Di Pelataran Masjid

Aku melepas nafas lega. Akhirnya berhenti juga perjalanan kelanaku. Puih… leganya. Tak kerasa hampir delapan kilo aku bergerak tanpa henti. Pegal semua rasanya badanku ini.

“Aku sholat dulu ya, dek” ucap kakakku dengan wajah penuh kelelahan.

Aku mengangguk dan duduk di depan pinggiran masjid besar itu. Kasihan kakakku, matahari sudah tepat ditengah puncak tertinggi langit, tapi ia masih belum mendapatkan rejeki untuk dibawa pulang ke rumah. Kupandangi punggung bidang yang semakin lama menjahuiku karena masuk kedalam masjid. Ia seharusnya tidak berada di dunia ini.

Kupandang sekitarku dan menggeleng pelan. Banyak manusia yang tertidur di hadapanku. Hari masih siang, bukan sore ataupun malam. Dan mereka tertidur di masjid, yang notabene adalah perwakilan Ka’baah? Ya ampun… betapa malasnya mereka. Apa jadinya dunia ini, jika manusia-manusia pengisinya sudah tepar dikala kumandang azan bergemuruh.

“Baru ya?” suara itu memecahkan lamunanku

“Ya?” aku menoleh ke pria dengan kulit hitam

“Anda baru di kantor ini?”

Aku menggeleng. “Saya tamu” jawabku setengah berbohong

Pria itu mengangguk-angguk perlahan. “Berapa hari ini, saya selalu melihat Anda hampir setiap hari datang ke masjid ini bersama wanita tadi”

Aku tersenyum. Seandainya saja pria ini tahu apa yang kulakukan bersama kakakku beberapa hari terakhir di kantor ini, dan mungkin untuk beberapa hari kedepan kami masih berkelana di tempat ini.

“Anda menjual apa? Asuransi?” tanya pria itu lagi

Aku menggeleng. “Hanya memberikan informasi ke klien-klien kami di kantor ini”

Pria itu mengangguk-angguk. “Informasi apa tuh?”

Aku tersenyum. Ingin sekali menjelaskan semuanya, tapi itu akan sia-sia belaka.

Seorang pria muda berkacamata menghampiri pria yang mengajakku berbicara. Tanpa banyak kata mereka berdua langsung meninggalkanku. Pria hitam itu menatapku nanar, seakan tak rela diajak pergi, tapi ia pasrah dengan tarikan pria muda itu.

Kakakku datang. Wajahnya lebih ceria dari tadi ketika meninggalkanku sholat zuhur. Aku tersenyum. Ia lalu memasangku di kaki indahnya.

“Ayo dek, qta berjuang lagi”

“AYO!! SEMANGAT!!!” ucapku penuh tenaga

Kami berdua akhirnya pergi meninggalkan masjid di puncak menara perkantoran itu.

As_3d

*Sekitar 7 tahun lalu, dibuat terinspirasi dari masa-masa down*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s