Mandi Kembang

17 Oktober 2008

“Airnya ada di baskom” ucap Mama sambil terus memandang koran yang ia pegang.

Semenjak aku sampai rumah dari kantorku semalam, Mama terus mengingatkanku untuk mensucikan diri dengan air siraman ‘sisa’ Nadia, sepupuku yang telah melangsungkan akad nikahnya kemarin. Menurut mitos, mandi dengan sisa air kembang siraman calon pengantin akan membawa keberuntungan jodoh.

Dan aku pun hanya mengangguk, menuruti semua keinginan Mama. Kuambil baskom berisi air kembang itu dan mencampurkannya ke ember mandiku.

Adikku Dita sudah hampir berkali-kali putus nyambung. Entah sudah berapa mantan yang ia punya. Mama selalu menggeleng-geleng jika telpon rumah berdering dan suara pria menanyakan nama adikku, bukan aku. Bahkan mama selalu bertanya kepadaku,

“Kapan sih kakak dapat telpon dari seorang pria?”

Aku hanya bisa tersenyum simpul dan mengangkat bahu. Aku tak bisa menjawab. Aku pun tidak tahu penyebab mengapa tidak ada pria yang menelponku.

“Kamu terlalu pemilih ya?” tanya Esti salah satu rekan kerjaku ketika kujawab pertanyaannya apakah aku punya pacar apa tidak.

“Tidak juga” ucapku malu, malu karena kenyataannya aku tidak punya pilihan untuk dipilih.

“Masa sih?” tanya Esti bingung “Loe kan cantik, bahkan wajah loe lebih cantik daripada gue”

Akupun hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya. Tidak yakin ucapan Esti itu sebuah pujian ataukah sindiran.

“Jangan lupa, air kembangnya diusapkan ke muka ya, kak” teriak Mama

Aku mengangguk dari dalam kamar mandi. Antara percaya dan tidak percaya akan mitos ini, aku pun menjalankan ritual mandi kembang itu.

***

6 Januari 2009

“Kalian wajahnya sama ya” Pak Agus, klienku menunjuk wajahku dan Angga dengan bolpen yang ia pegang saat itu.

“Kalian pacaran?” tanya pak Agus lagi

Aku  spontan menatap rekan kerjaku, Angga pun melakukan hal yang sama. Aku menaikkan alisku, heran, dan mulai tertawa kecil. Tawa hambar.

“Tidak pak. Kami tidak pacaran” ucap Angga disela-sela tawanya. Aku pun tersenyum lebar, lega Angga yang menjawab pertanyaan itu.

“Tapi wajah kalian mirip lho” Pak Agus mengedipkan sebelah matanya ke aku. “Nia sudah nikah ya?”

“Belum, pak” jawabku malu

“Angga?”

Angga tertawa pelan “Belum juga”

Pak Agus menepuk tangannya “Tuh kan!!! Bagus bukan? Sama-sama belum menikah, kalian memang cocok”

Aku kembali menoleh ke rekan kerjaku yang duduk berhadapan denganku di meja bulat ruang rapat milik Pak Agus. Ya Angga memang ganteng, sangat ganteng. Untuk fisik, dia memang tipikal pria idamanku. Sayangnya, untuk tingkah laku, aku membenci tipe pria seperti dia.

Sudah terlalu banyak gosip dikantor yang mengatakan Angga bagai Don Juan, dikelilingi olehwanita-wanita.  Tipe playboy cap tengik menurutku, pria playboy yang hanya berani bermain-main tanpa sedikitpun punya niat serius.

“Terima kasih pak atas pujiannya” ucapku dengan derai tawa pelan “Kami memang sangat cocok menjadi tim kerja yang solid, ya nggak, Ga?”

Angga mengangguk.  Sekilas aku melihat kekecewaan dari sorot matanya.

“Jadi Pak Agus, bagaimana dengan tender kita kali ini?” ucapku kembali membelokkan ke tujuan utama tujuanku datang bersama Angga.

*

“Mau makan dulu?” tanya Angga sambil menyalakan rokoknya. Kami baru keluar dari lift gedung perusahaan milik Pak Agus.

Aku menggeleng. “No Thanks, i’m on diet”

Angga menghembuskan asap rokoknya keatas. Ia tahu bahwa aku membenci smokers, jadi ia berusaha agar aku tidak terganggu oleh asap rokoknya.

“Ya Ampun Nia!! Kita itu udah pitching dari tadi pagi dan ku liat kamu belum makan sama sekali dari pagi. Nanti sakit lho”

Aku tersenyum kecut. Aku memang berniat untuk tidak makan apapun hari ini.

“Udah ga usah khawatir. Nanti aku yang traktir makan gimana? At least merayakan keberhasilan kita nge-gol-in proyek besar ini”

“Klo lo mau makan, gw nemenin lo aja. Tapi jangan mengharap gw akan makan”

Angga menatapku penuh arti “Pokokknya kalo kamu jalan ma aku, musti makan ya”

Telingaku agak jengah mendengar semua ucapan Angga. Ia menggunakan kata aku-kamu, kenapa ia tiba-tiba berubah seperti ini? Ketika sampai di depan sedannya, Angga menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya hingga apinya mati. Ia tersenyum dan membukakan pintu untukku. Dengan canggung, aku masuk kedalam mobilnya.

***

17 Januari 2009

Telpon rumah berdering malam minggu itu. Dengan nada senang, Mama berteriak,  “Kakak!! Ada telpon buat kakak”

Dengan setengah malas-malasan aku mengangkat telpon rumah itu. Mama terlihat tersenyum-senyum. Entah apa arti dari senyuman mama itu.

“Ya?”

“Nia?” tanya suara di seberang sana. Suara pria.

“Iya. Ini siapa?”

“Ini Angga”

Angga? Angga rekan kerjaku? Darimana dia tahu no rumahku? Apa jangan-jangan dia minta orang HRD untuk tahu no rumahku? Buat apa? Dan mengapa telp rumah? Kenapa tidak langsung saja telp hp ku?

“Ya? Ada apa?” ucapku dengan nada formil. Dari ujung mataku tampak Mama terus memantau diriku berbicara di telpon.

“Besok ada acara?”

Aku menaikkan mataku ke langit-langit rumah, berusaha berpikir rencana besok.

“Ada apa memangnya?”

“Aku mau mengajakmu makan malam.”

Makan malam? Ada apa ini?

“Bisa ya besok? Aku akan jemput kamu jam 7 ya. Bye!!” Suara Angga tergantikan dengan nada sibuk. Angga langsung menutup telponnya.

Aku masih duduk disebelah meja telpon. Berusaha mencerna apa yang sebenernya terjadi lima menit sebelumnya.

***

18 Januari 2009

Suara mobil berhenti tepat di depan rumahku. Mba Ijah, pembantuku, langsung merespon ketukan pelan yang terdengar dari pintu pagar rumahku. Seorang pria dengan kemeja putih lengan panjang dan jeans masuk kedalam rumah. Pria itu Angga. Mama langsung mempersilahkan Angga duduk dan menyuruh Ijah untuk cepat-cepat menyajikan minum ke Angga.

Angga tersenyum lebar dan berdiri ketika melihatku keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.

“Tante, Nia nya saya pinjam sebentar ya?” ucap Angga sopan

Mama mengangguk dan ikut berdiri. Angga mengagetkanku dengan tiba-tiba mengambil tangan mama dan mencium punggung tangannya.

“Kami pergi dulu ya, Tante” pamit Angga

Mama mengangguk-angguk. Ia tampak berkaca-kaca menatap Angga. Aku tidak bisa berkata apa-apa melihat hal itu. Salah tingkah. Aku seperti terbius akan semua yang terjadi di hadapanku.

*

“Angga” aku akhirnya bisa mengeluarkan suara, meski yang keluar terdengar serak dan parau.

Angga yang sedang menyetir sedannya menoleh menatapku sekilas. “Ya?”

“Apa maksud dari semua ini?”

“Maksud apaan?”

“Semua ini” suaraku meninggi “Makan malam, cium tangan ke ibuku, sikap seakan-akan kita punya hubungan istimewa. Maksudnya apa?”

Angga tertawa pelan. “Lho? bukannya kita memang punya hubungan istimewa?”

“HaH? Hubungan apaan? Kita kan cuma rekan kerja”  ucapku berusaha tertawa, namun terasa kurang lepas tawaku.

Angga mengerem mendadak dan membuat badanku terdorong beberapa cm kedepan. Untung saja memakai seat belt. Kurasakan denyut jantungku berdebar cepat karena kaget karena tindakan Angga menghentikan mobil tiba-tiba.

“Aku sudah berusaha bersikap baik kepadamu semenjak pertama kali kita berkenalan. Tapi kenapa tidak sedikitpun dirimu membalas sikap baikku?” suara Angga meninggi.

Aku menoleh dan menatap Angga bingung.

“Semenjak pertama kali berkenalan denganmu, aku langsung tahu. Kamulah ibu dari anak-anakku”

Angga melepas seat beltnya dan mendekati tubuhku. Entah mengapa tiba-tiba tubuhku membeku. Angga mencium bibirku pelan.

***

25 Januari 2009

“Tante, om, aku ingin melamar anak tante dan om, Nia” ucap Angga tegas tanpa tedeng aling-aling.

Aku yang duduk berhadapan dengannya kaget mendengarnya berbicara seperti itu dihadapan ayah ibuku. Aku menatap Angga penuh amarah, perasaan yang bertolak belakang untuk seorang gadis yang dilamar pria.

Setelah kejadian ciuman di mobil Angga dan candle light dinner seminggu yang lalu, aku menjadi risih jika berhadapan dengan Angga. Aku terus menghindar dari Angga baik di kantor ataupun ketika ia menelpon kerumah. Entah mengapa aku menjadi ketakutan menemui Angga.

“Bagaimana Nia?” tanya Mama memecahkan lamunanku

Aku menatap papa dan mama. Tatapan memelas Mama membuatku tidak bisa berkata “tidak”. Aku menghela nafas. Aku masih ingat ucapan mama ketika kupulang bersama Angga seminggu yang lalu. Mama mengatakan bahwa ia setuju hubunganku dengan Angga. Hubungan apa? Aku bahkan sama sekali tidak tahu apa sebenarnya perasaanku kepada Angga.

“Saya dan Nia sudah membahas ini matang-matang, tante” ucap Angga sambil tersenyum lebar menatapku. “Kami akan menikah oktober tahun ini”

Mataku langsung terbelalak menatap Angga. Sangat kaget. Aku langsung berdiri kaku dan menatap tajam Angga.

“Ga, bisa kita bicara sebentar?” ucapku dingin “Diluar?”

Aku langsung mencengkram Angga dan menariknya keluar rumah.

*

“Maksud lo apa sih?” desisku menahan teriak ketika sudah berada di luar rumah. Aku berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar oleh tetangga.

“Aku mau menikahimu. Will you marry me?” Angga tersenyum lalu berlutut dihadapanku dan memegang telapak tanganku.

Seharusnya tindakan itu membuatku berkaca-kaca karena terharu. Seorang pria berlutut dihadapanku, memintaku menikahinya, aww so romantic. Tapi tindakan Angga itu malah membuatku muak. Entah kenapa.

“No” Aku berusaha melepaskan tanganku dari tangannya. Tapi Angga malah semakin mengeratkan pegangannya.

Angga menghela nafas. “Kenapa Ni?”

“Apanya kenapa?”

“Kamu membalas ciumanku kemarin, kamu menerimaku bukan?”

“Tidak” ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku dari Angga. Angga melepaskan tanganku dan berdiri tegak. Ia menarik pelan tengkukku dan langsung mencium bibirku.

Selama beberapa detik aku terbius, tapi kesadaranku kembali. Aku mendorong tubuhnya dan menampar wajah Angga.

“Jangan pernah lakukan itu lagi!” teriakku “Lebih baik mulai sekarang jangan pernah kembali kesini lagi!”

Angga memegang pipinya dan menatapku kaget. Sepertinya ia tidak menyangka aku akan menampar dirinya. Ia mengangguk dan menuju mobilnya. Aku menunggu sampai mobilnya menghilang dari pandanganku.

Aku kembali kedalam rumah dan menatap nanar kedua orang tuaku.

“Angga pergi” ucapku singkat

***

31 Januari 2009

“Kakak…” Panggil Mama setelah mengetuk pintu kamarku. Mama langsung masuk dan duduk disebelahku, di atas kasurku.

“Tadi siang mama mendapat kiriman”

“Kiriman?” tanyaku bingung

Mama mengangguk. “Angga yang kirim”

Aku menghela nafas. Mau apa sih pria itu? Mengapa ia begitu memaksakan kehendak. Aku bahkan terpaksa mengundurkan diri demi menjahui darinya.

“Ia mengirimkan kain tenun Palembang. Cantik sekali. Mama tidak bisa menolak pemberiannya, mama takut melukai hatinya”

Aku tersenyum kecut mendengarnya.

“Mama tahu mama tidak berhak memaksamu menikahi dengannya. Tapi jujur, mama sangat senang jika kamu jadi sama Angga”

Senyumku semakin kecut mendengar ucapan mama

“Dua bulan lagi Dita akan dilamar resmi oleh keluarganya Sonny. Mama tidak mau menolak lamaran mereka karena anak tertua mama belum menikah.”

Aku menghela nafas. Ya Tuhan… Mengapa aku seperti tidak pernah diberikan kesempatan untuk memilih?

***

17 Oktober 2009

Tepat setahun yang lalu aku mandi kembang. Hari ini pun aku mandi kembang. Lebih tepatnya, hari ini aku menjalani prosesi siraman. Siraman sebelum akad nikah.

Setelah semua prosesi selesai, Aku kembali ke kamarku yang telah berubah 180 derajat. Kamarku yang biasanya berantakan dengan buku-buku, sekarang dihiasi oleh bunga melati. Beberapa wanita langsung mengerubungiku untuk merias wajahku.

Besok aku akan menikah. Hari ini adalah hari terakhirku menjadi seorang gadis. Hari ini adalah hari terakhirku menjadi wanita lajang. Entah apa perasaanku saat ini, bahagiakah? atau sedihkan? Aku tidak tahu.

Aku menatap undangan pernikahan berwarna coklat dihadapanku. Di dalam undangan itu tercetak namaku dan nama Angga.

Benarkah keputusan ini? Aku tidak tahu. Aku hanya tak ingin membuat keluargaku kecewa.

***

As_3d
8 nov 2009

Cerita ini sebelumnya pernah diposting di sini

2 Comments (+add yours?)

  1. Diah puri
    Apr 20, 2012 @ 16:47:12

    pengalaman yang mengharukan,saya menikah umur 37 tahun,2 tahun sebelum bertemu jodohku,aku mandi kembang.believe it or not

  2. zadika
    Apr 20, 2012 @ 17:53:10

    Benarkah mbak diah?
    hahahaha….

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing