I Called it Love!

Pernah bermimpi?
Pernah berharap?
Pernah mencinta?

Jangan cuma jawab pernah, tapi jawablah : YA!
Mimpi tidak akan pernah menjadi nyata jika tidak langsung bangun dan mewujudkan mimpi tersebut. Harapan hanyalah tinggal harapan jika tidak ada usaha sama sekali. Dan jangan pernah bilang pernah mencinta, jika kau tidak pernah merasakan mencintai dirimu sendiri.

Semua ini berawal dari sebuah cinta. Cinta akan menulis. Cinta akan menuangkan ide yang meletup-letup dalam otak dan dituangkan menjadi sebuah cerita. Saya bukanlah penulis profesional yang karyanya sering beredar dimana-mana. Saya juga bukanlah seorang penyair yang baru saja menulis sebuah syair langsung di puja-puji karena syairnya menghangatkan hati pembacanya. Bukan!

Saya hanyalah seorang wanita muda yang suka curhat, suka bermimpi dan suka pamer. Dan semua hobby ku itu dituangkan dalam bentuk tulisan. Masih banyak typo, masih banyak kata-kata tidak nyambung dan banyak kata-kata tidak efektif.

Ketika project Hermes 4 charity kedua tercetus, saya sama sekali tidak pernah berpikir akan menjadi seperti ini, menjadi sebuah buku, menerbitkan sendiri, kemudian launching dan di liput oleh beberapa media. IT AMAZING!!! Tapi jika aku bilang ini mimpi, aku bilang ini bukan mimpi, INI CINTA!!!


Ketika saya ditunjuk oleh Jia Effendie untuk menjadi asistennya mengedit cerita yang masuk ke email thehermes09@gmail.com , saya merasa agak ragu. Saya yang masih dibilang penulis pemula dan masih berantakan dengan typonya disuruh mengedit tulisan-tulisan orang. Tapi ketika karya demi karya saya baca, saya malah terbius bahkan nagih untuk membaca tulisan-tulisan dari teman-teman kontributor Hermes 4 charity : Empat Elemen. Satu hal yang saya bangga mengedit buku ini, adalah yang menulis bukan “Orang biasa”, para kontributor yang mengirimkan cerita ternyata adalah para penulis berbakat yang saya yakin pasti akan menjadi calon-calon penulis terkenal. Masih segar dalam ingatanku ketika aku dengan tega menyuruh sahabat-sahabat saya di the hermes untuk cepat-cepat menyelesaikan tulisan mereka, karena saya tidak mau teman-teman saya kalah dengan teman-teman penulis yang terlebih dulu mengirimkan tulisan mereka ke “meja” saya.

Bahkan setelah kami selesai mengedit, lalu Empat Elemen menjadi sebuah e-book, saya dan Jia masih merasa belum puas. Kami ingin membukukan Empat Elemen ini. Dengan banyak tentangan dan juga halangan, kami akhirnya berhasil membujuk beberapa pihak sehingga mewujudkan apa yang saya sebut perwujudan mimpi, MENERBITKAN BUKU SECARA INDEPENDEN.

Dan this is it!! We’ve done it! Empat Elemen tidak hanya bisa dinikmati dalam bentuk maya, tapi juga dapat dinikmati dalam bentuk nyata. Semua tidak akan pernah berhasil tanpa adanya kerjasama dari semua pihak, doa dari teman-teman dan terutama usaha tidak pantang menyerah dari seluruh sahabat yang ada di belakang layar Empat Elemen.

Terima kasih Tuhan.
Terima kasih semuanya
Terima kasih sahabat-sahabatku.
Terima kasih Cinta.

As_3d

2 Comments (+add yours?)

  1. Inirudy
    Mar 31, 2011 @ 07:15:51

    celamadh eaa kaka acied :*

  2. zadika
    Mar 31, 2011 @ 07:54:30

    makaciiiii om rudy😉

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing