Di Tangga Darurat

“PLAK!!!”

Sebuah tamparan keras mengenai pipi mulus wanita berjilbab itu. Tangan besar yang memukul pipi wanita itu tampak memerah, semerah wajah pemilik tangan itu.

“PELACUR!!!” bentakan pria itu menggelegar di pintu darurat gedung perkantoran itu.

Wanita itu menoleh ke pria itu dan menatap tajam kedua mata pria yang sebelum ditampar masih menjadi kekasihnya. Terlihat darah dari ujung bibir wanita itu.

“Kalo gw memang pelacur napa? Lo nyesel pacaran ma gw?” ucap wanita itu sambil tersenyum sinis menatap pria besar dihadapannya.

“Toh lo sendiri bukan yang nyebarin cerita liburan kita ke Lembang? Trus lo bangga-banggain dah tu lo bisa nidurin gw. Oya apa lo juga sekalian ceritain tentang permainan kita selama di Lembang?” ucap wanita itu lagi.

Darah di bibirnya mulai menetes dan mengalir pelan ke bawah dagunya. Wanita itu menekan bibirnya dan perlahan menghapus darah yang keluar dari ujung bibirnya.

Pria dihadapannya menggeram. Ia sangat kecewa dan sangat marah melihat wanita dihadapannya. Tapi ia tidak bisa menahan perasaan bahwa dia sangat menginginkan wanita dihadapannya itu. Pria itu mendekati tubuh wanita tersebut dan mencium bibir wanita itu dengan kasar. Wanita itu dengan sekuat tenaga mendorong pria itu menjauh darinya.

“Gw udah muak ma lo!” ucap wanita itu dengan pandangan jijik ke pria besar dihadapannya. “Lo hanya sekedar masa lalu sekarang”

Pria itu tertawa keras dan menatap wanita itu dari bawah ke atas. “Kamu tidak malu dengan pakaian yang kamu kenakan saat ini?”

“Tidak! ini hidupku, bukan hidupmu!” ucap wanita itu sinis

“Bayiku?”

Wanita itu sekarang yang tertawa keras “Apa lo bilang? Bayi lo? HELLOO!!! this is my body! I hate this piece of shit that you put in my stomach. Besok jelas gw bakal kuret lah!!”

Tangan pria itu kembali terangkat. Wanita itu terdiam sejenak. Ketakutan melihat tangan besar itu ingin kembali menampar wajahnya, tapi kemudian ia malah melotot menatap pria itu.

“Mau nampar lagi? Ayoooo… Tampar lagi!!” tantang wanita itu

Pria itu mengepalkan tangannya. “SHIT!!”

Pintu tangga darurat itu tiba-tiba terbuka. Pria dan wanita yang bertengkar itu menoleh dan menatap pria yang berdiri dari balik pintu.

“Lo apain Caca?” pria yang baru datang itu langsung menghampiri pria besar dan menarik kerah baju pria tersebut. “Jangan beraninya ma cewe! Lawan gw!!”

Pria besar itu tertawa sinis. Ia menatap pria yang tinggi badannya hanya sampai bahunya, kemudian menatap mantan teman tidurnya yang sudah memasang wajah manjanya.

Wanita munafik! dumel pria besar itu. Ia lalu mencengkram tangan pria dihadapannya sehingga pria tersebut kesakitan dan melepas kerahnya.

“Ga usah jadi sok pahlawan deh” ucap pria besar itu dengan sinis. “Kalian memang pasangan munafik. Gw doain lo bedua damai di neraka sana”

Pria besar itu langsung meninggalkan wanita itu bersama pacar barunya, lebih tepatnya selingkuhan barunya, dan membanting pintu tangga darurat. Dalam hatinya masih tersimpan bara amarah. Kesal telah menjadi pria buangan bagi wanita berjilbab itu.

“Aku benci wanita berjilbab!!!” teriaknya.

Pria besar itu membuka kembali pintu tangga darurat dan menemukan pasangan itu sedang asyik berciuman. Pria itu menembakkan pistol yang sedari tadi ia simpan di belakang pinggangnya. Cukup dua tembakkan mengenai dua dahi.

“Tapi aku lebih benci kepada pengkhianat” ucapnya sambil menatap jijik dua mayat dihadapannya.

As_3d

*salah satu dari repost note yang dibuat sekitar 7 tahun lalu*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s