Si Belang

Image from Deviantart

Tahukah dirimu apa yang membuatku rindu kepadamu?
Sapaan singkat khasmu.

Gadis itu merengut. Wajah cantiknya sengaja ia tekuk seharian ini. Rambut ikalnya sengaja di acak-acak olehnya hingga bentuknya lebih mirip sarang burung walet dibandingkan sebuah rambut seorang model. Sementara dihadapannya ada sebuah laptop yang menyala.

“BEGO!!!” teriak gadis itu membuat dinding kamarnya bergetar.

Laptop yang diteriakinya hanya diam tak menjawab. Jelas saja teriakannya akan sia-sia, tapi tetap saja gadis itu meneriakkan kata-kata makian dihadapan laptopnya.

“Bego… bego… bego…” ucapnya lagi sambil menarik-narik sebagian rambut ikalnya. “Kenapa aku harus sebego ini sih? Kenapa?”

Sebuah jendela messenger muncul di hadapannya dan terlihat foto anak berusia lima tahun sedang tersenyum jahil.

Hai!   sapa pemilik messenger tersebut.

Senyuman mengembang dari wajah gadis itu. Ia segera duduk dihadapan laptopnya, dan mengetikkan balasan di jendela messenger itu.

Hai belang!

***

Gadis itu sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepada pria diseberang sana yang dia belum pernah kenal sebelumnya. Aneh? Mungkin tidak di kondisi sekarang yang semua orang lebih sering bertemu maya dibandingkan nyata.

Pria itu sudah menjadi sahabat si gadis itu selama hampir satu tahun, dan sayangnya sampai detik ini mereka berdua belum pernah bertemu. Apakah karena sang pria ada di seberang lautan? Ternyata tidak. Sang gadis tidak pernah menyadari bahwa ternyata sahabatnya itu ternyata cukup dekat dengannya.

“Sedang apa, chi?”

Ichi yang sedang asyik ber-chatting ria di laptopnya, kaget dengan sapaan dari belakang tubuhnya. Ia menoleh dan mendapatkan Rody, atasannya sedang tersenyum sumringah dibelakangnya.

Ichi menutup layar laptop dengan lambang buahnya itu dan membalas senyuman Rody. “Sedang diskusi ma temen, Rod. Ada apa?”

“Ah ngga ada apa-apa. Hanya pengen nyapa mbak Richi aja.” Rody mengedipkan sebelah matanya jahil. “Kalo lagi ngga sibuk, boleh ngga kita makan siang bareng?”

Ichi refleks melihat jam yang melingkar ditangannya. Sudah jam setengah satu. Ia baru menyadari bahwa semenjak semalam ia belum menelan makanan apapun. Ia terlalu sibuk dengan project design barunya sehingga nyaris lupa makan.

“I’m not hungry.” ucap Ichi berbohong menatap Rody.

Rody tersenyum sedih. “Masa sih? Nanti kalo kamu sakit, aku juga akan sakit.”

Ichi membesarkan matanya. Kaget campur heran mendengar ucapan Rody. Tapi belum sempat ia bertanya apa maksud dari Rody mengatakan itu, tangannya sudah diapit Rody. Rody perlahan menariknya menjahui meja kerjanya. Anehnya, Ichi yang cerewet, tiba-tiba tidak protes dan menuruti langkah Rody.

***

Ichi_lucu: Tok… tok… tok…
Si_belang: Hai Ichi
Ichi_lucu: Hai
Si_belang: Lagi apa?
Ichi_lucu: Lagi chatting sama kamu
Si_belang: Tsaaahhh. Aku makin kangen sama kamu
Ichi_lucu: Macaa cih?
Si_belang: Iyaaa… *icon kiss*
Ichi_lucu: Kalo gitu, kita bertemu aja yuk. Gmn?

Ichi menahan nafas ketika menuliskan itu dilayar laptopnya. Ia sungguh-sungguh menyesal melakukan hal itu. Ia merasa bertingkah terlalu berlebihan, terlalu ababil. Perlahan nafas ia hembuskan menunggu respon dari seberang sana.

Satu menit…
Dua menit…
Satu jam…

Pria itu masih online, tapi tidak ada tanda-tanda dia membalas pertanyaan Ichi. Ichi akhirnya menyerah dan keluar dari messenger itu. Ia tersenyum menatap layar laptop yang memajang wajahnya di desktop.

“Kamu terlalu berharap, sayang.”

***

Rody mengintip dari balik kubikel Ichi dan memasang wajah komikal. Ichi tidak tahan untuk tidak tertawa lepas melihat itu semua. Rody menghampiri Ichi dan duduk di ujung meja Ichi.

“Kenapa sih lo, chi? Patah hati? Cemberut mulu akhir-akhir ini.”

Ichi tersenyum simpul. “Begitulah.”

“Kasian.”

Ichi melirik Rody tajam. “Maksudnya? Gw patut dikasihani gitu?”

Rody menyeringai. “Ya kasian. Masa gadis secantik lo mau-maunya patah hati ama pria ngga jelas. Lo itu lebih pantas menjadi seorang model dibandingkan seorang designer disini.”

Ichi akhirnya tertawa lepas. “Thanks. Gw anggep itu pujian yah.”

“Lho? Itu memang pujian. Lo itu lebih pantes jadi seorang model dan menjadi kekasih seorang Rody Sahaan.” Rody terdiam sejenak dan menaikkan alisnya. “Yang belang. Mau?”

Ichi menatap Rody kaget. Yang ditatap mengedipkan sebelah matanya.

***

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing