Wangi Itu

Dia wangi sekali. Nyaris aku terbius oleh harum tubuhnya. Ini seperti bukan dunia nyata, seperti mimpi. Tapi masa aku memimpikan pria ini? Itu… Itu… Itu mengelikan.

***

Dengan takut-takut aku mencoba menggapai lengan besarnya. Lengannya hangat. Aku suka kehangatan ini. Aku suka bau ini. Aku suka berada di lengan ini.

***
Aduh!!!
Ini seharusnya tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh terpesona dengan semua yang terjadi malam ini. Ini tidak boleh!

“Besok nggak lagi ya?” Ucapku sinis.

Ia menyeringai khas seperti biasanya. “Tenang, aku hanya melakukan dosa tiga kali. Itu sudah cukup bagiku.”

Aku merengut. Jadi ini dosa? Dosa yang manis kalau begitu.

***

Ia berjalan mendahuluiku, itu membuatku puas menatap punggungnya bidangnya, kemejanya yang keluar dari celananya, bagian…. Aduh! Kenapa aku malah berpikir pria ini adalah pria terseksi abad ini?

Ini tidak boleh! Ini sungguh tidak bisa!

Ia berhenti tiba-tiba hingga membuatku menabrak punggung besarnya.

“Aduh!” Aku mengelus-elus dahiku. Aduh, tubuhnya wangi. Bukan wangi colonge murahan atau parfum luar negeri. Ini wangi sabun. He smell like a baby’s body. Gosh, I wanna bite his body.

“Ga apa-apa?” Ucapnya.
Aku mengeleng. Berusaha keras untuk sadar dan tidak terbius oleh bau tubuhnya.
“Yakin?”
Aku mengangguk. Speechless.
Ia tersenyum dengan serangai anehnya. “Mari kita lanjutkan perjalanan ini.”
Aku mengangguk dan menyeringai. Pasti seringaianku sama anehnya dengan pria ini.

***

“Dosa ini indah ya?” Ucapnya sambil merangkul bahuku.
Ini benar-benar diluar dugaan. Ia sekarang ada di sampingku. Di sisi lain tempat tidurku.
Apa ini mimpi? Aku tidak boleh memimpikan dia. Apa ini khayal? Sepertinya tidak.
Ia menarik lengannya hingga membuat kepalaku jatuh di dadanya yang bidang. Dada itu polos, ia tidak mengenakan apapun. Ia bahkan tidak mengenakan celananya.
Nafasku seharusnya habis, seharusnya aku deg-deg an. Tapi kenapa aku masih bisa bersikap normal dan tidak sedikit pun merasa grogi?
“Terima kasih.” Ucapku akhirnya. Aku bahkan tidak sadar kenapa aku berterima kasih kepadanya.
“Sama-sama.” Ia mulai membelai rambutku.
“Dosa ini terlalu indah.”
“Benar. Sangat indah.”
“Lalu setelah ini bagaimana?”
“Apa yang bagaimana?”
Pikiran itu kembali muncul. Ah sungguh bodoh aku. Kenapa aku harus menyakini bahwa ini adalah kenyataan. Ini adalah mimpi.

Aku hanya akan menjadi pelampiasan dia belaka.

As_3d

Repost from here

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing