(Dee Series) After the Rain

Didi duduk di sebuah ruang kecil berukuran 2 x 3m di salah satu sudut kantornya yang dijadikan Mushola. Sebenarnya, ada Mushola yang lebih besar di basement gedung kantornya, tapi Didi lebih memilih untuk menunaikan ibadah di tempat itu untuk menghemat waktunya.

Ruang itu dibatasi oleh dinding kaca setinggi dua meter yang membatasi dengan udara luar. Saat itu sedang hujan deras disertai angin. Tampak pohon-pohon di luar gedung menari kekanan dan kekiri mengikuti arah angin yang menariknya. Didi melihat pemandangan hujan deras itu dengan tatapan nanar dan kosong.

Didi menghembuskan nafas berat.

Kenapa jadi seperti ini? Apakah ini semua memang nasibku? ataukah takdirku?

Sekilas Didi melihat bayangannya di kaca besar. Didi melihat pantulan wajah di kaca dan menatapnya sedih.

Diana Dewi… Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang wanita muda biasa. Aku tidak cantik. Aku tidak pintar. Dan sekarang aku sendirian tanpa siapapun.

Didi merasakan matanya memanas. Sepertinya air mata sudah memaksakan untuk keluar dari mata Didi. Pandangan Didi kabur tertutup air yang siap tumpah dari matanya.

Semalam, dengan segenap ego yang dipendam, Didi menghadiri resepsi pernikahan Rio. Disana ia melihat istri Rio, Tessa, untuk pertama kalinya. Selama ini, Didi belum pernah bertemu dengan Tessa. Ketertutupan Rio terhadapnya setelah mereka putus, menjadikan Didi menyimpan dendam kepada Tessa. Didi selalu membayangkan Tessa seperti layaknya wanita muda yang manja, suka dugem, penampilan serba mini, dan segala keburukan lain dapat terpikir oleh Didi.

Semua lamunan Didi itu salah. Tessa memakai jilbab. Bukan jilbab yang sering dipakai artis-artis ketika bulan Ramadhan tiba, atau jilbab gaul yang sering dilihat Didi di sekitarnya. Tessa memakai jilbab panjang, dan sangat cantik sekali malam itu. Hati kecil Didi mengakui hal itu. Tessa jauh lebih cantik dan jauh lebih beriman dibandingkan dirinya.

Didi menyenderkan kepalanya ke dinding kaca dan menatap langit-langit mushola. Tangannya menghapus air mata yang terus menetes ke pipinya. Didi mengatur nafasnya yang mulai terisak agar kembali normal. Tapi ingatan akan serasinya Rio dan Tessa di benaknya, membuat tangisnya semakin menderas.

Suara langkah kaki mendekati mushola kecil, menyadarkan lamunan sedih Didi. Ia langsung menegakkan punggungnya dan cepat-cepat menghapus air matanya menggunakan mukena tadi ia pakai untuk sholat. Ia tidak mau seorangpun di kantornya mengetahui kesedihannya.

“Didi…”

Muncul sebuah kepala dari balik dinding dan menyapa Didi penuh senyun. Didi menoleh dan tersenyum sewajar mungkin. Orang yang menyapanya itu adalah Cahya, salah satu rekan kerjanya.

Wanita muda berambut pendek bernama Cahya langsung menangkap aura kesedihan Didi. Ia langsung duduk di hadapan Didi.

“Ada apa, Didi?” tanya Cahya

Didi menggeleng pelan dan tertawa kecil. “Tidak ada apa-apa”

Cahya memandang Didi penuh perhatian “Matamu bengkak. Habis nangis ya?”

Didi tertawa. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengelak kecurigaan Cahya.

“Iya nih. Kemasukan debu segede gajah. Jadi bengkak. Daritadi gatel-gatel” canda Didi sambil mengucek-ucek matanya.

Cahya mengerutkan keningnya. Antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Didi. Tapi ia sendiri tidak berani mengorek-ngorek penjelasan lebih lanjut. Ia takut akan membuka luka hati Didi.

Cahya menghiraukan perasaannya dan tersenyum lebih lebar memandang Didi. “Oh ya! Didi… ada kiriman buat dirimu”

“Kiriman?”

Cahya mengangguk. Cahya langsung mencium kedua pipi Didi.

“HAPPY BIRTHDAY!!!” Teriak Cahya setelah mencium Didi.

