya nangis dipelukanku dan dengan terisak-isak menceritakan semua keluh kesahnya. Aku bukanlah orang yang gampang menangis ketika ada orang yang menangis dihadapanku. Jadi ekspresiku tetap datar walau tanganku mengelus pelan rambut Ayu menenangkan dirinya.

Entah apa sebenarnya keluhan Ayu, aku tak begitu menyimak. Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri. Lamunan membayangkan masa-masa indah nan singkat ketika bersama Bowo. Aku ingin kembali ke masa itu. Tapi aku tidak boleh berharap. Ia sudah terlalu dalam menyakiti hatiku.

***

Pria itu bodoh!! Semua pria bodoh!! Oh salah, tidak semua pria, maksudku pria-pria yang pernah bersamaku itu bodoh. Mereka itu sungguh menyesal kehilangan diriku. Aku jamin itu. Begitupun dengan Bowo. Aku yakin dia akan memohon-mohon sampai berlutut memintaku kembali kepadanya. Dan dugaanku tepat.

“Hai Sayang” Tidak ada angin, tidak ada hujan, Bowo datang ke kantorku. “Apa kabar, yang?” ucapnya dengan sok mesra

Aku menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Antara percaya dan tidak percaya. Satu bulan yang lalu dia memutuskan diriku hanya lewat telpon di pagi subuh buta, membuat rusak perasaan kegembiraan yang seharusnya kudapatkan dari liburanku, tidak pernah sekalipun mengangkat telpon ataupun membalas smsku yang menanyakan apa alasannya memutuskanku, dan sekarang berdiri dihadapanku lengkap dengan sebuket mawar putih.

“Baik” jawabku “Ada apa lagi?”

Ia menyodorkan buket bunga dan dengan terpaksa aku menerimanya. Aku bukanlah wanita yang mudah terbujuk rayu hanya dengan sebuket mawar putih.

“Kangen sama kamu. Boleh kan aku mengantarmu pulang malam ini?”

Pria bodoh! Maksudnya apa ini? Setelah luka yang ia torehkan bukannya minta maaf tapi malah bersikap tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kita. Aku menghela nafas pelan dan menunduk. Tapi aku masih mencintainya, DAMN!!!

Aku mengangguk pelan. Tidak bisa berkata apa-apa. Hari ini badanku terasa sangat capek, ada untungnya jika ia mau mengantarku pulang dengan motor besarnya itu. Aku mengikuti langkahnya dari belakang menuju motor mahalnya itu. Mungkin bukan dia yang bodoh, tapi aku yang bodoh mau menerima dirinya.

As_3d

Repost cerita yang harusnya bersambung, tapi lupa kuteruskan. hahahha….

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s