Midnight Call

Brrrr.
Getaran handphoneku membuatku kaget dan gemetar. Jantungan. Itu yang kurasakan semenjak pria itu mengetahui no telephoneku. Sebenarnya pria itu tidak salah, hanya saja aku tidak bisa menghadapinya.

“Ya?”
“Hai lagi apa?”
Kuhela nafas sangat pelan agar tidak terdengar suara helaanku di handphone. “Lagi terima telpon lo”
Ia tertawa. “Ganggu ya?”
Mau jawab ya, ntar dibilang sombong. Mau bilang tidak, tapi perut mules denger suaranya.
“Ngga” jawabku akhirnya

Akhirnya dia berbasa basi ngalor ngidul tidak jelas. Aku hanya bisa tersenyum muna sambil menatap langit-langit kamarku. Menurut ilmu telemarketing, dengan kita tersenyum saat menerima telpon, maka orang yang mendengar ucapan kita dapat mengetahui kita itu tersenyum. Apa bener? Belum pernah kubuktikan.

“Kamu masih denger aku kan?”
“iya” kenyataannya pikiranku melayang-layang tidak begitu mendengarkan pria itu berkata apa
“Jadi menurutmu bagaimana?”
“Apanya?”
“Ya tadi yang kuceritakan”
DANG!!! Emang tadi dia ngomong apa? Masa harus kubilang dia untuk mengulang ceritanya? Bisa tersinggung berat dia. Untunglah saat itu ada panggilan alam.
“De, tiba-tiba gw sakit perut. Pamali ngomong di kamar mandi. Udahan ya. Bye” KLIK!

Sejam berikutnya,

Ya sesuai prediksiku ia menelpon kembali. Kali ini telponnya tidak kuangkat. Kubiarkan ia misscall sampai beberapa kali. Kubuka laptop dan menuliskan beberapa “skenario” omongan. Aku menulis dengan penuh semangat dan tersenyum-senyum geli sendirian. Setelah puas membuatnya misscall hingga berkali-kali, aku mengangkat telpon darinya lagi

“Ya?”
“Sudah selesai pupnya?”
Aku tertawa hambar, mencoba tertawa sebenarnya. “Ada apa dari tadi miskol terus?”
“Ngga kangen ma kamu”
Aku memutar mataku. Jika pria ini kusuka, pasti gombalan dia kuterima dengan senang hati. “Makasih”
“Lagi apa sekarang, say?”
Sumpah. say? sapa dia? emang gw sayuran? Aku menghela nafas pelan. Tuhan… Tolong aku.
“Lagi terima telpon lo”
Lagi-lagi pria itu tertawa. Meski menurutku tak da yang lucu dari jawabanku. Aku mulai melirik halaman notepad dihadapanku
“Oya, de. Gw punya masalah nih”
“Kenapa, say?”
Say-say-say, sayur asem emangnya? Kuenyahkan pikiran tentang sayur asem itu.
“Beberapa hari yang lalu, temen gw mau bunuh diri”
“Hah? Apa? koq bisa?”
“Iya, dia patah hati. Cowoknya meninggalkan dia”
“Duh kasihan” dia berdecak sedih. Kuputar mataku, ternyata pria ini lebay juga ya. Kuteruskan membaca “skenarioku”
“Tahu ga? Dia patah hati karena cowonya itu tiap hari telpon-telpon cewe lain”
“Cowonya selingkuh?”
“Yaa… seperti itulah. Tahu nama cowonya sapa?”
“Sapa?”
“ADE”
“He? koq kaya namaku?”
“Iya, makanya semenjak itu gw selalu bete kalo ditelp sama cowo bernama ade”
Sunyi. Tidak ada suara dari seberang sana beberapa saat.
“Jadi lo ngga suka gw telp?”
“Hmmmm… maaf ya. Tapi makasih udah tiap hari telpon gw. Sayangnya gw ngga suka ditelp tengah malem gini”
“Oke” KLIK!!

Aku tersenyum dan menutup layar laptopku. Selamat malam semua!! Met tidur!

 

*repost dari postingan note facebook, sekitar 6,5 tahun lalu*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s