Mata Didi terbelalak. Kaget. Ia tidak pernah mengatakan kepada siapapun di kantornya bahwa ia berulangtahun. Didi pun yakin, tidak mungkin ada orang yang rajin membuka file data pribadinya dari berkas di ruang HRD.

“Terima kasih” ucap Didi “Tahu dari mana?”

Cahya tersenyum lebih lebar. “Ayo!”

Cahya menggandeng lengan Didi dan menariknya lengan Didi untuk bangun untuk berjalan keluar dari mushola. Didi merapihkan mukenanya dan meletakkannya kembali ketempatnya Saat keluar dari mushola kecil, beberapa dari rekan kerja Didi berdiri dari kursinya dan mendekati Didi. Ada yang mencium kedua pipi Didi, atau hanya sekedar menjabat tangan Didi. Semua dengan ramah mengucapkan selamat ulang tahun dan berdoa sekedarnya.

Antara percaya dan tidak mendapati situasi itu, Didi merasa seperti bermimpi. Ia sendiri masih bingung siapakah yang menyebarluaskan dirinya ulang tahun. Hampir tidak ada rekan kerjanya yang ia kenal dekat, dan Didi pun yakin mereka tidak mau susah payah kenal dekat dengannya. Terlebih, ia sebenarnya berulang tahun kemarin, bukan hari ini.

Cahya membawa Didi ke meja kerjanya. Diatas meja bersekat itu terdapat sebuket mawar putih dan kotak besar dengan pita diatasnya.

“Inilah kirimannya Didi” ucap Cahya

Didi yang masih takjub akan kejutan itu hanya mengangguk pelan.

“Terima kasih. Dari siapa?”

Cahya menaikkan bahunya.

“Pacarmu mungkin. Tadi ada kurir yang mengantarkan semua ini keatas. Katanya, titipan kilat khusus untuk Diana Dewi” ucap Cahya penuh senyum nakal menggoda Didi.

Didi tersenyum simpul dan menatap hadiah di mejanya.

Pacarku sudah menikah dengan orang lain

Didi mengambil buket mawar putih. Siapa yang mengetahui dirinya menyukai mawar putih, bukan merah ataupun warna lainnya? Rio sendiri yang pernah bersamanya tiga tahun belum tentu tahu ia hanya suka mawar jenis ini.

Ada sebuah kartu kecil yang diselipkan diantara rangkaian mawar putih. Didi membaca isinya,

Dear Didi,
Happy Birthday, Sunshine
Always Love u
Love,
H

Didi menaikkan sebelah alisnya. Berpikir.

H? Siapa H? Apa aku punya temen, saudara yang namanya dimulai huruf H? Sepertinya tidak ada. Dan sunshine… sepertinya aku familier dengan panggilan itu, tapi panggilan apa ya?

“Ayo Didi, buka hadiahnya” ucap Cahya memecahkan lamunan Didi.

Didi menoleh ke Cahya. Ternyata beberapa dari rekan kerjanya sudah mengerubungi dirinya dan Cahya. Beberapa dari mereka menyoraki Didi untuk cepat-cepat membuka kotak dihadapannya. Didi tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya, ia merasakan kebahagian di perusahaan itu.
Dengan gemetar, ia menarik pita yang mengikat kotak besar itu. Jantung Didi berdetak lebih kencang seiring dengan tangannya yang membuka kotak tersebut. Isi didalam kotak tersebut ditutupi oleh kertas putih. Dengan jantung semakin berdebar, Didi membuka perlahan kertas putih untuk melihat isi kotak.

Sebuah gaun. Gaun lengan panjang berwarna hitam dengan bahan sutra. Didi menelan ludah melihat gaun itu. Dengan perlahan ia mengangkat gaun dari kotaknya.
Wah…Cantik sekali. Harganya pasti sangat mahal.

“Ckckck… bagus sekali…” puji salah satu rekan kerja Didi

“Pacarmu royal sekali” puji yang lain

“Iya, kamu beruntung Didi memilikinya” ucap yang lain

Didi menoleh menatap rekan kerjanya satu persatu. Ia tersenyum simpul. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidaklah mungkin baginya untuk menceritakan kepada rekan-rekannya bahwa ia sudah tidak mempunyai pacar, dan ia tidak tahu siapa pengirim hadiah itu.

“Terima kasih” ucap Didi akhirnya

As_3d

*Bagian ketiga, i think, ini repost 8 tahun lalu ya*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s