Thanks God, I’m not Padang

“Aku benci wanita berhigh heels!!” Ucap dari pria dihadapanku yang lebih nyaris seperti makian daripada sebuah ucapan.

Aku yang saat itu sedang menunduk melihat menu restoran langsung menoleh dan menatap pria tersebut. Kaget akan ucapannya barusan.

“Mantanku sangat mencintai high heels. Kemana-mana pakai hak 9cm. Padahal tingginya setinggi diriku. Untuk itulah aku memutuskan dirinya. Tapi entah kenapa, melihatmu memakai high heels, aku malah semakin mencintaimu” ucapnya lagi sambil menatap mesra ke arah Nadine, sahabatku.

Alis kananku refleks naik menatap wajah pria gemuk dihadapanku. Berusaha menyambungkan antara logika otakku dan perkataan pria itu barusan. Ia memutuskan mantannya hanya karena high heels?!?

Nadine hanya tersenyum masam dan mengalihkan pandangan ke menu dihadapannya.

“Yan, lo mau makan apa?” ucap Nadine sambil menatap penuh arti kepadaku.

“Gw minum aja. Tiba-tiba gw kenyang” ucapku sambil berusaha memanggil pelayan restoran.

“Sama. Gw juga” ucap Nadine

“Koq ngga makan? Nanti kamu sakit. Klo kamu sakit, aku akan merasakan sakitnya” ucap pria itu kepada Nadine dengan nada manja.

Aku memutar bola mataku. Tidak betah duduk lama dihadapan pria itu. Mataku melirik ke arah Nadine, Nadine pun melakukan hal yang sama. Ia menatapku dengan tatapan menderita. Terlebih pria itu menggeser posisi duduknya semakin mendekati tubuh Nadine.

“Rik, Nadine itu lagi diet. Jika dia makan diatas jam 5, nanti dietnya rusak”

Erik, nama pria itu, melirikku. Sinis. Dari tatapan matanya, ia seperti menjelaskan bahwa dia
tidak suka akan keberadaanku di hadapannya.

“Aku sebenarnya membenci wanita yang diet-dietan” Ia kembali menatap Nadine “Tapi, jika itu untuk menjaga kecantikannya seperti dirimu, aku ikut mendukungmu”

Oh my God!!! Mual rasanya mendengar pria itu mengombal kepada Nadine. Aku menggeleng pelan. Heran. Koq bisa sahabatku Nadine bisa kenal pria segombal itu.

Nadine tersenyum masam “Thanks. Aku harus menjaga makan, sebab ada maag” jawab Nadine.

Lagi-lagi aku menggeleng pelan. Jawaban Nadine begitu bodoh. Klo maag malah musti makan dengan teratur dan ngga boleh diet-dietan sembarangan.

“Tuh kan ada Maag. Aku pesanin makanan ya?” ucap Erik.

Tanpa menunggu persetujuan Nadine, Erik langsung memesan dua nasi goreng seafood dan dua orange juice kepada pelayan restoran yang sudah menunggu pesanan kami.

Aku menghela nafas entah untuk keberapa kalinya. Ingin rasanya cepat-cepat keluar dari restoran itu. Tapi tatapan Nadine yang begitu desperate membuatku terpaksa duduk tenang.

***

“Aku bukan tipe pria yang akan mengantarkan seorang wanita pulang ke rumahnya” ucap Erik
tenang.

Alis kananku naik sebelah. Kaget akan kata-katanya.

“Seorang wanita itu harus mandiri. Tough dan tidak melulu manja tergantung ma pria”

Alis kananku semakin ingin naik hingga ujung dahiku. Sangat heran. Aku langsung melirik kearah Nadine yang berjalan diantara diriku dan Erik. Nadine pun melakukan hal yang sama. Tatapan matanya seakan berkata “Selamatkan aku, Yanti!!!”

“Jadi selama ini lo membiarkan pacar lo pulang sendiri malem-malem?” ucapku memancing Erik.

Erik menatapku sinis. “Wanita yang pulang malam itu adalah wanita yang tidak baik!”

WHAT?!? Apa yang ia katakan barusan? Tiba-tiba aku merasa tersinggung dengan kata-katanya.

“Tapi bagaimana jika wanita itu bekerja hingga larut malam? Atau dia sedang dinas malam?” ucapku dengan nada agak meninggi.

“Itu urusan wanita itu, bukan urusanku” ucap Erik

What the… Pria ini pengen sekali kutampar!!!

“Eh guys, itu kayaknya jemputan gw” ucap Nadine memecahkan kegentingan itu. Nadine menatapku penuh arti “Yan, lo jadi kan kerumahku ambil DVD?”

Aku mengangguk pelan. Nadine langsung menarik tanganku menuju mobilnya setelah berpamitan ke Erik. Setelah pintu tertutup dan mobil Nadine keluar dari plataran mall, aku nyaris histeris berkata

“Ngga salah minum obat kan lo ampe bisa kenal ma cowo jenis kaya gitu?”

***

Kurasakan handphone CDMA-ku bergetar ketika dalam perjalanan menuju kantorku. Kuangkat setelah kulihat nama Nadine di layar hijaunya.

“Yan, gw dimarahin ma Erik”

“HaH?!? Maksudnya?”

“Iya. Dia bilang lo itu membawa pengaruh buruk buat gw”

Alis kananku naik. Mencoba mencerna ucapan Nadine.

“Maksudnya?”

“Entahlah” tawa Nadine terdengar dari ujung sana

“Ngga jelas gitu. Intinya dia menyuruh gw buat jauh-jauh dari lo”

Aku ikut tertawa. “Nggak heran!! Lo tahu sendiri dia semaleman nyinisin gw. Seakan-akan gw adalah pengganggu kalian pacaran”

Nadine terbahak “Pacaran? Kemarin gw juga baru ketemu pertama kali”

Tawaku meledak hingga membuat beberapa penumpang bis disekitarku melihat kearahku. Ah aku tidak peduli dengan tatapan mereka.

“Dan semalem dia bilang gini, Kalo gw mau nikah ma dia, gw musti jauh-jauh dari lo” ucap Nadine

Tawaku semakin keras. Geli.

“Trus Gw bilang, siapa yang mau nikah ma lo, rik?”

“Lalu?”

“Dia malah marah-marah. Katanya koq gw jadi begini? Kemarin pas chetting ma dia omongan gw ngga kaya gini. Lah gw inget-inget, emang pernah gw bilang mau nikah ma dia? Pacaran aja ma dia, gw juga ogah”

Gw kembali tertawa. “Koq dia ngebet banget sih ma lo? Emang lo pake pelet apaan ampe dia ngejar-ngejar lo?”

Nadine tertawa. “Dia bilang, karena gw orang Padang”

Aku kembali tertawa terbahak-bahak.

***

“Erik Afandi?” tanya Mbak Ara

“Iya mbak. Mbak kenal?”

Mba Ara tersenyum menatapku sambil mengaduk-aduk hot chocolate dihadapannya. “Kenal”

Aku dan Mba Ara sedang menunggu klien penting dari Malaysia di salah satu gerai kopi terkenal. Aku tidak begitu heran jika Mbak Ara, yang merupakan seorang Marketing Manager perusahaan tempatku bekerja, kenal dengan beberapa “orang penting”

“Dia adalah anak tunggal pengusaha gelas dari Padang. Keluarganya cukup terkenal di Padang. Yah bisa dikatakan, keluarganya termasuk salah seorang keluarga nigrat Padang”

Aku mengangguk-angguk mendengarkan cerita Mbak Ara.

“Klo tidak salah kemarin dia baru saja gagal menikah”

“Gagal menikah?”

Mbak Ara mengangguk. “Iya, mantan calon istri nya itu bukan orang Padang, sementara Erik adalah anak tunggal dan Padang pula. Orang tua Erik menentang hubungan mereka, padahal mereka sudah siap untuk menikah”

Aku kembali mengangguk-angguk. Serius mendengarkan cerita Mbak Ara.

“Kenapa kamu suka dengannya? Mau kujodohkan dengannya?” ucap Mba Ara sambil tersenyum jahil.

