Selamat Pagi, April!

Image from Deviantart

Selain mencintai buku, aku mencintai lagu tanpa nyanyian. Sebuah musik instrumentalia, musik klasik atau dentingan piano dapat membuatku loncat-loncat bagaikan anak remaja yang mengandrungi boys band. Jangan tanya sejak kapan aku mencintai jenis musik ini, karena akupun baru menyadarinya belakangan.

Hanya sedikit orang terdekatku yang mengetahui kecintaanku ini, maka aku heran ketika aku mendapatkan sebuah paket cd instrumentalia. Paket itu ditujukan untukku, tanpa nama pengirim. Tapi sang pengirim meninggalkan jejak sebuah alamat jika paket tersebut salah alamat.

Aku seharusnya menyalahkan tangan nakalku yang iseng membuka kotak cd itu dan mendengarkannya. Iringan nada yang keluar langsung menari-nari dan berdansa dengan imajinasiku. Aku seperti dibawa oleh nada tanpa vokal itu terbang menuju tempat yang tidak pernah kukunjungi. Kuputuskan untuk menyimpan cd itu dan mengirimkan surat ke alamat di paket itu.

Dear pengirim cd lagu,

Terima kasih atas kirimannya.
Saya sangat suka dengan lagu yang anda kirimkan.

April.

***

Aku tidak berharap banyak si pengirim misterius membalas suratku. Kenyataannya malah, si pengirim misterius itu malah menghampiri rumahku tepat sehari setelah aku mengirimkan surat.”

Mohon maaf, anda April?” Itulah sapaan pertama pria itu ketika aku membuka pintu rumah.

Pria itu kurus kering dengan wajah putih pucat. Ia seperti orang yang tidak memakan apapun selama berhari-hari. Kulit kuningnya malah membuatnya seperti pesakitan.

“Ya? Saya?”

“Mohon kembalikan cd saya.”

“Cd? Anda yang mengirimkan cd itu?” Perasaanku saat itu seperti seorang abg yang bertemu artis pujaannya. Bergejolak. Ingin loncat-loncat dan minta tanda tangan artis idolanya.

“Benar. Maaf bisa tolong dikembalikan?” Ucapan ketus pria itu meruntuhkan semua antusiasme sesaatku. Wajahnya yang menatapku tajam tanpa ekspresi membuatku menurut untuk berbalik menuju kamarku mengembalikan cd itu.

“Thanks.” Pria itu mengambil cd itu cepat dan tanpa basa-basi ia langsung berbalik meninggalkan rumahku.

“Itu ciptaan anda?” Ucapku berusaha menahan langkahnya. “Lagunya sungguh indah.”

Pria itu berhenti melangkah dan berbalik menatapku dengan tersenyum. Akhirnya pria itu tersenyum.

“Terima kasih, April.”

Belum sempat aku membalas senyuman ramahnya, pria itu berbalik dan setengah berlari menjauhi rumahku.

***

Kurang lebih sebulan setelah pria itu mendatangi rumahku, aku kembali mendapatkan paket cd. Kali ini, tanpa alamat pengirim. Di dalam paket, ada sebuah surat dengan tulisan tangan yang berantakan.

Hai wanita yang bernama sama dengan bulan ini,

Maafkan atas kesalahan kirim kemarin. Kali ini aku menebus kesalahanmu dengan mengirimkan kepadamu sebuah karya. Karya sederhana dari seorang musisi jalanan.
Selamat mendengarkan wahai dirimu.

Pengirim rahasia,
Kurir Cinta.

Dengan hati berdebar aku memasang cd itu di pemutar cd. Alunan piano yang langsung membuatku terbang. Selama beberapa menit, aku terpaku mendengar alunan instrumental piano itu. Ketika piano itu berhenti mengalun, suara seorang pria terdengar,

“Selamat pagi, April. Terima kasih sudah mendengarkan.”

***

As_3d

*sebuah prekuel dari tulisan saya sebelumnya : Kurir Cinta*
Previously publish in here

1 Comment (+add yours?)

  1. ryan pradana
    Apr 12, 2011 @ 12:45:12

    waaah baguss.. ini fiktif kan?
    bagus lho mbak.. aku suka

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing