Kado yang Terlambat

“AKu tidak pernah menyukai gadis seperti dia” ucapku sinis sambil melihat gadis itu dari kejauhan.

“Kenapa?” ia berkata sambil menjilati sendok sour sally toping strawberry yang ia beli bersamaku

Aku mengangkat bahu. “I don’t know. Just a feel”

“Mungkin gara-gara kamu pernah dibuat sakit hati sama salah satu teman sekelasmu yang mirip gadis itu”

Aku menoleh kaget dan melotot tajam ke pria jangkung itu.

“How do you know about that?”

Pria itu tertawa lepas. Ia menggigit sendoknya dan berjalan mendahuluiku. Sikapnya yang sok misterius itu membuatku gemas juga kesal.

“Hei!!” teriakku sambil mengejarnya. Langkah besarnya nyaris tidak bisa kuikuti. Terkadang ia suka lupa jika tingginya mencapai dua meter sementara diriku hanya 1,5 meter saja.

Ia berhenti dan menoleh menatapku yang terengah-engah mengejarnya.

“Aku selalu lupa jika dirimu itu pelan” ucapnya sambil tersenyum mengejek kepadaku

Aku menatapnya kesal.

“Itu bagaimana kau bisa tahu tentang rasa sakit hati ku itu?”

Ia kembali tersenyum dan menunduk hingga kepalanya sejajar dengan kepalaku.

“Karena teman sekelasmu itu teman sekolahku juga, remmember?”

Aku menyeringai. Benar juga. AKu lupa akan hal itu.

***

Gadis itu tiba-tiba melambaikan tangan dan mendekati kami

“Loe Donny ma Lexa bukan?” tanyanya ramah

Spontan kami berdua mengangguk.

“Kalian dari mana saja? Gw udah nungguin kalian dari tadi”

Pria disampingku mengangkat gelas kertas sour sally dan menunjukkan ke gadis cantik dihadapan kami. Selama beberapa detik aku takut kehilangan pria disampingku karena kecantikan gadis itu.

Gadis itu tersenyum. “Gw kira kemana. Come on, semua udah pada kumpul di cafe”

Kusikut perut Dony yang ada disebelahku dan berbisik “Kamu kenal dengannya?”

Dony mengangkat bahu “I don’t know. But seems she knows me better than you are”

Aku melotot mendengarnya, sementara dia menjulurkan lidah dan mengikuti arah gadis cantik itu berjalan.

Aku langsung mengambil posisi berjalan tepat disamping gadis itu

“Hei, kita belum resmi berkenalan. Lexa” ucapku seramah mungkin dan mengulurkan tangan

“Tasya” jawabnya

“Mhm… maaf nih. Lo siapa ya?”

Gadis itu tertawa, “Gw temennya Fajar. Bukankah udah gw kasih message di inbox facebook lo? Tentang pesta kejutan buat Fajar”

Aku menyeringai bingung. “Maaf, gw udah ngga update fesbuk dari jaman bahela. Gw ga tau ada pesta-pesta” ucapku sambil melirik ke pria yang masih asik dengan sour sally ditangannya.

“Gw kemarin janjiannya ma Donny. Lo ngga dikasih tahu mangnya?”

Aku menggeleng pelan sambil melirik kesal ke pria yang berjalan tidak jauh di belakang kami.

Gadis itu ikut menoleh dan tersenyum geli. “Bagaimana jika sekarang lo nemenin gw beli kue buat Fajar?”

“Oke”

***

“There’s the plan…”
Diriku baru saja tiba di sebuah cafe tempat diadakannya pesta kejutan itu, dan belum sempat berkata apa-apa, Ais, sekretaris semua orang telah memberikan beberapa perintah misi rahasia.

Diriku hanya mengangguk-angguk, tanpa sempat untuk berpikir memberikan ide terhadap rencana tersebut. Ku melirik ke pria yang sedari tadi masih juga belum habis memakan yogurtnya.

“Do you know about this plan?” tanyaku

Ia menggeleng pelan “Terlalu banyak otak bikin tambah rumit dan heboh! biarkan para wanita saja yang merencanakan. Kami para pria tinggal menjalankan” ucapnya menyeringai khasnya

Aku kembali mendengarkan ucapan Ais dan beberapa teman baruku lainnya.

***

“Happy Birthday to You… Happy Birthday to You…”

Kami semua menyanyikan lagu Happy Birthday kepada seorang pria yang malam itu terkaget-kaget. Tidak menyangka akan mendapatkan kejutan dari teman-temannya semua. Diriku tidak begitu mengenal pria itu, tapi karena beberapa event yang diadakan oleh pria itu, aku akhirnya bertemu dengan beberapa teman menajubkan.

Belum sempat kami berebutan memberikan selamat kepada Fajar, sebuah jigle lagu ulang tahun datang dari pemilik cafe, dan sebuah kue tart kedua datang dan diberikan kepada Tasya. Gadis itu memang berulang tahun beberapa hari sebelum Fajar, dan beberapa temanku sudah menyiapkan rencana matang untuk mengagetkan dirinya, sematang rencananya mengangetkan partner in crimenya.

Setelah tiup lilin dan sesi foto, gadis bernama Tasya itu mengeluarkan sebuah map plastik. Dengan ekspresi masih kaget dan penuh antusiasme, ia berkata

“Guys, selain pesta kejutan. Aku mengumpulkan teman-teman untuk ini”

Ia menunjukkan beberapa foto kepada kami. Satu persatu dari kami yang berkumpul disitu bergantian melihatnya. Tasya menunjukkan foto-foto patung bersejarah yang ada di Jakarta.

“Aku menyebutnya project Hermes”

As_3d
010809

*yaaa repost ajah ya. orangnya udah gak kenal aku lagi. hahahah*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s