Di tengah trotoar jalan

Pria itu duduk di tengah jalan, di pembatas jalan raya. Wajahnya pucat, bajunya robek-robek dan raut wajahnya memelas.

“Aku capek” ucap wanita setengah baya dibelakangnya.

Pria itu terdiam. Ia tetap memasang wajah kesakitan. Ekspresi wajibnya jika pergi bekerja. Mengemis.

Wajah wanita ‘partner’ pria itu tampak sangar. Ia terlihat tidak suka dengan pekerjaan barunya. Ia lebih suka mengawasi ketiga anaknya yang bekerja seperti ini, bukan dirinya.

“Kakikku pegal” ucap wanita itu lagi

Pria tua itu tetap tidak mempedulikan keluhan sang wanita. Ia tetap duduk membelakangi wanita itu dan semakin meringiskan wajahnya.

Sebuah mobil sedan keluaran terbaru berhenti di samping mereka. Sang pengemudi, seorang wanita muda dengan wajah bersih, mengeluarkan tangannya dan memberikan selembar merah 10 ribuan. Semua dilakukan dengan senyum.

“Makasih neng” Wanita itu dengan cepat mengambil uang itu dari tangan sang pengemudi. Wajah juteknya berubah menjadi penuh senyum. Cepat-cepat ia menaruh uang itu di tas kecil yang ia simpan di balik baju dinasnya.

Pria itu seakan tidak melihat itu. Ia tetap duduk berhadapan dengan arus mobil dan memasang wajah kesakitan.

“Bagus pak tua, akting anda meyakinkan” ucap wanita itu berseri-seri. Terlebih ia melihat sebuah mobil mewah membuka jendela mendekati mereka.

Pengemudi itu menjulurkan sebuah plastik besar kepada mereka. Ekspresi wanita itu langsung berubah, cemberut. Ia menerima bingkisan itu dengan setengah hati.

“Sudah kuduga, makanan sisa” dumel wanita itu sambil menaruh plastik itu di bawahnya. “Orang tidak punya harga diri, ngasih makanan sisa” dumelnya lagi.

Pria itu menghela sesaat, ingin berkomentar. Tapi ia urungkan niatnya. Ia malas untuk berdebat.

Matahari sudah semakin tinggi. Ini berarti saatnya untuk berganti shift. Di seberang jalan tampak seorang pria bertopi. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan topi agar orang-orang yang berpapasan dengannya tidak jijik melihat nanah2 yang menghiasi wajahnya.

Wanita itu menepuk bahu pria tua dihadapannya. Pria tua itu mengagguk mengerti. Ia berusaha berdiri, tapi kakinya kesemutan akibat terlalu lama duduk. Wanita itu membantunya berdiri, dan memapahnya menuju seberang jalan.

“Pak tua, kita tak mendapat banyak hari ini” ucap wanita itu ketika mereka sudah menyebrang jalan.

Pria tua itu mengangguk-angguk.

“Dah” panggil pria itu kepada sang wanita “Kamu dipecat!”

October 28, 2009
Patas 44, pagi sumpah pemuda,
HIDUP PEMUDA INDONESIA!!!
as_3d

*aku ingat ketika menuliskan ini, jaman-jaman ketika punya handphone mahal, dan hilang sebulan setelah membelinya :(*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s