Negeri 5 Menara, The Movie: Sisi Lain Sebuah Mimpi

Bagaimana rasanya mempunyai sebuah mimpi tinggi, tapi terhalang oleh keinginan orang tua? Menentang, ataukah mengikuti keinginan orang tua karena itulah cara berbakti kepada mereka?

Inilah yang membuat Alif, tokoh utama di film Negeri 5 Menara, bimbang. Alif akhirnya dengan setengah hati mengikuti keinginan kedua orang tuanya, khususnya Amaknya, untuk sekolah di Pondok Madani. Ternyata keputusan Alif menuruti keinginan orang tuanya malah membuatnya mendapatkan keluarga baru, yaitu 5 sahabatnya yang mereka sebut sebagai Sahibul Menara.

Film ini sendiri diangkat dari novel sukses Negeri 5 menara karya Ahmad Fuadi. Film ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di novelnya, bahkan nyaris sama. Bisa dikatakan, tidak usah membaca bukunya, film ini sudah menggambarkan keseluruhan cerita.

Film ini dibuka dengan nuansa bahasa Padang yang tidak dibuat-buat. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya ketika melihat film ini, SEDERHANA. Dialog bahasa Padang yang digunakan di awal film tidak dibuat sangat Minang, sehingga orang yang bukan Padang seperti saya, mengerti arti percakapannya tanpa perlu melihat translate teks bahasa Indonesia yang ada di layar.

Yang menarik, sebagai orang yang membaca bukunya, saya merasa pemeran utama film ini, wajah mereka mewakili semua karakter dari bukunya. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya janggal. Seperti tokoh Fahmi yang diperankan Andika Pratama yang menurut saya terlalu tua untuk menjadi seorang remaja, dan Donny Alamsyah sebagai ustad Salman yang kurang pas penghayatannya.

Untuk setting waktu, saya cukup acungi jempol. Karena film ini menggambarkan waktu setting tahun 80an. Seperti setting ketika para Sahibul Menara di Bandung, atau penggunaan mobil kijang kotak,  juga detail-detail khas tahun 80an akhir. Ada satu hal yang mengganggu, yaitu ketika Pondok Madani mengadakan  pesta seni, ada santri yang menari break dance dengan pakaian ala tahun 2010-an. Entah apa tujuannya pembuat film ini menampilkan hal ini.

Diluar semua itu, film ini merupakan film dengan isi yang sangat bagus. Di film ini menggambarkan sisi lain sebuah mimpi. Mimpi itu tidak akan pernah hilang dari seseorang, dan jika mimpi itu diperjuangkan, maka mimpi itu berhasil menjadi kenyataan. Man Jadda Wajadda!

Jika kamu merindukan sebuah film Indonesia yang bermutu tinggi, maka jangan lewatkan film ini beredar di bioskop-bioskop terdekat mulai bulan Maret nanti. Dijamin film ini akan membangkitkan semangatmu untuk terus bermimpi, dan mengejar mimpi, walau apapun rintangan yang terjadi.

 

As_3d

 

*Alhamdulilah review ini memenangkan lomba dari vivanews. Thanks ya viva!!*

4 Comments (+add yours?)

  1. Syifa Maharany Arjumand
    Feb 21, 2012 @ 18:12:54

    Nice post Gan….😉

  2. Deindra
    Feb 23, 2012 @ 16:48:12

    bagus reviewnya..salam kenal ya..keep blogging.

  3. Ca Ya
    Feb 24, 2012 @ 21:26:07

    selamat ya jd salah 1 pemenang🙂
    bisa bljr bkin ripiw dr sini nih🙂

  4. kw
    Mar 04, 2012 @ 08:12:02

    iya, film ini keren abis….
    *pinjam fotonya ya, susah nyarinya. thx

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing