Hari Ini Aku Jatuh Cinta

Image from Deviantart

Hari itu hari sabtu.

Aku ingat jelas. Suasana langit mendung, tidak mendukung muda mudi untuk pacaran outdoor, tapi sangat merestui agar kekasih memadu kasih di indoor. Suasana jalan menuju tempat yang kutuju hari sabtu itu cukup lancar. Bahkan terlalu lancar. Hal itu membuatku terdampar di dalam suasana romantis ini, sendirian. Aku seperti biasanya, gagal menjadi seorang jam karet.

Pria itu datang dengan langkah gontai khas dirinya dan melambaikan tangan kepadaku. Aku tersenyum sekilas membalas lambaiannya.

“Sudah lama, Ri?” Pria dengan bau tajam menthol itu langsung duduk di kursi dihadapanku. “Kemana yang lain?”

Aku menaikkan bahuku. “Entah. Paling masih sibuk ma pacar-pacar masing-masing.”

Pria itu tertawa lepas. “Nyinyir ni yeee…” godanya.

Pria itu membuka bungkus rokok mentholnya dan mengambil salah satu rokok. “Ngga bagus Ri, nyinyir mulu. Nanti susah dapat jodoh benerannya.”

Gantian aku yang tertawa lepas. “Biarin. Yang penting gw masih bisa jatuh cinta. Gak seperti lo yang semenjak ditinggal Putri, kerjanya cuma nulis cerita cinta, tapi tidak bisa bercinta.”

Pria dihadapanku terbatuk keras. Entah karena keselek dengan asap rokoknya, atau tersinggung dengan perkataanku. Ia memicingkan matanya dan menatapku tajam. “Puas kamu, Ri?”

Aku menunjukkan senyum lebarku dan berkata “Lumayan.”

Pria itu mendengus kesal. “Jadi, mana pria yang kau sebut pacar barumu itu? Sudah siap kamu pamerkan?”

Aku tertawa lagi. “Bukannya tadi barusan lo nyindir gw karena nyinyir, kenapa tiba-tiba sekarang lo yang nyinyirin aku?”

“Latah!”

Aku kembali tertawa. Puas. “Tenang aja, nanti gw kenalin lo ma dia.”

Ia mengambil salah satu buku yang tadi dia bawa. Buku, pria dengan buku. Entah sudah berapa kali pria ini membuatku terpesona hanya dengan tindakan sederhananya. Ya. Hari itu hari sabtu. Tepatnya hari itu adalah hari sabtu terakhir aku menyadari bahwa aku sebenarnya mencintai pria dihadapanku ini.

***

“Pacarmu cantik, Do.” ucapku tulus.

Pria itu tersenyum bangga. “Siapa dulu pacarnya?”

Aku memutar bola mataku mendengarnya. Pria itu menyadari kekesalanku dan menyikut pinggangku. “Bercanda, Ri. Aku sebenernya yang beruntung bisa mendapatkan dirinya. Janie benar-benar priceless.”

“Syukurlah kalau begitu. Jagalah dia, Do. Jangan sampe lo ngerasain apa yang gw rasain sekarang ini.”

Alis mata pria itu naik sebelah. “Maksudmu?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Rasanya sakit jika aku harus mengungkapkannya kepada pria ini apa yang kurasakan saat ini. Cemburu.

***

Hari itu adalah hari sabtu. Entah hari sabtu ke berapa yang aku habiskan sendirian. Aku duduk di sebuah cafe tempat pertama kali bertemu dengannya. Aku tidak mengharapkan siapapun menemaniku malam ini. Aku ingin sendirian, tapi aku gagal.

Pria itu datang dengan wajah kusam. Ia tidak secemerlang wajahnya seperti beberapa bulan terakhir. Ia tampak gelap, meski baju yang ia kenakan merah menyala.

“Aku putus.” ucapnya singkat begitu duduk dihadapanku.

Aku hanya diam. Ia bukan tipe pria yang suka sembarangan curhat dengan seseorang. Jika itu terjadi, itu berarti ia sedang mengalami masalah hati yang cukup besar. Ia tidak butuh penasehat, ia hanya butuh telinga untuk mendengar.

“Janie dijodohkan oleh orang tuanya dengan mantan pacarnya.” ucapnya bercerita. “Ia pulang kampung ke Bengkulu untuk dinikahi.”

“Lo nggak mengejarnya?”

Pria itu mengehembuskan asap putih keudara dengan kesal. “Untuk apa? Dia sudah dewasa, ri. Dia bisa memilih sendiri apa yang harus ia pilih untuk kehidupannya. Dia tidak milih gw.”

Aku menghela nafas. Tidak berani berkomentar.

“Aku ingin menikahi wanita. Sekarang juga.” ucap pria itu tiba-tiba.

“Hah? Maksud lo?” Aku tidak mengerti arah pembicaraan pria dihadapanku.

“Janie tidak memilihku karena aku pengecut, Ri. Aku harus buktikan kepada dia bahwa aku tidak pengecut!” ucapnya dengan nada membara. Matanya berkilat-kilat setelah mengatakan itu.

“Balas dendam?”

“Bukan. Pembuktian.”

“Terhadap? Kepada Janie? Buat apa?”

Ia menaikkan bahunya. “Entahlah. Intinya adalah aku tidak mau Janie tahu bahwa aku sakit ia tinggalkan.”

Aku menggeleng-geleng kepalaku. Heran dan tidak habis pikir. Mengapa pria selalu berpikiran seperti itu?

“Kenapa? Aku salah?” ucapnya dengan suara meninggi.

“Itu sama aja balas dendam, Do. Itu sama saja lo nyakitin diri lo sendiri.”

Wajah pria dihadapanku tiba-tiba berubah. Ia tersenyum lebar. Terlalu lebar hingga mencurigakan.

“Kenapa lo senyum-senyum kek gitu?” ucapku heran.

Ia menaikkan bahunya lagi. “Mungkin, hari ini aku tiba-tiba jatuh cinta.”

“Ha?”

“Hari ini aku jatuh cinta, Ri. Aku jatuh cinta kepadamu, Ri?”

“Ha?”

“Cinta itu aneh ya, Ri?”

“Ha?”

Pria itu bangkit berdiri dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan mejaku.

Hari itu hari sabtu. Hari itu aku sadar, sahabat priaku ini memang aneh.

 

***
As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing