Satu Tujuh Tiga

Seratus Tujuh Puluh Tiga Minggu lalu…

Pandanganku lurus menatap para flashmob-ers yang dengan kompaknya menari ditengah-tengah lapangan yang ada di kawasan mall itu. Sesekali aku mengeleng-geleng heran akan aktraksi tari masal mereka. Kulirik pria yang berdiri disebelahku, ia sibuk dengan gadget terbarunya. Ah tidak enak dicuekin seperti ini.

Sebuah getaran mengalihkan konsentrasiku dan dengan refleks aku membuka kunci ponsel pintarku.

Udah dimana ? Aku sudah sampai di lokasi nih. Tulis pesan pendek itu. Aku segera membalas pesan elektronik itu.

Gw juga udah nyampe. Lo dimana?

Berdiri di deket lampu.

Dan dengan mudah kutemukan pria itu berdiri disana. Ia berseder di tiang lampu Mall yang bernuansa outdoor. Pria itu ternyata jauh lebih tinggi daripada yang kulihat di foto. Dengan langkah ringan aku menghampiri dirinya.

“Daksa?” sapaku ragu-ragu.

Pria itu tersenyum dan menjawab pelan. “Hai. Siera?”

“Hai!! Maaf sudah menunggu lama.” ucapku sambil menjabat tangannya.

Ya. Itulah pertama kali kami bertemu, tiga tahun tujuh belas minggu yang lalu.

Seratus Tujuh Puluh Tiga Hari lalu…

Aku berdiri dengan kaku menatap pemandangan yang tidak pernah kusangka akan kutemui saat itu. Daksa mencium wanita itu dengan intim. Wanita itu, wanita yang sama yang diperkenalkan kepadaku sebagai…  sebagai…  sebagai… adik sepupunya. Tapi aku yakin itu bukanlah ciuman kepada seorang adik sepupu.

Daksa menyadari kehadiranku dan mendorong pelan bahu wanita di hadapannya. Beberapa detik kami bertatapan tanpa suara. Dengan berat aku berbalik dan berjalan menjahui pasangan itu. Aku berharap Daksa akan mengejarku dan menjelaskan semua yang terjadi, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Aku berjalan dengan hati yang hilang.

Saat itu, tepat tiga tahun ketika aku dan Daksa bersama-sama membuat komitmen. Saat yang sama untuk melupakan janji komitmen yang pernah diucapkan.

Seratus Tujuh Puluh Tiga Jam lalu…

Sebuah berita yang tidak kupercaya masuk ke dalam pesan singkat ponsel pintarku.

Siera, Daksa kecelakaan. Mama ingin kamu ke rumah sakit segera. Mama

Sms itu bukan dari ibu kandungku, itu dari Tante Ria, ibunya Daksa. Aku membaca berkali-kali sms itu dan berkali-kali berpikir apa yang harus kulakukan?

Aku memutuskan untuk menengok melihat kondisi Daksa. Kondisi Daksa seminggu yang lalu…

Seratus Tujuh Puluh Tiga menit lalu…

Daksa siuman dari koma nya. Ia terkena guncangan yang sangat hebat di kepalanya yang membuatnya tidak sadarkan diri selama seminggu. Kecelakaan itu membuat otaknya gegar, sementara tubuhnya hanya terkena luka ringan.

Daksa menatapku lama, ia mengenaliku, dan air mata keluar dari ujung mata kanannya. Ia tidak mengatakan apapun, ia hanya menatapku dalam diam. Aku mencoba setegar mungkin dan menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis, walau akhirnya pertahananku roboh.

“Maaf.” ucap Daksa dengan serak.

Aku hanya mengangguk pelan dengan air mata yang mulai mengalir di pipi.

“Aku berhak menerima ini,” ucapnya terengah. “Aku sudah meninggalkanmu penuh luka.”

“Jangan bilang seperti itu.” ucapku sambil menutup mulut Daksa dengan jariku.

Daksa mencium jariku pelan. “Terima kasih, Si. Kamu baik.”

Aku menggenggam jemari Daksa dengan lebih kuat. “Kamu, pasti sembuh!”

Daksa tersenyum, senyum terakhir.

Seratus Tujuh Puluh Tiga detik lalu…

Waktu seakan berjalan sangat lama. Setiap helaan nafas Daksa menjadi sebuah anugrah bagiku. Sampai helaannya yang terakhir.

Alat pacu jantung telah gagal membangunkan Daksa, alat bantu pernafasan pun tidak lagi bergerak. Semua alat yang mendampingi Daksa selama delapan hari telah berhenti.

Aku mengamati tubuh Daksa yang kaku dengan nanar. Daksa, telah pergi. Daksa telah hilang. Daksa…

Seratus Tujuh Tiga, waktu yang kubutuhkan, jarak yang kutempuh, langkah yang kujalani bersama Daksa, kini telah berhenti. Selamat Jalan Daksa.

***

As_3d

*cerita absurd di hari ke delapan dari 15 hari menulis*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing