Ketika di Cafe

“Kenapa kamu bisa jatuh cinta kepadaku?” Pria itu akhirnya berbicara setelah beberapa lama terdiam dihadapanku.

Ya. Akhirnya kami bertemu kembali. Entah sudah berapa lama ia menghilang. Sibuk dengan segala urusan pekerjaan moneternya. Dan sekarang, aku tak sengaja bertemu dengannya di cafe tempat pertama kali ia mematahkan hatiku.

“Siapa bilang gw jatuh cinta ma lo?” ucapku sambil tergelak tawa.

Raut wajahnya semakin serius. Raut wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Raut wajah yang menakutkanku. Ia menghela nafas pelan.

“Kamu menang!” ucapnya sambil menghisap ice cappucinno dihadapannya

Alisku naik. Heran. Menang apa?

“Menang?” tanyaku

“Aku mulai jatuh cinta kepadamu”

Tawaku semakin meledak. Sepertinya respon spontanku membuat wajahnya bertambah serius dan mulai menatap sinis kepadaku.

“Sorry… sorry” ucapku terbatuk-batuk menghentikan tawaku.

“Bukankah ini yang kamu harapkan? Aku membalas cintamu?” ucapnya serak

“Aku tidak pernah mencintaimu. Kamu salah” ucapku tak sadar tiba-tiba memakai kata aku-kamu

“BOHONG!!! Aku selalu melihat di matamu ketika memandangku. Kamu mencintaiku!”

Semua rasa geliku hilang. Aku menatap pria yang pernah menjadi inspirasiku selama beberapa saat dengan tatapan kasihan.

“Aku pernah menyukaimu. Bahkan sangat menyukaimu. Tapi untuk apa aku meneruskan rasa suka ini jika dirimu jelas-jelas menolakku?” ucapku pelan

Pria itu menghela nafas. “Maafkan aku”

Tangannya tiba-tiba menyentuh tangan kananku dan menariknya mendekati mulutnya. Perlahan pria itu mencium punggung tanganku.

“Aku menyesal, Ri. Aku sangat merindukanmu” desis pria itu sambil mengeluskan tanganku ke pipinya

Aku terdiam tak mampu berkata. Aku takut jatuh di lubang yang sama. Jatuh cinta kepadanya lagi.

“Kamu telah menyia-nyiakan kesempatanmu” ucapku akhirnya dengan nada serak.

“Tapi bolehkan aku tahu? Kenapa kamu bisa menyukaiku?” Ia menelan ludah “Dahulu”

Aku tersenyum simpul. “Dulu aku menemukan sosokmu seperti pria yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Terlebih aku selalu menyukai semua hasil karyamu, semua ceritamu dan selalu terbius dengan dongeng-dongengmu”

“Dongengku?” ucapnya sambil tetap memegang tangan kananku. “Kenapa sekarang berubah?”

“Karena dia” Aku menunjuk kearah tempat bermain anak-anak yang tepat berada di hadapan cafe. Salah satu gadis cilik melambai kearahku. Gadis cilik itu langsung berlari menuju tempat dudukku.

“Bunda, tapi Nina ketemu Anisa di sana” celoteh gadis cilik itu setelah ia menabrak lututku sangking semangatnya.

Aku mengangguk-angguk dan mulai mendengarkan semua ceritanya. Duniaku seakan berhenti ketika aku berbicara kepada Nina, termasuk melupakan kehadiran pria yang duduk dihadapanku.

Pria itu mendehem menyadarkanku dari ocehan Nina. Aku menoleh dan tersenyum padanya.

“Papa!!!” teriak Nina.

“Apa kabar cantik?” ucap pria itu dan memangku Nina diatas pahanya.

“Baik. Papa kemana aja? Papa jadi nikah lagi sama Bunda?”

Pria itu melirik diriku. Aku terdiam memandang pasangan ayah dan anak itu.

***

*repost dari postingan note sekitar 6,5 tahun lalu*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s