Dionanda #3 : Seorang Dion Anggono

Kubuka pintu gerbang rumah untuk memasukkan mobil, hasil tabunganku selama ini. Aku menarik nafas panjang memandang rumah yang telah kuhuni sejak aku duduk di bangku SD. Rumah itu merupakan rumah impian kedua orang tuaku. Tidak terlalu besar, ataupun kecil. Kuingat kata Ayah, setidaknya rumah ini muat jika nanti aku dan kakakku tinggal disana bersama keluarga kami masih-masing.

Aku tersenyum membayangkannya. Dunia memang memanjakanku. Sudah aku dilahirkan sempurna, tanpa cacat, keluargaku pun harmonis dan cukup mapan untuk kategori keluarga di Jakarta. Kehidupanku bisa dibilang nyaris tidak ada hambatan sama sekali.
Aku menyelesaikan semua jenjang sekolahku dengan predikat Juara, walaupun tidak semua mencapai juara umum. Dan ketika menyelesaikan sarjana Arsitektur di PTN terbaik di Indonesia, aku mendapat gelar “TERBAIK”, gelar yang tentunya tidak semua orang mendapatkannya. Kemudian aku pun langsung mendapatkan beasiswa untuk mengambil Master di Inggris. Dan dapat kuselelesaikan studiku itu dalam waktu singkat, 1,5 tahun.

Memasuki dunia kerja pun tidak begitu masalah buatku. Aku tidak perlu capek-capek melamar pekerjaan yang kuminati, hanya cukup mengangkat telepon atau mengecek surat-surat yang ditujukan kepadaku. Dengan keberuntungan itulah sekarang aku telah mempunyai tempat tinggal pribadi, walau masih berupa apartement, sebuah mobil pribadi dan kehidupan sebagai seorang arsitek muda yang sukses.

Mungkin ini disebabkan keinginanku membahagiakan Mama. Ayah meninggal ketika usiaku baru menginjak umur 17 tahun. Untunglah Ayah merupakan orang terhormat di kantornya, sehingga kami mendapatkan tunjangan kematian Ayah yang cukup besar jumlahnya.

Mama yang awalnya adalah Ibu rumah tangga biasa, menjadi seorang pengusaha makanan. Awalnya ia membuka catering kecil-kecilan yang menerima orderan dari sekitar kompleks perumahaan saja sampai akhirnya sekarang, sebuah restoran yang cukup sukses di bilangan Pondok Indah. Mama berjuang sekuat tenaga agar aku dan kakakku dapat lulus kuliah S1. Karena dalam di keluargaku pendidikan adalah yang paling utama.

Sore itu kusempatkan untuk berkunjung ke rumah Mama, yang juga dihuni oleh Mbak Dian, kakakku, bersama keluarga kecilnya untuk sementara sampai rumah mereka selesai dibangun. Aku jarang pulang ke rumah, karena rutinitas pekerjaanku yang kadang mengharuskanku pulang dini hari. Akhirnya sejak 2 tahun yang lalu aku memutuskan membeli sebuah apartment yang lebih dekat ke kantor. Selain dapat menghemat ongkos, juga bisa melatihku untuk hidup lebih mandiri.

***

“Gimana tadi? Ketemu dengan gurunya Lira?” Tanya Dian ketika Dion sedang tidur bermalas-malasan sambil membaca koran di sofa ruang keluarga.

Dion menghela nafas. Ia sebenarnya kecewa. Wanita anggun misterius yang ditemuinya di resepsinya Wulan, hanyalah seorang guru TK sederhana dan gurunya Lira. Ia menurunkan koran yang ia baca dan menatap wanita bertubuh tinggi besar itu

“Iya. ketemu”

“Cantik tidak?” Dian duduk di pinggir sofa yang Dion tiduri sambil sedikit menggeser tubuh Dion agar ia dapat duduk dengan nyaman.

“Iya… cantik” jawab Dion pura-pura cuek dan berusaha konsentrasi membaca koran.

Dian menurunkan koran dari pandangan Dion dan menatap adik semata wayangnya itu. Ia mencari jawaban kejujuran dari mata Dion, tak lama Dian tersenyum geli.

“Ternyata kau tidak mengenalinya ya?”

“Sapa?” tanya Dion bingung

“Ya gurunya Lira. Apa kamu tidak merasakan dia mirip dengan seseorang?” pancing Dian sambil menatap Dion penuh selidik.

“Nggak tahu. Bahkan aku merasa tidak pernah bertemu sebelumnya waktu bertemu dengannya pertama kali”

“Pertama kali? Berarti tadi siang itu bukan yang pertama?” tawa lepas Dian langsung pecah.

Dian tertawa sambil memegang perut 4 bulannya agar bayi-bayi didalamnya tidak terguncang akibat tawanya. Tanpa berkata-kata lebih lanjut, Dian bangkit meninggalkan Dion dengan penuh tanda tanya.

Dion tidak tahan dengan rasa penasaran itu. Ia mencoba untuk meminta penjelasan Dian tentang kemiripan Wina dengan seseorang, tapi sia-sia. Setiap kali Dion menyinggung hal itu, selalu ada senyum penuh arti di bibir kakaknya yang tetap tidak mau menceritakan apapun.

“Mengapa kamu tidak cari tahu sendiri siapakah dia”

“Caranya? setiap hari ke sekolahnya Lira? Nanti aku dikira ayahnya Lira lagi”

“Lalu kenapa? lagipula wajahmu dan Lira memang mirip bukan?” ucap Dian dengan menaikkan alisnya beberapa kali.

“Ga lucu, Mbak. Nanti apa kata Ibu-Ibu yang mengantar anaknya di TK nya Lira dan melihatku PDKT kepada salah satu guru. Terlebih lagi Lira kadang-kadang memanggilku dengan sebutan Papa Jojon. Bisa-bisa aku dikatakan Ayah yang tidak bertanggung jawab, selingkuh dengan guru anaknya sendiri”

Tawa Dian pun memecah membahana di penjuru rumah

***

As_3d

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s