(Dee Series) Gloomy blue

“Aku tidak mau!!!” ucap Didi dengan nada tinggi.

Dihadapan Didi ada ayahnya yang sedang menatapnya tajam. Ayahnya mengelengkan kepalanya,heran, dengan tingkah anak gadisnya.

“Itu tidak sopan!! Seperti lonte saja klo caranya seperti itu!” bentak ayahnya.

Seperti ada petir menimpa kepala Didi. Betapa sakitnya hati Didi mendengar hal itu. Terlebih kata-kata itu dari mulut ayahnya. Apakah ayahnya tidak percaya kepadanya? Ia tidak mau menjadi anak durhaka. Tapi dia juga tidak mau menjadi kerbau yang dicocok hidungnya. Didi menghela nafas dan mulai mengulang prinsipnya entah untuk yang keberapa kali.

“Terserah ayah jika mau kenalin Didi ke pria manapun. Tapi tempat pertemuannya tidak dirumah!”

“Dimana klo bgitu? Jalan? Seperti lonte? Pelacur?”

Hati Didi seperti tertusuk. Sejelek itukah pikiran ayahnya kepada dirinya?

“khan ada restaurant,ada mall,dan sebagainya.intinya tidak dirumah!” Didi bersikeras

“Itu tidak sopan!”

Didi mengerutkan dahi. ‘Tidak sopan? Dari sisi mana?’

“Terserah. Tapi Didi tidak mau jika dirumah!”

Didi bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamarnya. Sayup-sayup ia dengar kata-kata mamanya.

“Sudahlah yah,jangan dipaksa. Mungkin ia sudah punya pacar. Sabar saja.nanti ia akan mengenalkannya kepada kita”

Hati Didi semakin sakit mendengar ucapan mamanya. Didi berharap kalau saja orangtuanya tahu tentang keadaan dirinya sebenarnya. Tapi Didi terlalu malu untuk bercerita, bahkan kepada orangtuanya sendiri.

Didi merasa ingin kembali menangis,tapi ia tidak bisa. Didi meraih laptop miliknya dan mulai mengetik lirik ‘Gloomy blue’

Didi duduk di sofa besar yang menghadap ke ruangan rekaman. Seorang wanita berjilbab manis sedang duduk di ruangan itu dengan mikrofon dihadapannya. Gadis berjilbab itu sedang sesi rekaman. Rekaman lagu milik Didi.

Gadis itu Nadia, sahabatnya. Ketika Nadia secara tidak sengaja melihat lirik lagu Gloomy Blue, Nadia langsung memaksa Didi untuk memberikan lagu itu kepadanya. Nadia berkata kata-kata dalam lirik lagu itu sangat ‘dia banget’ dan sangat bagus. Didi hanya tersenyum simpul. Ia tidak tahu apakah harus senang ataukah sedih.

Terdengar suara gemuruh di luar studio rekaman. Hari itu gelap, tapi belum menunjukkan rintiknya. Hari itu seperti hari-hari yang beberapa ini melanda Jakarta beberapa hari terakhir. Didi memandang nanar Nadia yang sedang menyanyikan lagunya. Nadia tersenyum dan sekilas melambaikan tangan ketika tahu Didi menatapnya.

seandainya saja Nadia tahu apa maksud dari lagu itu

As_3d

*Bagian kedua, i think, ini repost 8 tahun lalu ya*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s