(Dee Series) Blast from Past

Didi memejamkan matanya sejenak dalam bis Patas AC yang ia tumpangi untuk pulang kerumah sepulang kerja. Didi berdiri bersender di pinggir kursi penumpang bis, karena tidak mendapatkan tempat duduk. Didi merasakan tubuhnya lebih lelah dibandingkan hari biasanya. Didi menekan batang hidungnya keatas hingga kulit diantara alisnya. Terlihat tanda memerah ketika Didi melepaskan tangannya dari wajah.

Ditangan kirinya, Didi memeluk plastik kresek besar. Plastik itu berisi kotak kado dan buket mawar putih yang ia terima siangnya. Sementara tangan kanannya berusaha memegang pegangan bis. Didi mengangkat plastik itu dan mencium wanginya mawar putih. Selama beberapa detik, ia merasakan kenyamanan mencium aroma bunga dan pusingnya menghilang.

Tiba-tiba bis mengerem mendadak. Didi kehilangan keseimbangannya. Badan Didi terdorong ke depan dan menabrak seorang wanita setengah baya. Plastik yang ditangan Didi tidak sengaja terlempar dan tepat mengenai wajah wanita itu. Wanita itu langsung memegang pipinya yang tergores beberapa duri yang keluar dari plastik. Ia menoleh dan menatap Didi marah.

“Maaf, bu” ucap Didi dengan memelas.

Wanita itu membuang muka dan menggeser tubuhnya agar menjahui Didi. Didi tersenyum kecut, permintaan maafnya tidak ditanggapi. Ia memperbaiki posisi berdirinya dan menghela nafas pelan.

Kondektur bis itu berteriak mengingatkan penumpang sebentar lagi sudah sampai pemberhentian berikutnya. Beberapa penumpang yang duduk berdiri dan berdesak-desakan menuju pintu bis.

Didi menuju salah satu kursi deret tiga bagian belakang yang kosong. Ia langsung duduk dibagian ujung dekat jendela, dan menoleh ke arah jalan. Tak lama ia merasakan ada seseorang duduk disebelahnya. Ia sekilas menoleh. Seorang pria.

“Hai Didi”

Didi menoleh dan menatap pria yang duduk disampingnya. Pria itu tersenyum. Didi tidak mengenalnya sama sekali.

“Apa kabar?” tanya pria tersebut

Didi ikut tersenyum, walau dengan perasaan penuh curiga. “Baik. Maaf anda siapa ya?”

Pria itu menatap lekat mata Didi ditengah-tengah keremangan cahaya didalam bis. “Kamu lupa ya?”

Didi menaikkan alisnya mencoba mengingat. Tapi degub jantungnya yang berdetak cepat mengalahkan kemampuan otaknya untuk berpikir. Malah sempat terbersit pikiran buruk tentang pria disebelahnya. Terlebih, banyaknya pelecehan dan kejahatan terhadap kaum perempuan saat ini.

“Aku Aryo”

Didi tetap belum bisa menemukan nama Aryo di memorinya. Didi mengeleng pelan dan mencoba tersenyum. Ia benar-benar tidak mengenal pria tersebut. Ataukah dia memang pernah kenal tapi lupa.

“Maaf. Saya tidak ingat”

“Tidak apa-apa” Aryo menghela nafasnya. Terlihat ada rona kesedihan diwajahnya. “Lagipula terakhir kita ketemu ketika kamu masih smp, kalau tidak salah”

Smp? Didi menaikkan alisnya. Didi mengamati wajah pria yang saat ini memandang ke depan. Didi mempelajari wajah pria tersebut. Berusaha untuk mengingat.

“Anda teman smp saya?”tanya Didi

Aryo menoleh dan tersenyum geli. “Bukan” Aryo menggaruk-garuk kepalanya walau tidak gatal. “Bagaimana ya cara menjelaskannya?”

Rasa penasaran Didi semakin kuat. Siapa pria disebelahnya. Apa hubungannya dengannya

“Aku anaknya… mhm kamu manggilnya apa ya? Bude ya? Bude Nina”

Didi menaikkan alisnya bingung. Didi merasa tidak penah mempunyai bude bernama Nina.

“Maaf. Ibu anda teman ibu saya?” tanya Didi hati-hati. Ia takut melukai perasaan pria tersebut. Karena sama sekali belum mengingat siapakah dirinya.

“Bukan. Mamamu, Tante Nadia itu masih ada saudara dengan ibuku”

Saudara mama? Berarti pria ini saudaraku juga? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali ya?

“Berarti anda saudara saya?”

“Duh, jangan terlalu formil. Panggil aja Aryo. Yah bisa dibilang kita berdua masih ada hubungan saudara. Hanya saudara jauh. Hehehehe…” ucap Aryo sambil terkekeh

Didi tersenyum tipis mendengarnya.

“Gmana, kamu suka dengan hadiah dariku?”

“Apa?”

Aryo menunjuk ke plastik kresek yang sedari tadi dipeluk Didi. Didi melihat ke plastik tersebut. Jantung Didi kembali berdetak kecang. Wajahnya pun dengan perlahan memerah.

“Ini semua darimu?” Desis Didi tidak percaya

“Iya. Suka?”

Didi merasakan detak jantungnya. Entah kenapa ia merasa berbunga-bunga. Ia masih mengingat jelas tulisan dikartu di rangkaian mawar putih.

Dear Didi, Happy Birthday, Sunshine. Always Love u. Love, H.

Didi menoleh. “Terima kasih. Terima kasih juga sudah ingat ulang tahunku. Tapi namamu Aryo khan. Kenapa inisialnya H bkn A?”

Aryo menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum geli.

“Ya namaku khan Haryo, tapi biasa dipanggil Aryo. Aku mau memberi kejutan ke kamu. Kalau kutulis inisial A, nanti kamu langsung inget aku, jadi kupakai inisial H. Eeeh… ternyata kamu sama sekali tidak inget denganku” Aryo tertawa lepas.

Sementara Didi terpaku. Nafasnya agak sesak.

Oh Tuhan… apakah diriku sedang bermimpi? Haryo, Pangeran mimpiku ketika aku remaja duduk disampingku? Lalu memberikan kado ulang tahun dengan tulisan Always love u? Ini hanya khayalan atau kenyataan? Apa serius dia menuliskan semua itu?

“Didi…” panggilan Aryo memecahkan lamunan Didi

Didi menoleh dan menatap Aryo “Ya?”

“Sudah mau sampe rumahmu”

“Oya ya?”

Didi tersadar dan menoleh pemandangan diluar bis dari jendela. Aryo berdiri dan mempersilahkan Didi keluar. Kemudian Aryo mengikuti Didi dari belakang menyusuri lorong bis.

“Turun disini juga?” tanya Didi salah tingkah

Aryo tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Didi. “Khan harus menjagamu utuh sampai rumah”

Wajah Didi langsung merona merah.

As_3d

*Bagian keempat, i think, ini repost 8 tahun lalu ya*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s