Secangkir Madu Kelinci

Rokok dan bau keringatnya terasa begitu menyengat ketika ia akhirnya duduk dihadapanku. Tanpa kata maaf ataupun basa basi ia langsung melambaikan tangannya mencari pelayan. Aku meliriknya tajam, tapi kemudian beralih ke fish and chips dihadapanku. Perutku lebih penting daripada dirinya.

Chicken Cordon Bleu  dan ice tea.” ucapnya ke pelayan restoran itu.

Ia menatapku dalam diam. Aku tetap mengalihkan mataku agar tidak menatap matanya. Kemarahanku tidak akan mencair dengan tatapan komikalnya.

“Marah?” ucapnya penuh senyum jahil.

Aku menyibukkan diri dengan memotong ikan dihadapanku.

“Ternyata wajahmu kalau lagi marah itu….”

Ia menggantungkan kata-katanya. Pasti mau merayuku. Tidak akan mempan!

“Jelek banget!”

SIAL! Aku terpancing dan melotot menatapnya.  Ia tertawa jahil dan menggeser duduknya di sebelahku. Ia mendekatkan tubuhnya untuk menciumku, dengan spontan aku mengangkat pisau yang kupegang dengan tangan kiri mendekati pipiku.

“Maaf. Pipi nya tidak menerima pria perokok.” ketusku.

Ia kembali ke kursinya semula dan mengangguk-angguk mengalah. “Baik… baik… perlu aku ganti baju dulu? Disini…?”

Pria itu mulai mencopot dasinya dan membuka kancing bajunya dengan perlahan-lahan. Aku menyipitkan mataku, kesal bercampur malu.

“Han, nggak lucu!”

“Lho? siapa yang melucu?” Ia tetap membuka kancingnya dengan adegan slow motion. Aku memutar bola mataku.

“Terserah! Silahkan ganti baju disini jika rasa malumu udah nggak ada.” ucapku kesal, lebih tepatnya gregetan. Ingin rasanya aku mencubit pria itu karena membuatku kesal.

Pria itu tertawa dan menghentikan tindakan sok erotisnya itu. Pesanannya datang dan ia mulai memakannya dengan lahap. Dengan sekejap ia menghabiskan makanannya, lebih cepat daripada diriku.

“Yuks pulang!” ucapnya ketika selesai menyeruput es teh nya sampai habis. Ia memanggil pelayan dan memberikan kartu kreditnya ke sang pelayan.

Entah seperti apa wajahku detik ini. Enak sekali dia mengatakan pulang. Dia kira pengorbananku sampai ke restoran ini hanya terbayar dengan pulang, gitu? Aku menggenggam erat pisauku, kesal.

“Aku belum selesai.” ketusku.

“Aku heran ya sama wanita yang makannya lama banget. Apakah perlu kalian mengunyah selama itu?”

Aku menyipitkan mataku tajam. “Perlukah dirimu menyinyirku sejahat itu?”

Ia kembali tertawa, dan menggeser duduknya ke sampingku. Ia menarik pipiku seakan-akan pipiku ini karet. “You’re soo adorable yah, bun.”

“Stop pitching my cheek!” Aku menaikkan pisauku lagi mendekati hidungnya, tapi yang ia lakukan malah memegang tangan kiriku dan meletakkannya kembali ke meja.

“Happy Aniversary, Honey!” ucapnya sambil mencium pipi kiriku.

Aku mengenduskan nafas kesal. Ia selalu bisa membuat rasa marahku hilang begitu saja. Rasa marah harus menunggunya sampe berjam-jam di lobby kantor dan akhirnya harus pergi sendirian menuju restoran karena sudah terpaksa di booking jauh-jauh hari.

“Sama-sama, Bunny.” ucapku dengan nada sedatar mungkin, tapi tangan jahilnya yang menggelitik pinggangku membuatku tertawa. I hate when he did it!

Ia mengangkat gelas kosongnya keatas dan menyuruhku untuk mengangkat gelasku. Aku menurut dan mendentingkan dua gelas itu.

“Semoga kita tetap menjadi madu kelinci seumur hidup.” ucapnya dengan ekspresi komikal.

“Madu kelinci?”

“Honey Bunny, dear.”

Tawaku menggelegar mendengarnya.

***

As_3d

*crossing fingger to do 15days writting blog*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing