Sepatu Bola untuk Kaka

Bocah mungil itu berlari kecil menyebrangi perempatan jalan sore itu. Ia melakukan pekerjaan part-timenya sebagai penjual koran sore yang menjabat sebagai pengemis plus pengamen jalanan. Bocah dengan rambut merah itu langsung menempelkan wajahnya di kaca mobil sedan terdepan dideretan perempatan jalan itu.

Wanita didalam mobil itu tersenyum simpul memandang wajah balita disamping kirinya itu. Wanita itu mengambil kotak permen yang memang ia sediakan untuk membagikan isinya kepada pengemis kecil seperti bocah itu.

“Ini buat kamu” ucap wanita itu ramah ketika jendela mobilnya telah terbuka. Ia memberikan beberapa permen ke tangan bocah itu
Bocah itu menerima dengan enggan. Tidak ada senyum diwajahnya.

“Kurang?” tanya wanita itu

Bocah itu menggeleng “Makasih, tante. Tapi saya lebih suka uang. Aku mau beli sepatu bola”

“Saya tidak ada uang kecil. Lagipula kamu seharusnya sekolah, bukan mengemis seperti ini” ucap wanita itu meninggi.

“Aku sekolah, Tante. Masuk pagi. Kata guruku, kalo aku bisa masuk tim sepak bola sekolah, bisa beasiswa buat sekolah. Makanya aku menjual koran sore dan mengemis biar bisa beli sepatu bola”

Penghitung mundur lampu lalu lintas sudah berada di angka 10 detik. Wanita itu menghela nafas pelan. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan dompetnya. Tapi ia tidak mengeluarkan uang, melainkan sebuah kertas.

“Klo kamu sekolah, pasti bisa baca. Suruh orang tuamu atau kakakmu datang ke alamat ini jika kamu mau sepatu bola” ucapnya sambil memberikan kertas berupa kartu nama.

Bocah itu mundur dari sedan itu dan menepi di trotoar jalan. Ia terbata-bata membaca tulisan di kertas itu karena remang-remangnya cahaya malam.

“Naya. Producer Sport TV” Bocah itu membaca perlahan

***

Sebuah dering telpon menjerit minta diangkat di sebuah sekat yang berada di kantor stasiun televisi lokal. Naya mengangkat telpon tersebut, menjepitnya diantara telinga dan bahunya.

“Ya?”

“Mba Naya, ini ada anak laki-laki di bawah yang mau ketemu dengan mbak”

“Aduh! bilang aja saya sibuk” ucap Naya sambil mengecek draft acara yang harus tayang malam ini

“Sudah saya bilang. Tapi dia ngotot mau ketemu mbak. Katanya kalo tidak diijinin ketemu mbak, dia mengancam akan nangis dan teriak-teriak di bawah”

Naya menaikkan alisnya. Heran. Mengira-ngira siapa anak nakal yang berani-beraninya mengancam staffnya. Ia melirik ke jam tangan yang melirik ditangannya. Jam 12.30. Naya menghela nafas, ia berfikir tidak apalah menemui anak nakal itu, toh masih jam istirahat.

“Ok. suruh anak itu menunggu saya sebentar. Saya harus membereskan beberapa hal”

“Baik mba”

Naya membereskan kertas-kertas dihadapannya dan berjalan menuju lobby kantornya. Ketika sampai, ia melihat sosok bocah mungil yang ia temui di perempatan jalan ketika ia pulang kemarin. Bocah itu langsung melompat dari sofa lobby stasiun tv itu ketika melihat Naya. Bocah itu ternyata bermata bening dan mempunyai paras yang ganteng. Ia masih mengenakan pakaian merah putihnya dan sendal jepit berwarna biru.

“Siang, tante” ucap bocah itu nyaris berteriak

Naya tersenyum simpul melihat antusiasme bocah itu.

***

“Saya mau menjadi seperti Kaka” ucap bocah bernama Kukuh itu dengan penuh semangat

Naya tersenyum geli memandang bocah itu. Ia membawa bocah itu ke kantin kantornya. Ia menduga bahwa bocah itu pasti belum makan siang, ternyata selain dugaannya tepat, bocah itu mengaku sangking semangatnya untuk bisa mendapatkan sepatu bola, ia melewatkan sarapannya.

“Saya suka semenjak dia main di Milan, Tante. Dia playmaker selalu rajin cetak gol dikala semua penyerang milan pada mandul”

Senyum Naya semakin melebar. Bocah itu menceritakan kesukaannya terhadap Kaka dengan bahasa yang mungkin ia tidak tahu apa arti harafiahnya.

“Lalu Tante, setiap kali mencetak gol, dia ga pernah songong. Dia selalu bergaya dengan tangan menunjuk keatas itu berarti semuanya adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Ya ngga tante? Trus, Kaka juga dinobatkan jd pemain terbaik dunia dan eropa di taun 2007, keren ngga tuh tante?”

Naya terus memperhatikan Kukuh yang menyantap rakus ayam goreng dihadapannya sambil tidak berhenti berceloteh tentang Kaka. Kukuh mengingatkan Naya kepada mendiang anaknya yang pergi meninggalkannya beberapa tahun silam.

“Kan nama kita sama, tante. Dia Kaka, aku Kukuh. Nah nanti kalo aku jadi pemain terkenal, ngga beda jauh nasibnya. Semua orang akan menyebutkan namaku, Kukuh… Kukuh…Kukuh…”

Naya akhirnya tertawa lepas. Entah berapa lama ia tak pernah tertawa selepas itu.

“Jadi tante, kapan aku dapat sepatu bolanya?” tanya Kukuh sambil mengusap minyak yang belepotan di mulutnya dengan punggung tangannya.

Naya mengangguk. “Kamu cuci tangan, nanti kita ambil sepatu bola buat kamu”

Kukuh mengangguk dan segera berlari ke wastafel kantin

***

Naya sedang stand by di ruang editing mengamati rekaman liputan olahraga yang dilakukan reporter bawahannya ketika salah seorang assistennya menemuinya.

“Mbak Naya, ada wanita yang mau ketemu di lobby” ucap asistennya

Naya menoleh dan menatap sang asisten dengan tajam. “Siapa?”

Asistennya melihat catatan yang ada ditangannya “Katanya ibunya Kukuh”

Naya memutar bola matanya. Ia mulai berpikir hal-hal aneh tentang keluarga Kukuh. Ia telah banyak mendengar cerita-cerita yang berisi jika menolong anak jalanan, maka pasti orang tua anak jalanan tersebut akan ikut-ikutan meminta bantuan. Fakta yang menyedihkan dari keluarga di garis kemiskinan di Jakarta. Naya mulai menyiapkan beberapa kata-kata sakti jika ibunya Kukuh itu meminta sesuatu darinya.

Naya melihat seorang wanita kurus dengan baju lusuh duduk di sofa lobby kantornya. Wanita itu tampak habis menangis. Wanita itu memangku sebuah plastik kresek berwarna merah.

“Saya Naya” ucap Naya memperkenalkan diri dihadapan wanita itu.

Wanita itu dengan gugup berdiri dan menjabat pelan tangan Naya. “Maaf mengganggu waktu ibu” ucap wanita itu perlahan.

Naya mencoba tersenyum, walau ia memang tidak pernah suka waktu editingnya diganggu oleh siapapun. “Ada apa, bu mencari saya?”

Wanita itu tanpak berpikir sejenak. Ia seperti menahan tangis. “Saya mau mengembalikan ini”

Plastik kresek itu berpindah ketangan Naya. Naya tanpak sekilas melihat isinya. Itu adalah sepatu bola yang ia berikan kepada Kukuh beberapa hari yang lalu.

“Koq dikembalikan? Ini buat Kukuh”

Wanita itu menutup mulutnya. Menahan agar air matanya tidak tumpah dihadapan Naya. “Kukuh sudah tidak ada”

“Maksudnya tidak ada? Kukuh Meni…” Naya tak sanggup melanjutkan ucapannya

Wanita kurus itu mengangguk perlahan.

“Awalnya saya kira dia mencuri ketika punya sepatu ini. Lalu ia menceritakan tentang kebaikan hati anda memeberikan sepatu ini untuknya. Ia sangat bahagia dengan hadiah dari ibu ini. Tapi kami memang keluarga miskin. Untuk menjadi anggota tim sepak bola disekolahnya, Kukuh harus membayar sejumlah uang. Lima puluh ribu” Wanita itu bercerita sambil menahan nafas.

“Kukuh akhirnya ngemis di jalanan lagi untuk uang itu. Ia tidak pernah menceritakan itu kepada saya kalo dia ngemis. Yang saya tahu dia bermain bola dengan sepatu dari ibu ini. Dan kemarin, dia jadi korban tabrak lari”

Wanita itu akhirnya menangis. Ia menutup wajahnya karena malu memperlihatkan wajahnya kepada Naya. Naya menghela perlahan dan memeluk bahu wanita itu.

“Sabar ya, bu” ucap Naya

“Saya tidak bisa menyimpan sepatu ini. Kami tidak berhak. Terlebih setelah kematian kukuh”

Naya menggeleng. “Tidak. Sepatu ini memang hadiahku buat Kaka kecil” Naya menaruh kembali tas kresek ke pangkuan wanita itu.

“Kaka?”

Naya tersenyum. “Aku memanggil Kukuh dengan sebutan Kaka kecil. Sesuai dengan mimpinya yang ingin menjadi pemain sepakbola terkenal bernama Kaka”

Wanita itu menunduk menatap tas kresek dipangkuannya, tak lama ia kembali terisak. “Terima kasih, bu Naya”

Naya memeluk tubuh kurus wanita itu.

***

As_3d

*Deeply thanks to Om Akeu, yang udah nolongin menyempurnakan cerita ini*

Cerita ini sebelumnya pernah masuk ke dalam hermes for soccers dan di posting di sini

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing