Aroma

Aku menutup mata dan menahan nafasku selama beberapa detik didepan pintu putih itu. Ini salah, benar-benar salah. Ini pasti mimpi, ini bukan kenyataan.

Tangan besar memeluk bahuku dan memecahkan meditasi sesaatku, tanpa perlu menoleh aku tahu tangan dan aroma tubuh itu. Pria itu, ya itu pria, setengah mendorong tubuhku untuk masuk kedalam pintu itu. Aku menurut dan berjalan tegang memasuki lorong gelap.

Bau khas mentega dan jagung langsung memenuhi rongga hidungku. Ah bau ini malah membuat ketegangan yang harusnya tetap di badanku, meleleh dengan cepat. Secepat mentega yang meleleh diantara jagung dan gula. Ah aku cinta bau ini.

Pria itu menurunkan lengannya dan menggenggam tangan kananku erat. Pria itu menggandengku di ruangan gelap dan mengarahkanku ke deretan kursi yang berada di baris ketiga dari atas. Tangan besarnya membuatku semakin nyaman di ruangan itu. Aduh, ini tidak boleh terjadi, ini salah. Seharusnya tidak seperti ini.

Kami akhirnya duduk dan tangan kirinya tetap menggenggam tangan kananku. Bahkan semakin erat. Aku menelan ludah berkali-kali, tapi kecemasanku tetap saja belum hilang. Ia sepertinya mengetahui hal itu, wajahnya mendekatiku dan berbisik di telinga kananku,

“Everything will be alright.” ucapnya serak.

Aku membeku. Suaranya malah semakin membuat bulu kudukku naik dan jantungku berdetak lebih cepat. Dia bukannya membuatku lebih baik, malah lebih buruk. Aku menarik tanganku pelan dari genggamannya, dan refleks menyentuh dadaku. Berusaha merasakan sendiri detakan jantungku yang mengencang.

Aku masih ingat aroma tubuh pria ini. Aku masih bisa merasakan sisa bau tubuhnya yang menempel di pipiku. Aduh, jantungku semakin berdetak kencang. Aroma itu racun. Aroma dia memabukkan. Aromanya membuatku kecanduan. Kecanduan akan dirinya, disampingku, selamanya. Dan itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh!

Belum sempat aku menstabilkan detakan jantungku, sebuah wajah dari sebelah kiri mendekati telinga kiriku dan berbisik,

“I love you, darling. Thanks for the ticket.”

Aku menoleh kaget dan melihat wajah familiar disamping kiriku. Wajah itu tersenyum lebar dan mencium pipi kiriku. Aku kembali menutup mataku dan merasakan aroma tubuh dari pria yang menciumku itu.

“Sama-sama, yang.” jawabku pelan.

Pria di sebelah kiriku kembali menatap lurus ke podium. Tatapannya berubah. Ia tampak seperti orang yang berbeda ketika menatap panggung. Aku menghela nafas pelan dan kembali menatap panggung. Di panggung, sedang tampil sahabatku, Marchia, yang berperan sebagai peri yang patah hati.

Aku menoleh ke kiri dan kembali menatap wajah tampan pria itu. Sesungguhnya bukanlah Marchia yang patah hati, tetapi aku. Hampir saja air mata menetes ke pipiku ketika tangan kananku kembali digenggam erat.

Aku menoleh ke kanan dan melihat pria itu. Pria yang sebelumnya tidak pernah aku sadari. Pria sudah datang jauh sebelum aku bertemu suamiku. Pria yang seharusnya memilihku, bukan Marchia. Pria yang seharusnya menaruh cincin di jari manisku, dan bukan suamiku…

Pria itu tersenyum menatapku, “I wish i could turn back time.”

“Ya, I wish.”

***

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing