Sebuah Pertanyaan Pernyataan

Jenna tertegun membaca pesan singkat yang ia terima beberapa detik sebelumnya. Raut wajahnya tidak menyiratkan kesedihan ataupun kegembiraan, hanya tatapan kosong. Bahkan tanpa ekspresi.

“Kenapa, Jen?” ucapku perhatian.

Jenna menoleh menatapku dan tersenyum lebar. Ia terlihat jelas menyembunyikan sesuatu. Aku langsung tidak percaya dengan semua raut wajah bahagia yang ia selalu tampilkan dihadapanku.

Nothing. Just another worry sms from him.” ucapnya ceria.

Him? Entah mengapa kata ganti orang ketiga itu mengangguku. Ingin hatiku bertanya lebih lanjut, tapi siapakah diriku menanyakan sesuatu hal pribadi kepada Jenna? Ah ini menyedihkan, aku mengingkari hatiku sendiri.

“Mana pacarmu, Gung?”

Giliran aku tertawa lepas. “Pacar apa? Siapa?”

“Bukankah kemarin dirimu mengatakan baru jadian sama seseorang?”

Aku masih tertawa lepas. Tawa kebohongan. “Iya, kemaren baru nembak cewek. Dan dijawab dengan terlalu diplomatis.”

“Diplomatis? Maksudnya?”

“Dia jawab, aku Canon, mas.”

“Ha? kok Canon? Kamera?”

Aku mengangguk dan tersenyum penuh makna.

“Terus?”

“Ya, kujawab dengan pasti, Aku Nikon!”

Ia memutar bola matanya. “Dasar!”

***

Aku melirik Jenna yang sedang duduk di sampingku. Malam itu aku mengantarkan ia pulang entah untuk yang keberapa kali. Meski tidak sesering “him” yang selalu mengantarkannya pulang.

“Tumben tidak dijemput, Jen?”

“Iya.” jawabnya singkat.

“Pacarmu kemana?”

“Tidak ada.”

“Putus?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”

“Ya begitulah.”

Aku tidak kuat untuk tidak tertawa melihat ekspresi datarnya. Entah mengapa aku tertawa, karena tidak ada sesuatu yang lucu yang harus ku tertawakan. Mungkin aku sudah gila. Gila akan Jenna.

Jenna akhirnya menoleh dan menatapku dengan tatapan aneh. “Koq malah ketawa? Apa yang lucu?”

Nothing.” ucapku masih tertawa

“Aneh.” ia melipat tangannya dan menatapku kesal. “Kamu aneh, Gung.”

Tawaku mengeras. “Jika aku tidak aneh, dirimu tidak akan pernah mau sama aku kan?”

Tiba-tiba aku merasakan aura yang berbeda. Jenna lebih diam, dan bahkan desahan nafasnya tidak terdengar. Aku kembali menoleh ke penumpang satu-satunya di mobilku. Jenna memalingkan wajahnya dan menatap jendela. Tangannya masih terlipat, tapi sepertinya jemarinya mencengkram lengannya.

“Jen…”

“Coba dulu kita tidak pernah putus ya?” ucapnya serak.

DEG! Kenapa ia tiba-tiba mengucapkan hal itu, lagi?

***

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing