(Series) Topeng

Ia wajib tersenyum.
“Dilarang merenung, melamun ataupun cemberut!” ucap pria itu setiap kali ia melamun
Ia wajib bersemangat.
“Jika kamu semangat, maka kamu akan menjadi contoh bagi yang lain”
Ia wajib berkata baik.
“Raisya, How to talk!!!” bentak pria itu setiap kali ia salah berbicara
Dan ia akhirnya lelah.
Lelah dengan semua topeng yang harus ia kenakan setiap waktu

***

“Salahku apa?” ucapnya berkaca-kaca
“Entahlah” Jawab pria itu
“Aku capek, bro. Aku tidak bisa seperti ini terus”
“Kamu kira aku tidak capek?”
Ia menghela nafas pelan mendengar suara pria itu dari seberang telpon
“Maaf ya, is. Aku belum bisa membantu banyak”
“Iya tidak apa-apa. Thanks ya udah mau denger curhatku”
Pembicaraan singkat itu berakhir.
Raisya menatap ponsel CDMA itu dengan nanar, tak lama ia terisak. Ia bahkan tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba terisak.

***

Topeng ini mengharuskanku menjadi seorang figur sempurna
Tapi aku tak sempurna
Sampai kapanpun aku tak bisa sempurna
Aku hanyalah manusia biasa. Penuh salah, dosa dan kemunafikan.
Aku capek!!!
Aku ingin membuang topeng ini secepatnya!!
Tapi aku tak bisa.
DAMN!!!

Sebuah tepukan pelan memecahkan lamunan singkat Raisya…

to be continue

As_3d

*Okeh, series yang tidak pernah selesai dikerjakan. Hahaha. Last worked on April 20, 2010*
Others series:
Kata dari Pendengar
Berakhir dalam Sepi
Di balik pintu
On the telephone

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s