Aura

“ATIIIIHHHHH!!!!” teriakan itu terdengar hingga keujung jalan rumah kompleks mewah itu. Risa yang mendengarnya hanya menggeleng kepala pelan.

Risa berjalan perlahan dan semakin menudukkan kepalanya menuju rumah mewah milik ayahnya. Malu. Malu akan kelakuan kakak tirinya yang seakan-akan sudah putus urat malunya. Hampir setiap hari kakak tirinya itu teriak-teriak di rumah. Tidak hanya menjerit memanggil pembantu mereka, tapi juga selalu membentak jika berbicara kepada dirinya ataupun ibunya. Ia membuka pintu pagar dan menatap nanar rumah megah itu.

Rumah itu dibeli oleh ibu dan Ayah tirinya ketika masih menjadi pejabat di salah satu departemen kementrian di Jakarta. Risa tidak pernah betah tinggal di rumah mewah itu. Ia lebih memilih tinggal di appartemen yang diberikan ayah tirinya kepadanya. Tapi semenjak kematian ayah tirinya juga penyakit stroke yang menimpa Ibunya, Risa terpaksa pindah ke rumah itu. Tinggal bersama dengan Isye, kakak tirinya.

“RISA!!” teriak Isye. “Ngapain lo ngelamun disana?”

Wanita berusia 35 itu tiba-tiba sudah berdiri di pintu depan rumah sambil menaruh kedua tangannya di dadanya. Isye melotot melihat Risa, kesal mengapa gadis itu baru pulang.

“Dari mana saja?” ucap Isye dengan suara tingginya

“Interview pekerjaan kak”

Isye melengos. “Emang kamu bisa apa? Cuma lulusan D3 aja bangga! Pasti tadi ngga keterima”

Risa hanya terdiam. Ia sudah terbiasa dengan hinaan seperti itu. Mungkin memang benar semua kata-kata Isye, dia tidak bisa apa-apa.

“Cepet masuk!! Nyokap lo dari tadi manggil-manggil mulu. Gw repot ngurusinnya” bentak Isye

Risa mengangguk. Ia cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan setengah berlari menuju kamar ibunya.

***


“Ia buta?” tanya Isye

Nani menggeleng. “Katanya dia bisa lihat aura semua orang. Aura buruk” ucap Nani berbisik.

“Lalu semenjak dia meramalkan salah satu sahabatnya bahwa ada aura kematian di wajahnya, dan tu sahabatnya beneran mati, dia memutuskan memakai kain buat nutup matanya”

Isye mengangguk-angguk mendengarkan cerita Nani. Hari itu ia dan Nani mendatangi rumah madam Agnes, seorang peramal kartu tarot yang dikagumi di kalangan teman-teman arisannya. Mereka masih menunggu giliran untuk diramal, kegiatan baru bagi Isye, tapi kegiatan rutin bagi Nani yang tak bisa lepas dari nasehat-nasehat Agnes.

“Lalu bagaimana dia bisa lihat kartu tarotnya?” tanya Isye polos

“Kartu miliknya khusus. Isinya bukan gambar-gambar seperti kartu tarot biasa, tapi garis-garis yang timbul, hingga dia bisa meraba kartunya lewat tangan”

Isye mengangguk-angguk. Antara kagum dan penasaran. Ia belum pernah diramal sebelumnya. Selama ini dia melihat ramalan hanya ramalan bintang dari majalah dan buku-buku psikologi.

Nani menyikut pinggang Isye “Kita sudah dipanggil”

Seorang wanita dengan rambut lurus duduk disebuah meja besar. Matanya ditutup oleh kain hitam dan diikat di belakang kepalanya. Ia menunggu dua tamu barunya sampai duduk dihadapannya. Ia langsung tahu siapa yang datang.

“Nama anda?” tanya madam Agnes langsung ketika Isye duduk dihadapannya.

“Isye” jawab Isye bergetar. “Isye Alisyahbara”

“Nama yang unik. Temanmu jeng Nan?”

“Iya, ini sahabat saya, Madam” jawab Nani

“Jadi, anda mau bertanya apa Jeng Isye?”

Isye berfikir sejenak. Sungguh malu rasanya jika ia bertanya mengenai hal yang selalu menjadi pikirannya selama 10 tahun terakhir. Belum sempat Isye membuka mulutnya, Madam Agnes berkata

“Jodoh bukan?”

Madam Agnes langsung tersenyum lebar. Ia merasa tebakannya sangat tepat.

Isye menelan ludah. Ia mulai merasa seluruh tubuhnya dialiri listrik mendengar ucapan Madam Agnes. Rasa malunya semakin bertambah.

