Kiamat Surya

Jakarta, 24 oktober 2009 21:40

Gempa berkekuatan 7.3SR itu seperti tak berarti apa-apa bagiku. Just like an ordinary earthquake.

Sebenarnya (hari kiamat) itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba,lalu mereka menjadi panik; maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) diberikan penangguhan (waktu) QS:21:40

Bagiku kiamat adalah saat ini, saat ketika tidak ada orang yang mempedulikanku lagi. Kutatap nanar gundukan tanah dihadapanku.

Surya Gunawan
bin Gunawan Susanto
lahir 18 maret 1950
wafat 24 oktober 2009

Inilah orang yang membuatku seperti ini. Aku mencintainya,jelas, tapi aku pun membencinya. Dialah ayahku, pembuat sejarah awalku.

Semarang, 30 april 1984

Siang itu aku lahir. Tanpa cela, tanpa cacat dan tanpa noda. Ibuku tampak bahagia sepertinya, tapi entah ayahku. Yang kutahu dari cerita nenekku, kelahiranku membuat sebuah rumah mewah di pondok indah mengalami kebakaran jenggot. Darisanalah dendam itu dimulai.

Jakarta, 20 juli 1999

Selama 15 tahun kukira aku adalah anak pertama ayahku. Ternyata bukan. Aku adalah anak keempat. Ayahku memiliki istri lain selain ibuku. Keluarga lainku itu membenci ibuku. Mereka menganggapnya sampah.

Hari itu aku mengetahui, ayahku bukan orang biasa. Ia masih punya keturunan darah biru mangkunegara dan pemilik dari 4 perusahaan. Tapi jangan tanya fasilitas apa yang kudapat. Aku dibesarkan dengan harta secukupnya,bahkan nyaris kekurangan.

Hari itu aku akhirnya mengenal keluarga lainku. Aku diterima oleh mereka. Diterima sebagai salah seorang staff rumah tangga, sebagai pembantu.

Aku mereka kenal sebagai Anah, tidak ada seorangpun mengenalku disana. Ayahku jarang pulang, sedangkan penghuni lain dari rumah mewah itu jarang sekali terlihat.

Jakarta 30 april 2004

Ulangtahun ke 20. Di saat itu akhirnya aku mengetahui semuanya. Ibuku dibunuh dua tahun setelah kulahir. Aku dibesarkan oleh orang asing yang mengaku paman dan bibiku. Mereka tak lebih dari pemuja uang. Aku diperlakukan layaknya tambang emas. Jika ayahku datang, mereka merayu mayu ayahku hingga dia memberikan beberapa gepok uang. Tapi jika ayahku pulang, mereka tidak mempedullikanku sama sekali.

Ibuku pun menikah dengan ayah terpaksa. Karena ia telah hamil diluar nikah. Paman bibiku bercerita bahwa ibuku sebenarnya diperkosa. Dan demi menjaga nama baik, alm kakekku,ayah ibuku, mengancam ayah agar menikahi ibuku. Paman bibiku juga berkata bahwa yg membunuh ibuku adalah ayahku.

“Kamu cantik”

Lamunanku terpecah. Tanganku dipegang tiba-tiba oleh Ray,salah satu kakak tiriku,ketika aku sedang sibuk menata meja untuk makan malam keluarga itu.

“Terima kasih,mas” ucapku sopan dan cepat-cepat menarik tanganku.

“Kamu sudah lama bukan kerja disini?”

Aku mengangguk. “5 tahun,mas”

Ray mengagguk-angguk. “Kenapa belum kawin?”

Ingin rasanya aku tertawa terbahak mendengar pertanyaan itu. Tapi aku menahan diri. Aku harus bersikap seperti layaknya orang kampung.

“Kawin itu gampang,mas. Yang susah nikah”

Pria perlente itu tertawa keras, entah apa yang lucu dari ucapanku. Ray tiba-tiba berdiri dan memegang lenganku.

“Jangan sok naif. Aku tahu kamu mengincar salah satu dari kami. Sehingga kamu dapat menikmati harta kami”

Aku memasang ekspresi takut. Ekspresi wajibku selama menjadi pembantu.

“Maaf mas, saya tidak pernah berpikir seperti itu. Tolong jangan sakiti saya.”ucapku sambil berusaha melepaskan tangan Ray.

Ray melepaskan genggaman tangannya dan menatapku beringas.

“Saya akan memberimu 100juta jika kamu mau menghabiskan satu hari bersama saya”

Akhirnya saat ini terjadi. Ini hadiah ulang tahun yang sangat sempurna. Aku memasang wajah takut dan menunduk. Aku menggeleng, pura-pura menolak.

Ray menundukkan wajahnya mendekati telingaku dan berbisik. “tenang,ini akan menjadi rahasia kita, dan tidak ada orang lain yang tahu.”

Sekilas aku tersenyum dibalik tundukkanku. Senyum kemenangan.

Puncak, 1 mei 2004

Kupandang tubuh setengah telanjang dihapanku. Badannya penuh darah. Aku tersenyum puas. Aku telah berhasil melumpuhkannya.

“Kenapa?” ucap Ray dengan nafa putus-putus sambil memegang dadanya yang penuh darah.
Aku mengangkat baju lusuhku dan menarik sekeras mungkin. Baju itu robek dan perlahan kupakai kembali. Aku menoleh dan tersenyum kepada Ray.

“Tadi tanya apa? Oh kenapa ya?” aku pura-pura berpikir “balas dendam!”

Nafas Ray semakin perlahan. Sudah diambang kematian tanpaknya. “Balas dendam?”

“Betul. Aku menunggu sampai 5tahun agar salah satu dari dari keturunan bajingan melihatku, dan mencoba memperkosaku. Gosh i must spent 5 fucking year with you”

“Memperkosa? Tapi kamu mau kuajak kesini kan?”

“Tapi tidak ada orang lain yang tahu bukan?”

Aku mendekati Ray dan mengelus rambutnya perlahan. “Sudahlah, lebih baik kamu tidur. Tidur selamanya…”

Satu jam setelah itu…

Hotel itu telah dipenuhi oleh polisi dan orang-orang. Aku bersikap bagaikan patung, bagai orang gila yang nyaris diperkosa oleh Ray. Aktingku sepertinya sangat meyakinkan, hingga beberapa polwan bersimpati kepadku. Beberapa dari mereka menawarkan tempat tinggal kepadaku.

Pria itu datang, akhirnya selama enam tahun aku kembali bertemu dengannya. Ia menghampiri diriku dan menatapku kaget.

“Gayatri?”

“Hai pa!”

Seketika tubuh kokoh yang kukagumi selama masa remajaku itu jatuh ketanah. Pria itu didiagnosis terkena serangan jantung dan stroke.

Detik ini…
Aku cukup puas melihat selama hampir 6 tahun ayahku menderita. Antara hidup dan mati di tangan dokter-dokter ahli dan diatas tempat tidur keras rumah sakit

Selesai sudah rasa sakit yang diderita oleh pria bernama Surya. Hilang sudah cahaya pak Surya yang menghiasi hari-hari kecilku. Kelar sudah semua. Dendamku pun sudah terbalas. Membunuh harapan sang Surya menghiasi sang bumi.

As_3d
Tangerang, 27 okt 09

*again, repost dari fb 7,5 tahun lalu. Kalau nggak salah, ini masuk antalogi. tapi aku lupa.hahahaha*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s