(Dee Series) On the road of cry

“Sampai jumpa say” ucap Nadia setelah mencium kedua belah pipi Didi dan keluar dari mobil Didi.

Didi langsung memutar balik mobilnya dan menyetir pulang kembali kerumahnya. Didi menyalakan radio untuk mengusir sepi di tengah malam menyetir sendirian. Terdengar beberapa lagu mengalun. Tapi Didi tidak menikmati lagu-lagu itu. Ia cenderung melamun ketika menyetir.

“Apa kamu mau seperti diriku yang tidak menikah?”

Jantung Didi berdetak semakin cepat mengingat ucapan itu. Ucapan yang keluar dari mulut salah seorang adik ibunya.

“Apa kamu mau seperti Ais? Lihat umurnya sudah 35!!”
Nafas Didi tercekat. Sesak. Saat itu dia marah kepada adik ibunya itu. Ia tidak peduli jika kelakuannya itu bisa disebut kurang ajar. Tapi ia merasa tidak suka jika harus dibandingkan dengan sepupunya itu.

“I’m well educated!!” ucap Didi sombong “Please don’t ever compare me with her!!!” bentak Didi kepada tantenya itu.

who the hell are you? your not my mother!! Please stop act like my mother! sungut Didi dalam hati

Didi masuk kedalam tol. Itulah jalan tercepat agar bisa sampai rumahnya. Lagipula dia memang sangat suka mengebut dengan MPV nya itu.

Jalan tol lingkar luar itu sangat sepi. Maka Didi memacu MPV nya hingga 110km/jam. Suatu tindakan yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Kecepatan aman maksimum MPV tersebut hanya sampai 90km/jam, tidak boleh lebih jika ingin selamat. Didi tahu hal itu. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin cepat sampai rumah. Ia tidak mau mengkhawatirkan kedua orang tuanya, juga agar kebohongan kecilnya tidak terbongkar.

Panjangnya jalan tol itu membuat Didi kembali melamun. Tatapannya kosong. Meskipun begitu, ia tetap bisa stabil menyetir cepat di jalan tol itu. Jalan tol yang memang rutenya hampir setiap hari beberapa bulan silam. Hingga tidaklah heran Didi sudah hafal seluk beluk tol langganannya itu.

Air itu menetes. Air mata Didi mengalir turun menyusuri pipi tembab Didi. Awalnya hanya mengalir pelan, tapi semakin lama air mata itu semakin mengalir deras. Nafas Didi pun mulai terisak. Ia menangis.

Didi tidak tahu mengapa ia menangis. Ia berusaha menyeka air mata dengan punggung tangannya. Tapi semakin ia berusaha menahan tangis, nafasnya malah semakin sesak.

As_3d

*Bagian pertama, i think, ini repost 8 tahun lalu ya*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s