Sebuah Rasa Sakit

Image from Deviantart

“Bagaimana sih rasanya di khianati?”

Pertanyaan itu jelas sangat menggangguku. Aku menatap wajah wanita muda yang sedang asyik menyantap mie ramen dihadapanku. Sepertinya biasanya dia selalu ngomong tanpa mikir. Otaknya itu ada di perut, bukan di kepalanya.

“Maksud lo?” ucapku ketus. Tiba-tiba selera makanku hilang karena pertanyaan sahabatku ini.

Yani menatap mataku dan menyeringai lebar. “Ah nggak apa-apa. Cuma tanya. Kehidupan percintaan lo kan lebih lengkap dibandingkan gw.”

Aku memutar bola mataku. Heran. Heran mengapa aku bisa tahan bersahabatan dengan wanita muda ini. Terkadang pemikirannya itu terlalu berlebihan.

“Ya, sakit!!” jawabku ketus.

“Udah pernah ngalamin?”

Ingin rasanya aku mengambil sebuah palu dan menggetok kepala Yani sekeras-kerasnya. Sebenernya ada apa sih dengan dia hari ini? Sikapnya menyebalkan sekali.

“Lo ngedoain gw ngalamin ya?”

Yani lagi-lagi menyeringai. “Ya nggak lah. Gw hanya ngebayangin aja. Gimana sih rasanya di khianatin.”

Aku memutar bola mataku lagi. Kenapa aku bisa tahan berteman dengan wanita pengkhayal ini? Gosh…

***

“Sayang.” Ketikku di bbm kepada kekasihku yang sedang bertugas di Makasar.

Tidak sampai semenit, handphone canggihku itu berbunyi. Rentetan icon ciuman muncul di layar smartphone itu. Aku tersenyum lebar. Ah begitu kangennya aku kepada priaku ini.

“Kangen kamu, muchy.”

“Aku juga. Kamu lagi apa, yang?”

“Lagi mikirin kamu.”

Gombal!! Dulu aku benci digombalin seperti ini. Tapi semenjak aku resmi mengikat janji dengannya, aku mulai membiasakan diri dengan gombalan-gombalan tidak jelasnya ini. Kubalas gombalannya dengan icon ciuman hingga memenuhi layar handphone itu.

“Besok aku ada seminar di Makasar, jemput aku ya.”

“Wah. Koq mendadak? Pasti aku jemput, muchy. Kamu nginep dimana?”

Aku tersenyum dan dengan semangat menuliskan. “Aku bilang akan nginep dirumah saudaraku sama kantor. Aku nginep di rumah kontrakanmu ya.”

Lama tidak ada balasan dari priaku. Ah, sepertinya langkahku salah menuliskan hal itu kepada dia. Ia pasti belum siap dengan semua ini. Tiba-tiba aku bimbang.

“Maaf chayang, bb nya ke restart tiba-tiba. Mau di rumahku? ayoo… nanti kuberikan kehangatan beruangku.”

Senyumku terus mengembang sampai ku tertidur pulas malam itu.

***

“Apa? Lo tidur di rumah Derel? Ga salah? Kalian kan belum resmi nikah.”

Itulah sambutan yang diberikan oleh Yani ketika ku kembali ke Jakarta. Matanya melotot memarahiku. Ah, untuk apa aku mendengarkan kata-kata negatif dia. Lama-lama deket-deket dia, aku seperti mempunyai ibu yang kedua di Jakarta.

“Iya! Tapi ga usah berpikiran buruk yah. Derel tidur di ruang tamu. Kita ngga tidur bareng seperti yang ada di pikiran lo.”

“Gw ngga mikir kalian tidur bareng.” Protes Yani. “Maksud gw itu, lo kan pasti disediain hotel ma kantor lo. And lo milih tidur selama seminggu di rumahnya Derel. Are you insane? what people would said?”

“You’re so dramatic. There’s no people in there. Derel lives in the middle of nowhere.”

Ups. Keknya fakta itu malah buat Yani makin panik.

“Apa?”

Aku tertawa lepas. “There’s nothing between us, honey. Stop acting like my mother. Mak gw sendiri ga secerewet itu kepada gw.”

Yani terdiam. Ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi menggantung.

“Gw hanya ga mau lo sakit ntar.”

“Sakit? Maksud lo?”

Yani menggelengkan kepala pelan dan mengalihkan pembicaraan kepada hal lain. Ada hal yang menggantung yang membuatku sedikit penasaran.

***

Hari itu seharusnya menjadi hari yang indah. Besok ulang tahun Derel, aku telah menyiapkan segalanya untuk kepulangan dia ke Jakarta untuk merayakan ulang tahunnya denganku. Tapi hari itu malah berantakan.

Namanya Tania. Seorang model yang tinggal di Bandung. Wanita muda itu tidak sengaja kulihat sedang berjalan di salah satu mall tak jauh dari kantorku. Seharusnya aku tidak penasaran dan tidak mengikuti langkah Tania. Tapi aku tidak menyesal aku melihat itu semua.

Tania memasuki sebuah restoran dan menemui seorang pria, pria yang sangat kukenal, Derel. Sebuah adegan cipika cipiki membuat mataku memanas. Rasa sakit menyesakkan dadaku hingga aku nyaris tak bisa bernafas. Seharusnya aku menggeprak mereka. Seharusnya aku menumpahkan semua isi minuman di hadapan Derel keatas kepalanya. Harusnya aku membunuh mereka berdua.

Aku tidak melakukan semua itu. Terlalu dramatic. Itu bukan gayaku. Aku harus menyelesaikan ini dengan cara yang elegan. Kuambil blackberryku dan menelpon Derel. Kuperhatikan Derel dari balik pintu depan restoran itu.

“Hai sayang.” ucapku dengan nada ceria, walau kurasakan suaraku bergetar menahan tangis.

“Hai, aku baru saja memikirkan dirimu.”

“Lagi dimana kamu? Udah di bandara? apa sudah di Jakarta?”

“Masih di Makasar muchy. Ada hal yang harus kuselesaikan dulu.”

“Oya? Wah berarti aku salah lihat ya.”

“Maksudmu apa sayang? Kamu lihat ada orang yang mirip aku yah?”

“Iya. Mirip banget. Lagi makan di restoran jepang di pondok indah. Aku bahkan sampe kaget. Koq ada ya pria yang mirip dengan kamu, lalu makan bareng pula sama wanita yang pernah membuatku sakit hati sebelum kita pacaran dulu, sayang.”

Kulihat raut wajah Derel berubah. Ia langsung menatap kearah pintu restoran dan langsung bertatapan denganku. Aku langsung berjalan berbalik. Aku berharap Derel mengejarku atau memohon maaf kepadaku. Ternyata tidak. Dia tidak berbuat apapun.

Saat itu aku baru merasakan rasanya di khianati.

***

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing