(Dee Series) The Proposal

Didi tertegun.

Ia tidak bisa berkata apa-apa mendengar semua penjelasan Aryo. Ia tidak harus harus berkata apa.

“Bagaimana, sayang? Apakah kamu menerima pinanganku?” ucap Aryo lembut

Didi menatap mata Aryo kemudian melihat tangan kanan yang sedang dipegang erat oleh tangan Aryo. Dengan pelan Didi menarik tangannya dari genggaman Aryo.

“Aku tidak bisa memutuskannya” jawab Didi serak.

Didi mengalihkan pandangan ke fish steak di hadapannya. Tiba-tiba ia kehilangan selera makan. Rasa lapar yang ia rasakan sebelumnya hilang seketika.

“Bisa kita pulang sekarang?” ucap Didi pelan

Aryo menghentikan kegiatan makannya dan melihat kearah Didi. Didi baru sedikit memakan fish steak kesukaannya, dan sedang menunduk. Aryo ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tidak berani mengatakannya. Aryo menghela nafas pelan dan melambaikan tangan ke pelayan.

Dalam perjalanan pulang, Didi tetap diam. Dia tidak berkata apapun kepada Aryo. Aryo pun sama. Ia takut melukai perasaan Didi. Tapi rasa penasaran Aryo terhadap diamnya Didi membuat Aryo gregetan.

“Jika memang kamu menolak, bilang saja terus terang” ucap Aryo

Didi tetap terdiam dan menatap gelapnya malam dari jendela mobil mewah Aryo.

“Aku berusaha tidak akan sakit hati dengan penolakanmu”

Didi menghela nafas. “Aku mencintaimu, yo. Tapi aku tidak bisa bersenang-senang diatas penderitaan orang lain”

Air mata Didi menggantung di sudut matanya. Mulai terkenang di benak Didi awal dari kebahagiaan yang ia kira hanyalah mimpi belaka.

“Jadi kamu sudah bertemu dengan Aryo?” tanya Nadia, Mama Didi

Didi mengangguk dan tersenyum malu. Didi tahu bahwa ia tidak pintar untuk mengungkapkan semua perasaannya kepada orang tuanya.

“Jadi kamu setuju?”

Didi menaikkan alisnya “Maksud Mama?”

“Dia lah yang Mama dan Papa ingin jodohkan ke kamu”

Wajah Didi bersemu merah. Ia semakin menundukkan kepalanya

Sore itu hati Didi sangat berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya ia dijemput oleh Aryo dan diajak makan malam demi merayakan ulang tahun Didi. Didi tidak bisa berhenti tersenyum lebar. Ia merasakan bahwa Aryo adalah hadiah terbaik yang pernah dikasih oleh Tuhan untuknya.

Setelah memesan makanan, Aryo menatap Didi lekat-lekat dan memegang tangan Didi.

“Boleh aku memanggilmu sayang?

Didi mengangguk.

“Sayang, aku mau menceritakan sesuatu. Tapi janji jangan marah?”

Didi kembali mengangguk

“Aku mau jujur. Aku sudah punya pacar”

Seperti ada petir menggelegar menyambar Didi. Didi shock. Tapi ia tetap berusaha untuk tetap tenang.

“Ketika kutahu, aku mau dijodohkan. Aku marah. Tapi ketika kutahu bahwa wanita itu adalah dirimu. Aku menyetujuinya”

“Lalu pacarmu?”

“Aku putuskan! Dari awal aku tidak pernah serius dengannya. Awalnya aku menolak perjodohan ini karena dia, tapi ketika kutahu dirimu yang dipilihkan mama, maka aku memilihmu”

Didi menelan ludah. Didi tidak tahu harus bersikap apa.

“Jadi, Apakah engkau mau menikah denganku?”

As_3d

*Bagian kelima, i think, ini repost 8 tahun lalu ya*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s