“Tenang saja. Anda bukan orang pertama yang menanyakan hal itu kepada saya, dan pasti bukan orang yang terakhir.”

Madam Agnes memberikan setumpuk kartu ke Isye. “Tolong kocok”

Isye menuruti dan mengocok kartu tersebut. Setelah puas ia memberikan kembali kearah Madam Agnes. Madam Agnes langsung menaruh beberapa kartu di atas mejanya dan membuat semacam formasi lingkaran kartu.

“Mau berita buruk atau berita baik?” tanya Madam Agnes

Isye menelan ludah. Ia membenci berita buruk. “Buruk saja”

“Anda akan melajang seumur hidup”

Rahang Isye seperti jatuh ketanah mendengar hal itu. Ucapan Madam Isye lebih tepat bagai sebuah kutukan baginya.

“APA-APAAN INI?!?!?” teriak Isye. Ia berdiri dan menatap benci Madam Agnes “Anda keterlaluan mengatakan hal ini kepada saya!! Jangan harapkan uang dari saya untuk ramalan bodoh seperti ini!”

Isye berbalik dan meninggalkan Madam Agnes dan Nani. Nani merasa salah tingkah. Ia terdiam tak berani berkomentar terhadap ramalan Madam Agnes, tapi juga malu karena Isye sudah seperti kesetanan teriak memaki-maki Madam Agnes yang menurutnya sangat baik hati.

“Tidak usah risau, Jeng Nan. Saya tidak pernah sakit hati dengan model klien seperti itu” ucap Madam Agnes yang seakan tahu pikiran Nani.

“Saya saja yang membayar ramalan Madam”

“Tidak usah”

Madam Agnes menggeser posisi kain hitam dari matanya dan membuka kain tersebut. Untuk pertama kalinya, Nani melihat langsung wajah asli Madam Agnes. Wajah wanita itu sangat mulus dengan mata berwarna hijau dan hidung bangir khas orang bule. Madam Agnes tersenyum ramah ke Nani.

“Madam, cantik sekali” puji Nani spontan

“Terima kasih Jeng Nan”

“Kenapa Madam membuka mata Madam dihadapan saya?”

“Karena saya ingin melihat aura wajah Jeng Nan. Wajah sahabat dari orang yang sebentar lagi meninggal dunia”

***

“Mama butuh obat” ucap Risa nyaris membisik.

Isye mengalihkan pandangan dari layar laptop dihadapannya ke Risa “Lalu?”

“Obatnya habis, kak”

Isye tertawa keras “Udah bilang aja, lo minta uang. Ngga usah pake berbelit bilang nyokap lo butuh obat”

Risa terdiam. Tidak berani berkomentar banyak. Wanita dihadapannya adalah harapan satu-satunya bagi kesembuhan ibunya. Risa mengamati Isye yang sibuk mengobrak abrik tasnya.

“Damn! Dompet gw hilang” ucap Isye. Ia lalu menatap Risa penuh sinis “Lo ngambil dompet gw?”

Risa menggeleng keras. “Aku ngga pernah lihat dompet kakak”

“BOHONG!!!” teriak Isye. “Semenjak lo berada disini, gw selalu kehilangan barang”

“Bener kak. Aku ngga pernah lihat”

Risa mulai menyesal mengapa tadi ia mengatakan kepada Isye bahwa obat ibunya habis. Tapi Risa sudah tidak punya uang lagi. Semua account tabungannya telah dialihkan atas nama Isye semenjak ayah tirinya meninggal. Isye berkata saat itu bahwa Risa tidak pantas menikmati hasil kerja keras ayahnya.

“Ya sudah. Gw ngga punya uang cash. Gw baru minggu depan ke bank, Lo nunggu minggu depan aja buat beli obat untuk nyokap lo”

Tubuh Risa bergetar. Cepat-cepat ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang kerja Isye. Matanya pun sudah memanas siap menumpahkan air di pipinya. Sikap Isye benar-benar keterlaluan baginya, tapi lagi-lagi Risa tidak bisa berontak ataupun marah-marah ke Isye.

***

Pagi-pagi buta, Risa terbangun kaget dari tidur duduknya ketika tangannya dicubit oleh ibunya. Dengan terbata-bata ia melihat ibunya yang berbaring dihadapannya berkata “Empa” berkali-kali. Risa merasa tanah yang ia injak bergetar. Dengan cepat ia mendekatkan kursi roda ke tempat tidur dan mengangkat tubuh kurus ibunya ke kursi roda. Dengan setengah berlari, ia mendorong ibunya menuju keluar rumah. Goncangan itu semakin lama semakin keras. Risa spontan menglafalkan semua dzikir yang ia hapal luar kepala.

Di jalan depan rumahnya, Risa melihat banyak tetangganya yang sama-sama keluar rumah. Belum pernah Risa melihat orang sebanyak itu di jalanan kompleks mewah rumahnya. Selama ini ia hanya melihat mobil-mobil mewah mereka, bukan orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut. Rata-rata dari mereka berpenampilan seadanya, pakaian rumah yang lusuh, piyama, daster, bahkan ada beberapa diantara mereka yang mengenakan kutang dan celana pendek.

Mereka yang biasanya berpenampilan necis dan tak pernah terlihat batang hidungnya, satu per satu saling menyapa. Saling bertanya satu sama lain apakah baik-baik saja. Risa yang masih pusing karena goncangan gempa seakan tidak percaya bahwa bisa seakrab itu dengan para tetangga yang nyaris tidak ia kenal. Sejenak ia bersyukur bahwa pagi buta itu ada gempa kekuatan besar yang mengakrabkan lingkungan individualistis rumahnya.

Tiba-tiba Risa menyadari sesuatu, ia belum melihat Isye.

Setelah gempa berhenti, Risa kembali masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah ternyata cukup berantakan. Lampu gantung kristal yang terpasang di langit-langit ruang tamu jatuh dan kristalnya berhamburan di lantai rumah. Beberapa lukisan juga jatuh karena dinding rumah yang retak. Dengan hati-hati, Risa mendorong kursi roda ibunya kembali menuju kamarnya. Setelah memastikan ibunya bisa ditinggal, ia meminta ijin untuk melihat keadaan Isye.

Risa membuka pelan pintu kamar Isye. Isye tidak ada di kamarnya, dan tempat tidurnya masih tampak belum ditiduri. Risa menuju ke ruang kerja Isye. Betapa kagetnya Risa ketika sampai di ruangan itu, ia melihat tubuh Isye yang tergeletak di lantai dengan sebuah lemari kaca menimpa punggungnya. Risa mendekati tubuh Isye dan memegangnya. Dingin dan kaku. Isye meninggal dunia.

***

Nani menatap nanar pemandangan yang sedang terjadi dihadapannya. Beberapa laki-laki sibuk mencangkul tanah untuk mengubur jenasah Isye, sahabat SMA nya. Ia mulai teringat kejadian ketika masih berada di tempat Madam Agnes.

“Maksud Madam? Isye akan meninggal dunia?”

Wanita indo-belanda itu mengangguk sambil tetap tersenyum.

“Madam bisa tahu dari kartu-kartu ini?”

Madam Agnes menggeleng pelan. “Dari semenjak kalian datang dan duduk dihadapan saya, saya sudah merasakan aura buruk dari teman Jeng Nan. Saya tidak begitu yakin awalnya karena saya menutup mata saya. Tapi aura buruk itu sangat terasa jelas ketika ia meninggalkan ruangan ini”

Nani terdiam. Shock mendengar ucapan Madam Agnes.

“Saya penasaran, maka saya membuka mata saya dan melihat Jeng Nan. Ternyata firasat saya benar”

“Aura saya bagaimana Madam?”

Madam Agnes tersenyum. “Saya bukan Tuhan. Saya tidak bisa meramalkan kapan Jeng Nan meninggal”

“Tapi koq bisa meramalkan Isye meninggal?”

“Aura itu adalah cerminan dari apa yang anda pikirkan dan lakukan. Teman Jeng Nan sangat jahat kepada orang-orang disekitarnya, hal itu mengakibatkan ia dikelilingi oleh aura buruk. Aura itu bisa membunuh. Meski kematian itu hak royalti Tuhan, tapi manusia bisa berusaha agar tidak terbunuh oleh auranya sendiri”

Nani terdiam. Ia memang mengetahui betapa jahatnya Isye memperlakukan ibu dan adik tirinya. Isye bahkan pernah mengatakan ingin membunuh mereka berdua agar semua warisan almarhum ayahnya jatuh ke tangannya.

“Madam, bukannya tadi Madam meramalkan ada berita baik untuk Isye?”

Madam Agnes tersenyum “Benar. Berita terbaiknya adalah ia beruntung mempunyai keluarga yang menyayanginya”

Lamunan Nani terpecah ketika seseorang tak sengaja menyenggol badannya. Refleks Nani melihat dua orang wanita yang sedang duduk bersimbah air mata, Risa dan Ibunya.

***

As_3d

*again repost 8 tahun lalu, dan keknya salah satu temanku muji-muji cerpen ini. Walau…. keknya nothing special*

Advertisements

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s