Sesudah Ia Pergi

Dia disana duduk dengan tawa mengemaskannya. Seandainya saja ia tahu, ia terlalu mengemaskan untuk kulewatkan, untuk tidak ku peluk atau ku cium, ya seandainya ia tahu. Ah bicara apa aku ini, aku terlalu banyak berkhayal, terlalu tebal dinding yang menghalangi kami. Dinding…?

Dia duduk disana, duduk lesehan bercanda dengan sahabatku, duduk memeluk tasku. Seakan tidak mau kehilanganku. Benarkah….?

Aku harus mengacuhkan semua perasaanku. Ini terlalu indah, terlalu bagus, terlalu… Nyata.

Aku menghela nafasku sebelum duduk di hadapannya. Berusaha menata hati, berusaha meyakinkan diri, berusaha agar tidak benar-benar… Terjatuh.

***

“Aku tidak jatuh cinta kepadanya, aku jatuh hati kepada keluarganya.” Ucapku lantang kepada dia.

Apa sih sebenarnya mauku? Dia akan cemburu? Dia akan sedih? Dia akan marah? atau apa?

Ia tersenyum nakal. “Bagus lah, setidaknya kamu tidak jatuh cinta kepadaku.”

DEG!
Kenapa ucapan itu sepertinya terasa menusuk? Sakit. Tapi kenapa sakit? Bukankah dari awal memang tujuanku seperti ini? Menyakiti diriku sendiri?

Aku tertawa menutupi kesakitanku. “Buat apa aku repot-repot menyakiti hatiku untuk mencintaimu?”

Miris.

***

“Masalahnya apa sih, De?”

Aku tersenyum dan menatap pria dihadapanku. Aku menggeleng pelan.

“Tidak ada apa-apa.”

“Ayolah, De. Bikin kepo ih!”

“Tidak apa-apa.”

“Yakin?”

Aku tersenyum kecut, menahan tangis dengan menggigit bibir bawahku. Aku mengangguk dihadapannya dan menangis jauh dalam hatiku.

Pria itu mengecup dahiku. Lama. Aku nyaris meneteskan air mata, tapi berhasil ku tahan.

“Sampai jumpa ya, De! Ati-ati kamu disini.”

Pria itu berjalan menuju pintu keberangkatan. Aku melambaikan tangan dengan sedih, pria itu menoleh dan melambaikan tangannya.

Ini bukanlah ending perpisahan yang baik, tapi ini juga bukan ending dari sebuah silahturahmi bukan?

“Sudah, ga usah nangis. Tukang balon sama tukang es krimnya udah pulang!”

Aku spontan menoleh kesamping kananku, dan menampar keras lengan besar pria itu.

“Aww!” Keluhnya. “Sakit tau!”

Aku melotot marah kepadanya. Ia mengelus-elus tangannya dan melotot balik.

“Dia pergi, koq aku yang dipukul. Kan udah ketauan cinta mana yang palsu…”

“Maksudmu?”

Dan senyuman liciknya berakhir dengan sebuah desah diantara kami. Ini tidak bagus, sungguh tidak bagus…

***

As_3d
*terkadang kita memang terlena dengan kesakitan untuk merasakan keindahan*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing