Mimpi Monica

“Apa mimpimu untuk tahun depan?”

Monica yang sedang setengah melamun tergagap ketika tangan itu menunjuk kepadanya. Pria dihadapannya bertanya sambil menunjukkan senyum khasnya.

“Mo nikah!!!” teriak serempak orang-orang yang disekeliling Monica.

Monica tersenyum geli. Ini bukan pertama juga bukan yang terakhir kalinya namanya diplesetin oleh teman-temannya. Ia lalu mengangguk dan menatap yakin pria dihadapannya.

“Mau nikah?”

“Apa?” Pria dihadapannya seperti tidak mendengar suaranya.

“M-A-U N-I-K-A-H” ulang Monica sambil mengeja dan tersenyum semanis mungkin.

Pria dihadapannya lalu mendengus kesal, dan dengusan itu langsung ditangkap oleh orang-orang disekelilingnya.

“Panaas… Panasss… panasss” teriak salah satu dari mereka menggoda pria yang tengah sharing motivasi itu.

Pria itu memperbaiki dasinya dan berkata sok cool

“Tenang, gw juga ada rencana menikah”

“Kapan bang Jo? Pas abang udah naik tinggi badannya?” celetuk salah satu dari kerumunan yang diikuti oleh tawa dari beberapa dari orang-orang tersebut.

“Nanti tahun depan juga” jawabnya sambil menaik turunkan kedua alisnya, sok cool.

“Cieee… si Abang mau nikah ama monica yaa?” Celetuk dari yang lain.

Pria itu langsung menoleh dan melirik kesal wanita muda yang barusan nyeletuk. Yang dilirik langsung menunjukkan telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, tanda perdamaian.

“Sudah!! sudah!! Lanjut ke topik utama” ucap pria itu lagi

Pria itu tidak menyadari bahwa sebenarnya Monica tengah memperhatikan tingkah lakunya dan berharap banyak dari ucapan pria itu.

***

“82?!?” tanya Deli tidak percaya “Kukira lo lahir tahun 89-an. Baru lulus SMA”

Monica mengangguk sambil tersenyum lebar. Bersyukur ia menjadi wanita imut-imut.

“Ya amplop!! Lo itu ternyata lebih tua dari gw” ucap Deli “Lo bahkan seumuran ama si bang Jo”

“Bang Jo? Johan?” tanya Monica

“Iya. Dia juga 82. Masih single tuh” Deli mulai tekekeh “Despert nyari calon istri. hehehehe”

Monica tersenyum. Sebuah harapan muncul.

“Kalian cocok tuh. Sama-sama imut-imut” ucap Deli yang masih terkekeh

Monica melirik kesal ke Deli, tapi harapannya semakin mendekati kenyataan.

***

“Hei!!” Sapa Johan

Monica yang sedang menunggu lift menengok dan menatap pria mungil dengan tas ransel besar di punggungnya.

“Pulang kemana dek?” Johan memang kebiasaan memanggil semua juniornya yang wanita dengan sebutan ‘dek’, tapi entah mengapa panggilan itu membuat Monica gugup.

“Ke Rawamangun” jawab Monic berusaha untuk tidak gugup

“Yes!! Rumah kita sedaerah” Johan mengangkat tangan kanannya “Toss!!”

Dengan ragu Monica mengangkat tangannya dan toss ke tangan Johan.

“Pulang naik apa?” tanya Johan

“Busway” dalam hati Monica berharap bisa diantarkan pulang oleh Johan “Lo?”

“Motor. Ama Dian”

“Dian?” Sebersit kecemburuan muncul dari hati Monica “Bukannya dia tinggal di Bekasi?”

Johan mengangguk. “Rute dia pulang lewatin daerah rumah gw, jadi gw nebeng ma dia” Johan menyeringai

“Jadi pulang pake motornya Dian?”

Johan terkekeh dan mengangguk. “Kasian juga kalo Dian harus nyetir motor malem-malem, jadi gw yang jadi tukang ojeknya. Walo hanya ampe rumah gw”

Pintu lift terbuka dan kaca didalamnya memantulkan bayangan Monica dan Johan. Monica tampak terkejut melihat pandangan itu. Ia menunduk dan langsung cepat memasuki lift kosong itu.

“Nanti klo gw bawa motor, kita pulang bareng ya” ucap Johan didalam lift

Monica tidak berani menaikkan wajahnya. Takut akan melihat betapa serasinya mereka berdua di empat sisi kaca lift itu. Ia mengangguk tanpa banyak bicara. Untung saja lift langsung terbuka dan pemandangan lobby gedung terlihat. Monica bernafas lega keluar dari lift itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika lama-lama berduaan dengan Johan di ruangan sempit itu.

***

“Monic!!! Gile lo cantik banget” puji Deli

Monica tersenyum. Hari ini ia memakai dress. Dress vintage warisan ibunya. Ia tidak pernah menyangka jika pakaian ini akhirnya bisa ia pakai sebagai pakaian kantor.

“Thanks”

Deli memegang rok Monica dan meraba bahannya. “Bagus ya.. i wish i have one of this. Cantik banget.”

Monica tertawa pelan. Ia kembali lagi berterima kasih ke Deli.

Johan masuk ke dalam ruangan dan menyapa sekilas Monica dan Deli. Monica kecewa. Johan sama sekali tidak menatapnya. Tidak memperhatikan dirinya. Tidak melihat betapa bedanya dia hari ini dengan dress yang ia pakai Monica mulai bertanya-tanya, jangan-jangan harapannya terhadap Johan hanyalah harapan palsu.

***

Sebuah buket bunga mawar putih tergeletak di laci tempat Monica menaruh tas kerjanya. Monica mengangkat bunga itu dan mencari kartu didalamnya. Tidak ada kartu. Monica kembali menaruh buket bunga itu kembali ke tempatnya. Ia merasa bahwa itu bukan untuknya, jadi ia tidak berani mengambilnya. Monica mengambil barang-barang miliknya dan bersiap-siap pulang. Setiba di lobby bawah kantornya, ia melihat betapa derasnya hujan yang menimpa Jakarta. Monica menghela nafas. Ia harus menunggu hingga hujan reda, ia lupa bawa payung. Monica menuju tempat duduk kosong yang ada di lobby, menunggu hujan reda.

Sebuah tepukan pelan mengagetkan Monica. Ia melihat Johan telah berdiri di sampingnya. Ditangan Johan ada buket mawar putih yang tadi ia lihat di laci tasnya. Monica langsung mengira bahwa itu buket bunga milik Johan.

“Nunggu dijemput?”

Monica menggeleng. “Nunggu hujan reda. Aku lupa bawa payung”

“Mmm… Mau pulang bareng?”

Monic melihat derasnya hujan dari pintu kaca gedung perkantoran itu. Ia ingin sekali diantar pulang oleh Johan, tapi ia tidak serela itu harus berhujan-hujanan dengan motor bersama Johan.

“Aku naik mobil” ucap Johan “Kamu ngga akan kehujanan. Aku anterin ampe depan rumah deh”

Monica berdiri dan tersenyum lebar “Mau!!”

Johan tersenyum. “Nih, ketinggalan tadi” Johan menyodorkan buket bunga yang ia pegang

“Ini bukan punyaku. Tadi memang ada di laciku,tapi bukan buatku”

“Ini buatmu! Dari aku” Johan tersenyum lebar, menunjukkan senyum khasnya

Dengan ragu Monica menerima buket itu “Ini bener darimu? Bukan nyolong?”

Johan menatap kesel “Dari aku. Ga percaya? Klo ngga percaya ngga jadi kuanterin pulang nih”

Monica tersenyum geli melihat seorang Johan ngambek saat itu.

“Iya deh percaya”

Johan kembali tersenyum.”Gitu dong percaya ma calon suami” Johan langsung berbalik dan berjalan menuju parkiran.

Monica tertegun. Tidak percaya bahwa ia mendengar ucapan Johan barusan. Johan menengok dan melihat Monica masih berdiri mematung sambil memeluk buket bunga. Ia kembali menghampiri Monica dan memegang pergelangan tangan Monica.

“Heh!!!” ucap Johan memecahkan lamunan Monica “Hujan-hujan ngelamun! Ayo pulang”

Johan menarik pelan tangan Monica untuk segera berjalan. Pegangan tangan Johan menurun. Johan menggenggam telapak tangan Monica.

***

As_3d
Tangerang, 15 November 09

*salah satu dari hasil repost note fb*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s