Aku langsung terbayang dengan wajah Erik, penuh kebencian menatapku beberapa hari yang lalu. Juga mengingat semua perkataannya yang membuatku sangat ingin menampar wajahnya.

“Tidak terima kasih” ucapku sambil menggelengkan kepala tegas.

“Dia lagi deket dengan temanku, dan ketika kemarin ketemu…” aku menghentikan ucapanku

Mbak Ara tertawa, “Dia memang seperti itu. Pengen ditampar bukan?”

Aku ikut tertawa “Mbak, juga tahu perilakunya?”

Mbak Ara tetap tertawa dan mengangguk-angguk. “Tipikal seorang anak tunggal kaya raya. Egois, sombong dan memaksakan kehendak”

***

Sebuah nomor tak dikenal menghubungi no cdmaku. Dengan agak malas-malasan aku menjawab telpon tersebut.

“Yanti?” suara berat laki-laki diseberang terdengar sebelum aku sempat berkata hallo

“Ya?”

“Tolong jangan mengganggu saya”

Alis kananku naik dan berusaha berpikir cepat Siapa ini pria yang menelponku ini. Aku tak bisa menduga sama sekali.

“Maaf ini siapa ya?” tanyaku hati-hati

“Beg..” pria itu menghentikan ucapan yang terdengar seperti kata “bego”

“Ini Erik” ucap pria diseberang sana sambil menghela nafas kesal.

Aku memutar mataku. Mau apa coba dia menelponku? Dan dari mana dia mendapatkan no telponku ini? Apa dari Nadine?

“Oh Hai!” jawabku kaku “Ada apa rik?”

“Tolong jangan ganggu saya” ucapnya dengan helaan nafas berat.

“Maaf. Maksudnya apa ya rik? Gw ngeganggu apa ya?”

“Ganggu hidup gw!!” teriaknya.

Hei. Ada apa ini? Tidak ada angin tidak ada hujan, Dia yang telp, dia yang marah-marah. Dan dia menuduh diriku mengganggu hidupnya?

“Gw tahu, lo suka sama gw”

AKu menjauhkan handphoneku dari telinga dan menatap hp tersebut. Astaghfirullah!!! Dengan
pedenya dia berkata aku menyukai dirinya?

“Gw suka sama Nadine. Tolong ya, jangan ganggu gw lagi”

Aku memutar bola mataku dan menggeleng pelan. Ya ampun!! Ternyata ada ya makhluk seperti ini?

“Maaf ya, Rik. Pertama gw ngga tahu lo dapat no gw ini dari mana. Kedua, gw ngga pernah ya suka sama lo yang gombalnya melebihi gombalnya kain pel dirumah gw” ucapku dengan nada tinggi “Ketiga, gw ngga pernah ya ganggu hidup lo. Lo kira lo tuh sapa sih rik? Anaknya presiden? Sampe lo bisa nuduh gw ngeganggu hidup lo? Sok penting banget sih lo jadi orang?”

Tiba-tiba suara dihandphoneku menghilang. Ternyata Erik sudah menutup telponnya. Aku tertawa terbahak. Baru di bentak begitu saja sudah ngga tahan. Sungguh pria bodoh.

Belum habis rasa geliku, handphone itu kembali berbunyi. Kali ini berasal dari Nadine.

“Ada apa dear?”

“Yanti!!!” teriak Nadine “Tolongin gw!! Tadi Erik telpon rumah gw dan ngomong ma bokap gw bakal ngelamar gw besok sore”

“Ha?!?” ucapku kaget

“Gw baru tahu dari bokap, ternyata keluarga bokap ma keluarga Erik satu kampung. Jadi gw adalah calon istri yang tepat buat Erik”

“Ha?!?”

“Yan, lo ha ho ha ho!!! Tolongin gw napa?”

Aku menghela nafas. Tidak bisa berpikir sebenarnya.

“Nad, gw ngga tahu gmana cara nolongin lo. Tapi yang pasti, gw bersyukur gw bukan wanita Padang”

“SIAL!!!”

***

As_3d

*ada cerita “sakno” dari inspired true story sekitar 8 tahun ini. si pria udah nikah dan dua sahabat masih belum seberuntung si pria. hihihi*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s