Green Nails

Kuketuk-ketukkan jari jemariku diatas meja restoran mahal dengan dekorasi yang sengaja dibuat sesedehana mungkin. Restoran kaki lima dengan harga bintang lima. Seharusnya pesanan fish and chips ku sudah datang sedari tadi, tapi sepertinya restoran mahal ini kekurangan koki sehingga aku harus menunggu cukup lama.

Aku menghela nafas perlahan menstabilkan emosi tidak sabaranku dan memandang lurus keluar restoran, menatap laut yang terbentang luas. Hari ini adalah hari ke empat aku melarikan diri. Lebih tepatnya bukan melarikan diri, tapi menghilang. Menghilang dari keras dan kejamnya Jakarta, menuju sebuah pulau nyaris tidak berpenghuni di timur Indonesia. Pulau yang tidak akan mungkin dipikirkan oleh orang-orang yang mengaku mengkhawatirkanku. Ya, menghilang dari orang-orang munafik itu…

“Maaf, Mbak.” Seorang pelayan wanita datang terpogoh-pogoh membawa baki makanan ke mejaku. Wajah pelayan itu super pucat, mungkin dia takut jika aku memarahinya. Aku tersenyum geli melihat kegugupannya dihadapanku.  “Maafkan kami, karena lama mengantarkan pesanan mbak. Kami ada sedikit compliment untuk mbak.”

Aku melihat sekilas sup jagung yang pelayan itu taruh di hadapanku. Selera makanku tiba-tiba mendadak berkurang setengahnya. Bukan karena bentuk dari sup jagung itu yang mengerikan, tapi makanan itu membangkitkan kenangan lama yang ingin ku kubur selama-lamanya.

Aku mencoba tersenyum dan mengangguk kepada pelayan tak bersalah itu. Kedatanganku ke pulau ini bukan untuk marah-marah, tapi untuk mengistirahatkan otakku yang sangat penat. Dan aku tidak akan membiarkan semangkok sup jagung membuat mood yang dengan susah payah kubangun, kembali berantakan. Tidak boleh!

Ketika pelayan itu pergi meninggalkan mejaku, tanpa kusadari, aku melamun menatap uap panas yang berasal dari sup jagung di mejaku.

***

“Aku mau menikah.”

Pernyataan itu datang dari mulutnya ketika kami sedang berjalan berdampingan menyusuri pantai. Sebuah petir seperti menyambar telingaku, sambarannya memanaskan telingaku hingga kulitku memerah.

“Benarkah? Wah selamat!” ucapku dengan antusias. Salah satu dari tingkah munafikku. Aku menjabat tangannya dengan erat.

“Kapan?” Ucapku, masih dengan nada gembira dan berusaha menyembunyikan kegetiranku.

Pria itu tersenyum simpul, “Tiga bulan lagi.”

Sekarang giliran sebuah samurai tepat menusuk ke jantungku. Samurai itu tidak hanya menusuk dadaku, tapi menembus hingga ke tulang belakangku. Pria ini benar-benar kejam terhadapku. Tunggu dulu, kejam? Benarkah dia kejam?

Aku menepuk-nepuk tanganku. “Waaa… sebentar lagi. Senangnya. Koq dirimu tidak pernah terlihat sibuk?”

Pria itu tetap tersenyum simpul. Ia seperti tidak ingin terlihat terlalu bergembira atas pernikahannya. “Semuanya sudah di urus oleh keluargaku.”

“Ih, enak banget. Pas waktu kakakku nikah kemarin, dia sampai jempalitan nyari ini itu kesana kemari.”

Pria itu mengangguk perlahan. “Aku dijodohkan, Ke.”

Aku menoleh menatap wajahnya dengan seksama. “Terus…”

Pria itu akhirnya tertawa keras. “Terus aku bohong!”

Pria itu mencipratkan air laut kearahku, dan berlari meninggalkanku. Aku ikut tertawa dan menggeleng-geleng kesal. Aku berusaha tidak mengejarnya. Aku harus tahu diri dimana posisiku saat ini, tapi pertahananku runtuh ketika ia berbalik menuju diriku, dan memelukku erat.

“Keira, aku mencintaimu.” bisiknya di telingaku.

Aku menghela nafas pelan dari belakang bahunya. “Seandainya aku bisa menjawab yang sama, Yur.” bisikku.

***

“Kamu dimana, Nan?”

Baik dari sms, email, bahkan komentar dari nyaris semua akun media sosial yang kupunya bernada sama, bertanya dimanakah aku.

Biasanya jika aku sedang bermain hide and seek dengan teman-temanku karena aku ngambek, atau marah dengan mereka, aku akan tertawa evil mengetahui mereka tidak tahu aku dimana. Aku dengan tega mempermainkan perasaan mereka yang mengkhawatirkan diriku.

Tapi kali ini, aku tidak tertawa. Aku hanya melihat sekilas semua tulisan media itu dengan tatapan kosong, tanpa perasaan sedih ataupun senang. Perasaan hampa.

Kuletakkan ponsel pintarku kembali ke tempatnya, di bagian terdalam tasku. Aku harus melakukan itu selama di pulau ini, berusaha sejauh mungkin dari semua gadgetku. Dan aku kembali menatap mangkok berisi sup jagung, corn soup, makanan kesukaannya.

***

Apa yang paling kamu inginkan ketika sakit? Pelukan erat? Perhatian super ekstra? Cuddling all the time?

Itulah yang paling ku inginkan ketika aku tergeletak sakit di kamar kos, tempat ku tinggal selama dua tahun terakhir. Tapi keinginan itu harus kutelan bulat-bulat. Tidak ada siapa-siapa di sampingku.

Keluarga? Ayahku sudah lama meninggal, sementara ibuku telah nyaris tidak peduli denganku. Kakak-kakakku? Jangan tanya mereka ada dimana, ingat akupun belum tentu. Kekasih? Aku tidak pernah memiliki kekasih yang benar-benar mempedulikanku. Pria-pria yang mendekatiku tidak lebih dari sekedar fling dan tanpa ikatan. Mungkin gaya hidup terlalu bebasku membuat para pria itu menganggapku murahan. Ah sudahlah, aku tak butuh mereka. They only boys, not a man.

Dan pria itu datang kedalam kehidupanku…

Pria itu, Yuri, entah dari mana ia datang, aku lupa. Tiba-tiba dia sudah menghiasi hari-hariku. Bahkan tanpa kusadari, ia telah mempunyai kunci kamar kosku! Pria itu terlalu sayang kepadaku, aku juga sayang.  Ketika tahu ku sakit, ia pasti akan langsung datang begitu aku mengabarinya. Ia tidak perlu mengetuk pintu kamarku, ia langsung membukanya, dan selalu membawakanku, sup jagung.

Dari awal aku yakin kami tidak akan pernah bersatu, terlalu banyak perbedaan yang tidak mungkin disatukan. Dari awal aku tahu hubungan ini akan jalan ditempat. Aku yakin dengan ketidakpastian itu, tapi aku tetap mempertahankannya.

Hingga ketika ia menceritakan rencana pernikahannya, aku seperti tersadar…

***

“Kukunya bagus, mbak.” komentar dari pelayan restoran itu memecahkan lamunan singkatku. Aku  langsung mengambil uang dari dompet untuk membayar makananku.

“Cat kukunya bagus di kulit putih mbak.”

Aku tersenyum sambil memasukkan uang kedalam dompet bill makananku. “Terima kasih. Hijau adalah warna kesukaanku.”

“Sup jagungnya tidak dimakan mbak?” Pelayan wanita itu menunjuk ke sup jagung yang keadaannya masih seperti ketika ia mengantarkan ke mejaku, hanya sekarang sudah mendingin.

Aku menggeleng pelan. “Saya tidak suka jagung.”

Pelayan itu mengangguk pelan dan menerima dompet bill dari tanganku, tapi ia masih belum beranjak dari tempatnya dia berdiri.

“Kenapa, Mbak? Uang saya kurang?”

Pelayan wanita itu menggeleng bingung. “Sebenarnya… ”

“Ya?” aku tidak sabaran dengan sikapnya yang misterius.

“Ada pria yang menyuruh kami menaruh sebuah barang kedalam sup itu.”

“Barang?” aku semakin tidak mengerti.

Pelayan itu tampak salah tingkah. Ia kemudian mengambil sendok sup di meja dan mulai mengaduk sup jagung itu. Dari dalam sup, ia mengangkat sebuah benda kecil dan menaruhnya diatas kertas tissu. Itu sebuah cincin. Ha? Cincin?

“Kata pria itu, cincin ini untuk mbak. Kami kira pria itu akan masuk ke dalam restoran ketika mbak selesai makan, dan melamar mbak disini. Tapi pria itu tidak muncul-muncul.”

Ha? Apa ini maksudnya? Pria? Pria sapa? Tidak ada seorangpun dari orang terdekatku yang tahu aku disini. Dan melamar? Apa pula maksud pelayan ini?

Aku mengambil kertas tissu dengan cicin diatasnya. Aku lap cicin itu dan memperhatikan bentuknya. Cincin itu terbuat dari emas, dan bagian dalamnya terukir sebuah kalimat.

I Love You, Keira

Hanya satu orang yang memanggilku dengan panggilan “Keira”. Orang yang hari ini seharusnya mengikat janji dengan seseorang dihadapan Tuhan.

Ini tidak mungkin!

***

As_3d

*Terinspirasi melihat perjalanan menghilang salah satu sahabat yang belum pernah kutemui sebelumnya*

1 Comment (+add yours?)

  1. Jia
    Dec 02, 2011 @ 10:35:57

    bagus trid… kirim ke chic gih!

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing