Untittled #1409

Siang itu handphone pintarku berbunyi. Aku yang terbiasa dihubungi oleh nomor asing tidak menaruh curiga, ataupun kepikiran akan ditelepon oleh pria itu. Nomor handphoneku sudah terlalu tersebar dimana-mana.

“Ya, Halo.” sapaku seperti biasa. Tidak terdengar balasan dari seberang sana. Aku menjauhkan handphone dari telingaku untuk memastikan panggilan itu masih tersambung. Ternyata masih.

“Halo? Siapa ini?” ucapku mulai tidak sabaran.

“Dengan Rindia Santi Febriana?” suara pria terdengar pelan dan tidak yakin.

Aku menaikkan alisku. Siapa yang menghubungiku, dan tahu nama lengkapku? Jika bukan orang dari kampusku, pasti dari bank menawarkan kartu kredit atau asuransi, atau apapun itu yang berbentuk penawaran.

“Ya, benar. Ada apa?”

“Gue eh maaf. Maksud saya, ini saya Gerald.”

Sepertinya bukan dari bank, karena pasti biasanya telemarketing bank sudah nyerocos panjang lebar menjelaskan produknya. Mungkin ini salah satu klienku, atau kenalanku.

“Gerald? Maaf, mas. Dari perusahaan apa, mohon maaf. Saya tidak ingat.” Aku mulai bangkit dari kubikelku dan bergerak keluar dari ruangan kantorku.

“Bukan. Saya Gerald, anak Om Hafid.”

“Om Hafid Meta? Maaf siapa ya? Hafid siapa?”

“Bisa kita bertemu, Mbak Rindia? Sekarang?”

“Bertemu?”

“Saya sudah di lantai bawah gedung kantor mbak. Saya naik ke ruangan mbak atau saya tunggu mbak di lobby?”

“Ha?”

Sebuah tepukan di bahu mengagetkanku, dan sekretaris bosku tersenyum dibelakangku. “Rin, ada tamu nyari kamu dibawah.”

“Itu saya, jadi saya naik ke atas, atau tunggu di lobby?” Pria itu seperti menjawab apa yang sedang kupikirkan.

“Ok. Saya kebawah.”

***

Aku tidak mempercayai penglihatanku. Seorang pria gagah berdiri menyambutku ketika aku turun dari tangga kantor. Ia tersenyum canggung, dan entah seperti apa ekspresi kagetku melihat dia.

“Hai.” Pria itu mengulurkan tangannya. Aku dengan canggung menjabat tangannya. “Apa kabar?”

“Baik.” Jawabku singkat. “Maaf, ada apa ya?”

Pria itu memberikan signal bahwa perlu privasi untuk berbicara berdua denganku. “Mau lunch diluar?”

“Lunch?” aku refleks melihat jam tanganku. Ah jam 1 siang, aku sampai lupa jika sudah tengah hari.  Aku tersenyum menatap pria itu lagi. “Sorry, banyak deadline, hampir lupa makan siang. Okay, tunggu sebentar. Saya ambil tas dulu.”

Pria itu membalas senyumanku. “Take your time.”

Aku membalikkan badan dan mulai membayangkan awal pertemuanku dengan pria gagah itu.

***

“Rindiaa…” ibuku membuka pintu kamarku dengan wajah sumringah. “Hayooo bangun dong, gerakan itu badan gemukmu dan mulai olahraga. Masa kamu tidak kangen jadi kurus?”

Aku menarik salah satu bantal dan menutup wajahku. Aku makhluk notrunal, bukanlah morning person. Ibuku tahu hal itu, dan entah mengapa hari ini mulai menggodaku dengan urusan berat badan.

Ibuku duduk disampingku dan mulai mengelitiki pinggangku. Tindakan yang membuatku semakin tidak bisa kembali tidur dan terpaksa membuka mata dan duduk menatapnya. “Yaaa apa? Olahraga? besok saja, ma. Ini hari sabtu, biarkanlah anakmu ini tidur sampai siang.”

“Ya sudah. Terserah. Badanmu ini, kamu yang merasakan. ” Ibuku bangkit dan berdiri disamping tempat tidurku. “Besok malam kita diundang makan malam sama keluarga Hafid.”

“Hafid?” aku masih belum “on”.

“Iya itu lho… yang punya anak bujangan gagah, ganteng itu. Kamu suka kan pria-pria seperti itu.”

“Oh ya.” Jawabku singkat. Berusaha mengumpulkan nyawa dan mulai mengingat. Akhir-akhir ini aku memang menjadi sangat pelupa sekali.

“Kamu bisa kan? Tidak ada acara bukan?”

Aku mengangguk, tapi lebih kearah mengangguk ngantuk.

“Okay. Jangan lupa ya. Besok malam.” Ibuku berjalan menuju pintu kamar, dan akhirnya keluar dari kamarku.

Sejenak aku tetap duduk dengan terkantuk-kantuk. Entah berapa lama sampai aku akhirnya mulai menyadari sesuatu, aku mau dijodohkan!

***

Aku merasakan telapak tanganku mendingin, aku sangat gugup berjalan berdampingan dengan pria asing dengan profil A+. Pria itu tinggi sekali, kemungkinan nyaris 190cm. Sehingga membuatku merasa sangat pendek karena hanya sampai setinggi bahunya. Wajah pria itupun juga putih bersih, bahkan lebih bersih dari wajahku yang tanpa jerawat ini. Bahunya juga bidang, nyaris seperti model. Dia cukup sempurna menjadi pria yang dikagumi banyak wanita. Dan sekarang kami jalan berdampingan, entah aku harus bangga, ataukah khawatir?

Sebelumnya kami pernah bertemu, di acara makan malam keluarga Hafid. Gerald adalah anak bungsu dari keluarga itu. Makan malam itu adalah acara perkenalan keluarga,  ibuku dan ibunya Gerald seperti telah merencanakan tentang penikahan, tapi bukan pernikahan antara aku dan Gerald, tapi antara aku dan Anton, kaka Gerald. Bahkan, malam itu aku tidak begitu ngeh akan kehadiran Gerald. Dia seperti berada di dunianya sendiri, tidak benar-benar bergabung bersama kami. Lalu beberapa bulan berikutnya, pria ini menghampiri kantorku tiba-tiba.

Setelah sampai di restoran dekat kantorku, kami langsung memesan makanan, dan kemudian duduk berhadapan sambil saling terdiam.

“So…” ucapku memecah kesunyian “Ada apakah mencari diriku?”

Gerald tersenyum. “Jadi beberapa hari yang lalu gue, eh nggak apa-apakan gue ngomong gue-loe? Biar ndak kerasa formal.”

Aku tertawa. “Silahkan.”

“Okay, beberapa hari lalu gue mimpi aneh, mimpiin loe.”

Aku terkekeh. “Okay, jangan bilang kalo ngimpi yang aneh-aneh, dan kamu jauh-jauh menghampiriku hanya untuk cerita hal ini?”

Gerald terdiam dan menatap mataku lama. “Sebenernya, iya.” suaranya serak.

Keheningan terjadi kembali antara aku dan Gerald. Beruntung pelayan restoran menghampiri kami dan menaruh pesanan diatas meja. Aku langsung menyeruput es teh tawarku, tiba-tiba kerongkongan terasa kering.

“Will you marry me?” ucap Gerald cepat.

Aku kaget dan teh tawar salah masuk ke tenggorokan. Aku terbatuk-batuk akibat tersedak itu.  “Apa maksudmu?”

Gerald menaikkan kedua bahunya. “Mas Anton sepertinya belum tertarik untuk mengakhiri masa lajangnya, lalu daripada kamu ditolak mentah-mentah, kenapa tidak menikah denganku? Toh, mama sudah sangat jatuh hati denganmu.”

Aku menatap tajam mata Gerald, berusaha mencari jawaban dari semua pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otakku. Pria dihadapanku tadi bilang memimpikanku, sekarang dia mau menikahiku? Ini maksudnya apa? Tapi aku tidak bisa menatap matanya lebih dari 3 detik.

“Kamu serius?”

Gerald mengangguk dan tersenyum lebih lebar. Kali in. “So, will you?”

Aku menaikkan sebelah alisku heran. “Sebentar, Mas Gerald. Kamu tiba-tiba datang ke kantorku, lalu mengajakku makan siang, lalu tadi cerita tentang mimpimu, dan sekarang mau melamarku? Maksudmu apa?”

Gerald menyenderkan punggungnya, “Iya, awalnya gue bermimpi. Mimpiin kamu. Mimpi itu terus berulang sampai dua hari lalu, mimpi itu berhenti. Lalu gue ngerasa nggak tenang. Gw akhirnya tanya ke mama, dan lalu gue dapat no telpmu dari Tante Mita, juga alamat kantormu. Dan ketika gue ngelihat kamu turun dari tangga kantormu, gue langsung yakin. You’re the one.”

Aku mengedip-ngedipkan mata, berusaha menyadarkan diri bahwa ini bukan mimpi,  barusaja ada pria yang melamarku hanya karena dia memimpikanku.

“Aneh…” ucapku akhirnya setelah terdiam lama.

Gerald tidak mempedulikan ucapanku. Dia mulai menyantap ayam goreng penyet pesanannya. Sementara aku mendadak kenyang dan tidak menyentuh makananku.

“Kamu tidak makan?” ucap Gerald dengan mulut penuh makanan.

Aku mencoba tersenyum dan menggeleng pelan. “Nanti makanannya dibungkus aja.”

Gerald menaikkan kedua bahunya dan kembali meneruskan makannya. Setelah meminta pelayan untuk membungkus makananku, yang kulakukan hanya terdiam mengamati pria dihadapanku makan.

“Sudah berapa banyak gadis yang kamu lamar dengan cara seperti ini mas?” ucapku spontan.

Pria dihadapanku tiba-tiba terbatuk, sepertinya Gerald tersedak. Wajahnya memerah karena selama beberapa saat tidak berhenti batuk. “Jadi kamu tidak percaya jika niatku tulus?”

Aku tersenyum. “Maaf. Terlalu aneh. Kita belum saling mengenal, bahkan kemarin waktu aku ke rumahmu, kamu tidak benar-benar ada di rumah. Kemudian, mas tiba-tiba, tidak ada angin tidak ada hujan, melamarku?”

“Apa yang aneh? Keluarga kita saling mengenal. Aku sudah tahu kamu sedari kecil. Lalu, waktu kamu ke rumah…” Gerald terdiam, dan menatapku lama. “Aku marah, karena harusnya aku yang ada di posisi Mas Anton.”

“Dari kecil?”

Gerald tersenyum sumringah. “Yap, little Indy. I love you since you’re first step.”

“First step?”

Gerald berdiri dan mengambil dompet dari saku celananya. Ia membuka dan mengeluarkan potongan foto yang sudah menguning. “Ini foto kita dulu. 28 tahun lalu.”

Aku menerima foto itu dan mengamatinya dengan penuh kebingungan. Ya itu wajahku ketika berumur satu tahun, dan ya foto itu diambil di halaman rumah kakekku. Aku menatap Gerald dengan bingung.

“So, Indy?”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

 

***

 

As_3d
Tangerang, 13 Okt 2013

*Yay first publishing story in 2013. Sorry with mess*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing