Bidadari Kuning

Image from Deviantart

Aku ingat pagi itu, pagi gelap dengan langit yang menangis. Pagi itu, adalah pagi terakhirku bersama ibuku, satu-satunya orang tua yang kukenal dan kumiliki. Saat itu umurku 21 tahun, dan baru empat hari dinyatakan lulus dari diploma tiga. Aku tidak pernah percaya hari itu terjadi, bahkan sampai saat ini. Hari dimana aku menemukan sendiri ibu terbujur kaku di tempat tidurnya.

Aku masih ingat, kulit ibu terasa kering ketika kupegang. Tidak ada lagi desahan napas yang biasa ia keluarkan jika kesal kepadaku. Tidak ada lagi denyut yang bergetar di dadanya jika aku memeluk tubuh mungilnya. Tidak ada lagi kehangatan yang biasanya kurasa jika aku menangis di pundaknya. Tidak ada. Semuanya terasa sunyi, dingin dan kelam.

Ibu meninggal dalam tidur, dan langsung dimakamkan ke perut bumi siang itu juga. Aku tidak mampu mengadakan tahlilan untuk ibu terlalu lama. Bahkan uang tabungan ibu nyaris habis hanya untuk urusan pemakamannya. Keadaanku saat itu benar-benar sulit, sendirian tanpa sanak keluarga.

Ibu tidak pernah menceritakan tentang ayah kandungku. Jikalau aku bertanya pun, ia selalu mengalihkan pertanyaanku dengan dongeng. Ketika aku beranjak remaja aku sempat marah karena ibu tidak pernah cerita tentang ayah, dan ia menangapi kemarahanku dengan tersenyum dan berkata,

“Suatu saat kamu pasti akan tahu semuanya, April. Tapi tidak sekarang. Semua itu ada waktunya.”

Apakah ini waktunya? Setelah lima tahun kematian ibu, pria yang berdiri di hadapanku tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai ayahku? Kenapa ia baru muncul setelah lebih dari 26 tahun aku hidup?

Aku menatap pria yang mengaku ayahku itu dengan tatapan menyelidik. Ia tiba-tiba terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya seperti sedang terserang bronchitis parah, atau hanya pencitraan kepadaku,anaknya, bahwa ia sedang sakit-sakitan, entahlah.

Otto membantu pria itu agar duduk di salah satu kursi malas dan menanyakan apakah pria itu baik-baik saja. Setelah mendapatkan jawaban “tidak apa-apa”, Otto berpaling kepadaku,

“Mau minum apa Pril?”

Aku berusaha tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak usah repot-repot. Saya mau pulang, badan saya tiba-tiba tidak enak.”

Aku langsung berbalik dan berusaha secepat mungkin meninggalkan rumah itu. Ketika tanganku mau menyentuh gagang pintu untuk membukanya, Otto mendahuluiku dan mencegah pintu itu terbuka.

“April, tolong…” Desis Otto.

Aku menunduk dan menggeleng pelan. “Maaf.”

Otto seperti memahami perasaanku, dan membiarkanku keluar dari rumah itu. Aku berusaha secepat mungkin keluar dari kompleks rumah mewah itu dengan langkah lebar. Entah di langkah keberapa, pertahananku pecah. Air mataku seperti air bendungan yang bocor, mengalir deras.

***

“Ibu, seperti apakah bidadari itu?”

Wajah ibu selalu bersinar-sinar ketika menceritakan dongeng kepadaku. Aku kecil selalu berimajinasi bahwa ibuku ini sebenarnya adalah peri dongeng yang bertugas setiap malam untuk menceritakan dongeng ke anak-anak di kampungku ini, bukan seorang buruh tani yang mati-matian mencari nafkah untuk pendidikan dan hidup anaknya.

“Bidadari itu wanita cantik, sayang.” Ucapnya sambil membelai lembut rambutku. “Baju yang ia kenakan kuning gading. Dan jika berjalan, semua makhluk yang melihatnya akan terpana dengan kecantikannya. Ia punya sayap. Sayap itu membuatnya terbang kemanapun ia mau di penjuru kerajaan langit.”

“Seperti ibu apakah cantiknya?”

Ibuku tertawa. “Seperti kamu cantiknya.”

“Aku bidadari juga dong, bu?”

Ibu membelai lagi rambutku. “Kamu akan selalu menjadi bidadari ibu, nak.”

“Lalu apa yang terjadi dengan bidadari itu bu?”

“Bidadari itu jatuh cinta. Ia jatuh cinta kepada Angin. Seorang pria tampan dari bumi yang bertugas membawa pesan dari kerajaan bumi ke kerajaan langit.”

Aku mulai membayangkan dongeng ibu dalam imajiku.

“Tapi bidadari tidak tahu jika sebenarnya Angin itu sebenarnya bukanlah seseorang yang baik.”

“Jadi angin membohongi sang bidadari?”

“Iya nak. Bidadari terbujuk rayu Angin untuk mau jalan-jalan ke kerajaan bumi. Bidadari tidak tahu, jika begitu ia menapakkan kakinya di bumi, maka hilanglah hak dia sebagai penghuni kerjaan langit.”

“Bidadarinya akhirnya turun ke bumi?”

“Iya. Dia turun ke bumi ketika diajak oleh Angin, yang saat itu sedang bertugas mengantarkan persembahan dari raja bumi ke raja langit. Tapi ketika sampai bumi, blasss…. Sayap sang bidadari hilang.”

“Yaaaa…. Jadi tidak bisa terbang lagi dong?”

“Benar nak. Dan ketika tahu sang bidadari tidak bisa terbang lagi, Angin meninggalkan dia sendirian di bumi.”

“Angin jahat.”

“Sudah, sekarang waktunya tidur. Besok malam, ibu ceritakan kelanjutan ceritanya.”

“Ibu…”

“Ya, sayang.”

“Apakah angin itu seperti ayah yang meninggalkan kita?”

Ibu tak menjawab apa-apa. Ia menarik selimutku dan mencium keningku. “Selamat tidur, besok jangan telat bangun.”

Aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti dari ibu. Ibu pun tak meninggalkan informasi apapun tentang ayahku. Dan apakah aku harus percaya dengan pria yang kutemui barusan di rumah itu? Dan kenapa Otto, pria yang mengirimiku lagu dan headphone berserta puisi indah, ada disana? Siapakah dia sebenarnya?

***

As_3d

* Sebelumnya : Sebuah Paket Cinta*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing