Green February

“Kamu suka sama aku?”
“Iya”
“Masa?”
“Iya”
“Tapi aku udah punya pacar”
“Sapa?”
“itu yang pake baju biru”
“Kamu jahat!!”

Aku tertawa mengingat sepenggal kisah itu. Kisah dua anak tk yang polos. Belum tahu apa itu cinta sebenarnya. Aku menghela nafas. Aku harus melepaskan kenangan itu. Kenangan bisa bertemu dirinya. Ah, tidak lucu bukan masa masih cinta dengan kakak kelasku ketika masih jaman tk. Aku saja sudah lupa bagaimana wajahnya dahulu.

***

“Desya”

Tangannya masih tetap memegang tanganku. Matanya yang menatapku tajam seakan mengunci mataku agar tidak berpaling dari tatapannya.

“Gw Garin. Lo, udah punya pacar?” tanyanya

Aku tersenyum mengangguk. Berbohong.

Beberapa suara dibelakang kami langsung meneriakkan kata “huu” dan “kasihan” kepada pria bernama Garin dihadapanku. Perlahan ia akhirnya melepaskan tanganku. Garin berbalik meninggalkanku, ia kembali ke teman-temannya dan membalas ejekan mereka dengan candaan lain.

Satu hal yang kudapat dari perkenalan singkat kami. Wajahnya tampak tidak asing.

***

“Gw mau buat pengakuan, pi” ucapku disela-sela acara makan malam bersama beberapa sahabat baruku. Pria yang kupanggil Papi menoleh dan menatapku

“Apa?”

“Aku sebenernya suka ma salah seorang sahabat papi” ucapku penuh senyum

“He?” Pria itu menatap tidak percaya kepadaku. “Sapa? Garin?”

Aku berusaha tertawa lepas. Tawa kamuflase menutupi kekagetanku atas tebakan tepat pria mungil itu.

“Koq bisa sih suka ma si gendut itu?” ucapnya lagi

Aku masih berusaha tertawa selepas mungkin. “Papi cemburu yaaa?”

“Dih, buat apa cemburu ma lo?” Pria yang bernama Remy itu memutar bola matanya. Kesal. Ia kembali menikmati santapan nasi gorengnya yang terganggu oleh pengakuanku.

“Aku hanya menyarankan, Jahui dia. Jangan sampai kamu dipecat dari pekerjaan ini karena terlibat percintaan dengannya”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Remy

***

“Hei!!!” sebuah tepukan menganggetkan lamunan singkatku

Aku menoleh dan menatap Garin sudah berada dibelakangku.

“Hei” sapaku ramah “Darimana?”

“Dari tempat klien. Lo sendirian aja? Mana Remy?”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Dia sepertinya sibuk dengan tugas dari manager”

Garin mengangguk-angguk. “Oya, Des smu lo dimana?”

“Kenapa? gw ngga sekolah di Jakarta”

“Sama. gw juga ngga. Gw ngikut bonyok ke inggris dari smp”

Aku berusaha setia mendengarkan. Entah apa maksud dari basa-basi Garin kepadaku.

“SMU lo dimana?” ulang Garin

“Di Bandung. SMU 5 Bandung”

Garin tiba-tiba tertawa. “Pantes”

“Kenapa?” ucapku bingung atas tawanya.

“Wajahmu familiar. Pasti waktu di SMU, lo jadi anak paskib?”

Aku menelan ludah. “Koq tahu?”

“Gw adalah salah satu pelatih lo”

***

Pekerjaan ini adalah mimpiku. Pekerjaan ini memang penting bagi diriku dan keluargaku. Tapi, hidup adalah pilihan. Setiap kali aku harus mengalahkan salah satu egoku untuk bisa hidup.

Remy menatapku tajam. Aku hanya bisa tersenyum membalas tatapan marahnya.

“Ini tidak benar, Des” ucapnya tertahan.

“Maafkan aku Remy. Aku tahu, kamu kecewa”

“Sangat!!” ucap Remy menahan amarahnya.

“Maaf”

Remy menghela nafas. Ia tampak begitu mungil di kursi besarnya. Ia kemudian mengacak beberapa kertas dihadapan mejanya, mencari sesuatu. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, ia memberikan kertas itu kepadaku.

“Aku hanya bisa memberikan ini kepadamu” ucap Remy

Ditanganku, aku menerima sebuah surat rekomendasi pekerjaan dengan high qualification dari perusahaanku.

“Terima kasih, papi”

***

Bulan ini, bulan Februari. Bulan kelahiranku. Entah sudah beberapa lama aku tak pernah merayakan hari kelahiranku ini. Aku kangen dengan masa-masa ketika aku bisa bercengkrama dengan orang yang kusayang ketika aku ulang tahun. Tahun ini, aku harus mengakhiri pekerjaan impianku tepat di hari ulang tahunku.

Ketika aku kembali ke mejaku, sebuah bingkisan besar dengan kertas kado hijau, warna kesukaanku, berdiri tegak diatas meja kerjaku. Untuk Desya, begitu yang tertulis di kartu kecil putih diatas bingkisan itu. Tidak tertulis sapa nama pengirimnya.

Dengan sedikit berdebar, aku membuka bingkisan itu. Bingkisan itu berisi kotak besar. Aku mengambil sebuah figura dengan foto dua anak kecil didalamnya dari kotak. Salah satu anak kecil itu adalah diriku. Didalam kotak masih ada dua boneka Teddy bear yang memegang hati.

“Kamu suka?”

Aku menoleh dan menatap Garin telah berdiri dibelakangku.

“Ini darimu?” ucapku sambil berkaca-kaca menatap Garin.

Garin tersenyum dan memelukku erat

***

As_3d
Tangerang, February 07, 2010

*Again, repost 7 tahun lalu*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s