Pembunuh Terbunuh

“Ssttt…”

Tanpa sempat aku menoleh, mulutku sudah dibekap. Aku mencium bau busuk dari tangan besar yang membekap mulutku. Bau apa ini? Aku mual. Aku nyaris muntah mencium bau tangan besar itu. Tapi aku tak bisa bergerak. Tangan lainnya mecengkram kedua tanganku keras.

“Tolong jangan berontak” desis suara itu.

Sial. Aku sudah pusing dengan bau tangannya, sekarang ia malah memohon kepadaku. Aku tidak bisa nafas. Hello… orang bego!!! Lain kali kalo bekep orang, cuci tangan dulu bisa? Ah kenapa aku bisa berpikiran seperti ini. Sudahlah, aku menurut saja kepadanya.

Pria itu, ya mungkin ia pria, membawaku keluar dan menuju tempat parkir. Setelah sampai di hadapan suatu mobil, kurasakan bekapan tangannya melongar. Ada udara sedikit yang melegakan masuk ke dalam rongga hidungku. Aku sudah siap-siap untuk berteriak ketika kurasakan hentuman keras di punggungku.

“BUK!!!”

*

Sebuah sinar silau membangunkanku. Aww. Kepalaku sakit. Sepertinya pria itu memukul tengkuk belakangku hingga pingsan. Pelan-pelan aku membuka mataku. Kulihat bayangan tubuh kurus dihadapanku.

“Sudah sadar?” terdengar suara sinis wanita

Kupicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Pencahaya Cahaya lampu yang menyorotku membuat mataku semakin berkunang-kunang. Suara siapa ya itu? Aku tidak mengenalinya.

“Tahu kenapa dibawa kemari?” ucap wanita itu lagi

Aku menggeleng pelan. Wajah wanita itu tidak bisa kulihat karena ia berdiri tepat di belakang lampu sorot itu. “Dimana ini?” ucapku serak

Terdengar tawa parau dari balik lampu sorot. Aku menghela nafas kesal. Memang ada yang lucu?

“Lucu. seharusnya kamu kenal tempat ini lebih baik dibandingkan diriku” Wanita itu keluar dari bayangan. Wajah tirus dengan make up berlebihan.

Aku melihat sekeliling dan berusaha mengingat. Sakit akibat pukulan masih nyeri membuatku susah berkonsentrasi. Aku masih tetap tidak ingat ini ada dimana.

“Sudah ingat” ucap wanita itu lagi.

Aku menggeleng perlahan. “Saya belum pernah kemari.”

Wanita kurus itu menghentakkan kakinya kesal. Ia mendengus kesal dan berbalik meninggalkanku. Ia membanting pintu ruangan dan seketika lampu sorot juga ikut meninggalkanku.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

*

Aku tidak tahu kapan aku benar-benar sadar, kapan aku bermimpi. Semuanya gelap. Aku tidak bisa melihat apapun di ruangan ini. Mereka yang menculikku tidak memberiku makanan ataupun minuman. Aku hanya dibiarkan duduk dengan keadaan terikat. Kepalaku pening, aku tidak bisa berpikir.  Aku hanya bisa mengingat, Nero.

***

Pria itu bernama Nero. Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanyalah Nero. Tapi, seperti raja bernama Nero yang membakar Yunani, Nero membakar semangatku. Aku masih ingat alasan utamaku melanjutkan pendidikan lanjutku, aku ingin lebih dekat dengan Nero. Lebih dekat dengan dunia yang digeluti Nero.

Sayangnya ketika aku memasuki sekolah itu, Nero sudah lulus. Aku sempat bertemu beberapa kali dengan Nero, tapi itu hanya sekilas saja. Ketika ku lulus, aku mengetahui Nero bergabung di sebuah yayasan untuk anak jalanan. Tanpa ragu, akupun ikut bergabung. Harapanku, aku bisa terus melihat Nero. Sayangnya harapanku tidak begitu terwujud.

Petir menggelegar dan hujan turun deras ketika aku lagi-lagi termenung. Sendirian. Sendirian lagi, dan lagi, dan lagi. Handphoneku berbunyi. Kulirik dan terlihat nama Bara. Kuhela nafasku perlahan. Kuharap ini adalah panggilan tugas, bukan nasihat percintaan lagi.

Aku lupa kapan pertama kali kenal dengan Bara. Sebelum kenal dengan Nero atau sesudah ya? Ah! Kenapa aku terus memikirkan Bara? Dia tidak lebih dari sekedar klien. Only a client! Iya itu harus kutanamkan dalam benakku.

Dalam lamunan, kuingat samar-samar pertengkaranku hampir kurang lebih sebulan yang lalu dengan Bara. Pria itu sama seperti namanya, mengandung api. Ia selalu bisa saja menyulut api kemarahan dalam diriku.

*

“Ini tugasmu berikutnya” ucap Bara dengan dingin sambil menyerahkan folder hitam kepadaku

Kubuka folder itu dengan perlahan. Didalamnya ada beberapa foto berada di folder itu. Foto-foto dari seorang wanita. Kuperkirakan umurnya tidak lebih dari 30 tahun. Wanita itu lumayan manis, walau kulitnya putih pucat. Ia seperti habis digigit darahnya oleh vampir.

“Namanya Kayana” ucap Bara “Gw ingin lo membunuhnya”

Nafasku tercekat. Kurasakan jantungku berdetak semakin cepat. Apa kata Bara? Membunuh? Aku hanyalah seorang photographer, dan dia memintaku membunuh?

“Apa?”

Bara mengeluarkan selembar kertas dan menaruhnya hati-hati dihadapanku. Kertas itu adalah cek dari salah satu bank terkenal. Cek bernilai seratus juta rupiah.

“Gw tahu lo butuh uang cepat, bukan?” desis Bara “It’s just a simple thing. You only have to give this to her

Bara menunjukkan botol kecil berwarna putih kehadapan wajahku. Racun. Botol itu pasti berisi racun. Tubuhku mengeras. Aku tidak bisa bergerak.

Bara mengambil kursi dan duduk dihadapanku. “Kayana itu penghalang bagimu, Ve. Membunuhnya itu menguntungkanmu”

Aku mengangkat wajahku dan menatap Bara tajam. “Maksudmu?”

“Dia calon istri Nero” Bara tertawa keras. Kurasakan tawa itu menghinaku.

“Darimana lo tahu?”

“Karena gw hidup di dunia nyata, tidak seperti diri lo yang hidup di dunia mimpi. Mimpi akan Nero!” desisnya

Aku membuang muka. Ini gila. Ini sungguh gila. Mana mungkin aku harus membunuh?

Bara mendekatkan cek itu kehadapanku. “Sudahlah, Ve. Terima ini. Cek ini sudah bisa lo cairkan mulai besok. Dan lo punya waktu seminggu untuk meracuni Kayana”

Bara bangkit dari duduknya dan meninggalkanku.

*

Kubaca perlahan sms singkat dari Nero. Aku hanya bisa berkomunikasi lancar dengannya melalui tulisan, termasuk sms. Hanya sms kali ini bernada lain.

‘Bisa kita bertemu? Aku merindukanmu.’

Aku menghela nafas. Tatapanku beralih ke arah cek dan botol berwarna putih yang terletak di meja kamarku.

***

Ah…  Aku ingat. Wanita itu. Wanita itu Kayana. Wanita yang seharusnya aku racuni.

Pintu itu dibuka dan serberkas sinar membuat mataku tiba-tiba buta sesaat. Wanita itu kembali. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Ia mendekatiku dan mengacungkan senjata kearahku.

“Seharusnya kamu membunuhku. Sesuai dengan perintah Bara.” Ucapnya serak.

“Maksudmu? Kamu ingin aku membunuhmu?”

Wanita itu tertawa keras. “Kamu kira aku ngga tahu? Aku tahu kau adalah pelacur kecil yang berselingkuh dengan tunanganku, Nero. Kaulah satu-satunya alasan Nero mau menerimaku. Karena kau, maka Nero mau kupaksa menikah denganku. Dan karena dirimu, Nero menyuruh Bara untuk membunuhku.”

Aku terdiam. Senjata itu masih terarah ke wajahku. Wanita itu sepertinya telah siap menembakkan peluru ke wajahku.

“Jadi sekarang kau ingin membunuhku?”

Wanita itu tertawa pelan. “Kurang lebih seperti itu.”

Senjata itu berbunyi. Spontan aku menutup mataku. Mungkin inilah kisah akhir hidupku, akhir dari duniaku. Aku tidak merasakan apapun. Sunyi. Apakah aku sudah mati? Ketika aku membuka mataku, yang kulihat adalah wanita itu tergeletak dihadapanku. Darah berceceran di sekeliling tubuhnya.

Pria itu berdiri dihadapanku sekarang. Ia tersenyum. Senyumnya menakutkan. Ia mengarahkan senjata itu kearahku, dan…

***

1 Comment (+add yours?)

  1. ryan pradana
    Apr 12, 2011 @ 13:27:38

    1. cowo yg bunuh kayana itu siapa? bara atau nero?
    soalnya kalo menurutku ada kemungkinan mereka berdua bisa

    2. penggunaan kalimat langsung, ngga konsisten. kadang baku, kadang mirip percakapan sehari hari.

    3. alasan si tokoh utama gag bunuh kayana juga gag diungkapkan..🙂

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing