Sepasang Orang Kedua

Image from Deviantart

Pria itu melambaikan tangannya ketika melihat sang wanita masuk ke dalam studio XXI. Sang wanita lega melihat lambaian tangan itu dan menuju tempat sang pria duduk.”Hei! Sorry I’m so late.” Ucap sang wanita ketika menjatuhkan badannya ke kursi studio di sebelah si pria. Si pria tersenyum sekilas dan menikmati aroma wangi yang baru saja datang.

“Sudah biasa.” Jawab sang pria dengan senyum jahil. Ia tahu bahwa wanita itu akan membalas ledekannya barusan dengan menatapnya tajam, dan wanita itu melakukannya.

“Aku kan udah minta maap, kaka.” Ucap wanita itu dengan gaya manja. Sang pria mengelengkan kepalanya, berusaha menahan untuk tidak mencubit pipi chubby sang wanita.

Lampu studio bioskop meredup hingga akhirnya mati. Sang pria memperbaiki posisi duduknya agar bisa lebih nyaman menonton film ketika ia tak sengaja memegang tangan si wanita. Si wanita tidak bereaksi berlebihan dan tidak menggerakkan tangannya. Sang pria pun tak menyingkirkan tangannya.

***

“Dijemput, La?” Tanya pria kepada si wanita. Film telah lama usai dan mereka berdua sedang duduk berhadapan di foodcourt mall tersebut. Background Jakarta di waktu malam membuat mereka tidak beranjak dari duduk mereka.

Wanita itu menggeleng. “Tidak.”
“Mau tak anterin pulang?” Goda sang pria.
“Yakin mo nganterin ku pulang? Nanti istrimu marah?”
Pria itu tertawa keras. Tawa yang kering baginya. “Siska bukan istriku, La. Dia selingkuhanku.”
“Selingkuhan?” Wanita itu mengeleng-geleng.
“Hahaha… Dia sudah punya suami, sementara aku….”
“Sudah punya istri.” Potong sang wanita.
Pria itu menggeleng. “Aku tidak punya siapa-siapa.”
Pria itu menatap lekat mata wanita itu. Tidak tahan betatapan dengannya, wanita itu memalingkan wajahnya.
“Tolong jangan tatap aku seperti itu.” Ucap sang wanita. “Aku lelah menjadi yang kedua.”
Sang pria menghela nafas. “Sama.”***

“Ini lucu.” Ucap pria itu ketika ia dan sang wanita berjalan beriringan menuruni mall yang lampunya mulai dimatikan.

“Lucu?”
“Iya. Kita dipertemukan oleh alam dengan kondisi yang sama.”
“Menurutku tidak lucu.”
Pria itu menyenggol bahu sang wanita dengan bahunya. “Janganlah terlalu serius, La. Hidup itu panggung sandiwara yang perlu kita tertawakan.”
Sang wanita berhenti berjalan. Kepalanya menunduk, tak lama bahunya bergetar. Wanita itu menangis.
Pria itu mendekati wanita itu dan meletakkan kepala wanita itu di dadanya. Ia biarkan kemejanya basah karena air mata wanita itu.
Perlahan, pria itu menggiring wanita itu menuju tempat parkir.
“Aku bisa pulang sendiri, An.” Wanita itu menjauhkan wajahnya yang sembab dari pelukan pria itu.
Pria itu menggeleng. “Aku tidak mau sahabat masa depanku pulang kerumahnya dalam keadaan seperti ikan gabus. Menggelembung.”
Si pria menggembungkan wajahnya dengan mulut di monyongkan. Spontan hal ini membuat wanita itu tertawa.
“Senang melihatmu tertawa lepas.”
“Terima kasih, An. Kamu begitu baik.”
“Tidak. Akulah yang harusnya berterima kasih. Kehadiranmu malam ini membuatku membuka mata.”
Wanita itu tersenyum. “Seandainya kita bisa bersama ya, An.”
Pria itu mengenggam tangan kanan wanita dan menarik pelan tangan itu ke atas mendekati wajahnya.
“Darah yang menyatukan kita, takdir yang memisahkan kita.” Pria itu mencium punggung tangan wanita itu dan menaruh di pipinya.
“Seandainya Tuhan berkehendak lain, La.”

***As_3d


2 Comments (+add yours?)

  1. bacafiksi
    Aug 17, 2011 @ 17:18:45

    darah yg menyatukan kita? mungkinkah mereka berdua itu bertalian darah? atau cuma ungkapan aja? hehe..
    anyway, it’s a nice story. i like it, trid

  2. zadika
    Aug 17, 2011 @ 17:21:40

    Ryan, makasih udah komen :3
    Silahkan pikir sendiri yah jawabannya, jangan dijadiin peer yah😉

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing