Click Klak!

“Klik!”

Sebuah kilatan lampu kamera membuat mataku buta sesaat. Pria itu menangkap gambarku dengan candid. Benar-benar iseng. Aku berkali-kali mengedipkan mataku agar bisa melihat dengan normal.

Kamera itu disodorkan kepadaku, pria itu memperlihatkan preview candidnya dia.

“Lumayan jelek!” tawanya.

Aku mendengus kesal. “Yeah, sure!” ucapku sambil melihat preview foto-fotonya yang lain.

“Ga usah sensi kek gitu, udah bagus juga mau gw fotoin.”

“Gw nggak minta, dan aku dari dulu tidak pernah suka difoto.”

“Hayah gayaa…” ucapnya sambil menoyor kepalaku. “Itu apa facebook isinya cuma foto-foto semua.”

Aku menjulurkan lidahku. Dan entah dari mana, sebuah kilatan cahaya mengenai wajahku.

“HEH!” teriakku. “Iseng banget sih, foto gw saat nggak siap?”

Pria itu tertawa sambil kembali memasukkan kamera sakunya. Entah seperti apa wajahku dengan lidah keluar seperti itu.

***

Seharusnya aku memarahi jari-jari nakalku yang membuka sebuah situs tempat orang-orang memajang hasil jepretannya. Seharusnya jari-jariku tidak bandel dan menuruti kata hatiku untuk tidak membuka akun milik pria itu. Yaa… seharusnya…

Di akun miliknya hanya ada tiga foto. Tiga foto diriku. Tiga foto candidku.

***

“Aku sudah capek jatuh cinta dengan seorang fotografer, nin.”

Nindya terkikik mendengarkan curhatanku sore itu. Ice cappuchino di hadapannya ia seruput perlahan-lahan sambil cekikikan diantara seruputannya.

“Dia kan bukan fotografer, bukan?”

Aku memutar bola mataku. “Iya sih. Dia partner kerjaku. Tapi, kecintaannya terhadap fotografi menjadikannya kurang lebih sebagai fotografer freelance.”

Nindya masih terkikik, kikikkan yang tidak pernah kusuka, kikikkan yang nyaris kubenci.

“Sudahlah Ran, jalani saja dulu. Jika memang dirimu dan dirinya jodoh, pasti nggak akan kemana.”

Aku tertawakeras. Tawa hambar. “Jodoh? Aku tidak mau nikah dengan suami orang, Nin!”

“Suami orang? Dia…”

“Sebentar lagi dia mau nikah, nin.” ralatku.

“Ah, selama masih belum ada bendera kuning menggantung di pagar rumahnya, semua pasti ada jalannya.”

“Ha? bendera? Janur kali….”

Nindya terkikik lagi.

***

Sebuah getaran dari ponsel pintarku membuatku mengalihkan konsentrasiku dari kertas-kertas kerjaku. Sebuah notifikasi email masuk, dari pria itu.

Message truncated due to size

Apa ini? Pria itu mengirimkan apa sampai terlalu besar untuk bisa di capture oleh ponselku. Cepat-cepat aku membuka laptop dan membuka email pribadiku via browser.

Pria itu mengirimkan email kosong tanpa subject dan tanpa isi, hanya sebuah attachment dan dalam bentuk pdf. Aku mengklik mouse untuk melihat isi pdf kirimannya.

Isi pdf itu fotoku dengan wajah konyol, salah satu koleksi foto candidku di kameranya. Foto itu di frame, dan halaman berikutnya ada tulisan dibawah foto itu.

WOULD YOU BE MY PARTNER IN CRIME?

Ha?

***

As_3d

*Percayalah ini bukan curhat, dan tulisan ini acak-acakan sekali*

 

 

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing