Aku Menang!

Pernahkan dirimu merasa sangat cemburu kepada seseorang atas segala yang ia miliki?
Well aku pernah.
Hanya ada satu orang yang selalu membuatku iri.
Namanya Amy.
Huh!


“Najis!!!”

Aku melemparkan surat undangan yang baru satu detik kupegang. Amy mengundangku ke pesta pernikahannya, lagi. Yap, lagi. Dia menikah untuk kedua kalinya, dalam satu tahun.

Aku menghempaskan badan ke singgasana kubikelku. Kulirik kesal ke undangan putih di hadapanku. Mengapa aku harus terjebak dalam situasi ini? Jika pernikahan Amy ini diketahui oleh kedua orang tuaku, pasti mereka akan berseloroh kejam.

‘Tuh kan, Amy, sahabatmu udah mau nikah lagi. Terus kapan giliran kamu? ‘

Damn!! I hate Amy!

***

Tawa itu masih teringat jelas dalam benakku, tawa Amy.  Saat itu kami masih berusia remaja. Ia memang bintang sekolah. Juara kelas, juara lomba atletik dan gadis idola di SMA kami. Semua mengangguminya, tapi juga membencinya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang membencinya, bahkan ia selalu tampak jumawa ke setiap orang yang kalah darinya, termasuk dihadapanku.

Aku memang bodoh, berani taruhan bisa mengalahkannya. Hasilnya? ia mentertawakanku dengan sangat puas melihatku terengah-engah tak berdaya di belakangnya. Perutku bergejolak, mual, melihat tingkahnya yang arogan. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang selalu lebih atletis dibandingkan diriku.

“Win… win…” ucapn Amy sambil menepuk-nepuk bahuku. “Jangan sok kuat deh, sampai kapanpun dirimu tidak akan pernah bisa mengalahkanku dalam lomba lari.”

Amy tertawa lepas sambil terus menepuk-tepuk bahuku. Aku menghindar menjahuinya.

“Baiklah. Kau memang selalu menang. Nantikan saja, suatu saat pasti aku akan mengalahkanmu.”

Amy kembali tertawa. “Aku meragukan hal itu, Win. Once a loser, always a loser!”

Amy mengedipkan mata kanannya dan berlalu dari hadapanku dengan tersenyum penuh kemenangan.

“Ingat, My!! Aku pasti bisa mengalahkanmu!!” teriakku kesal.

Amy berbalik dan tersenyum jahil. “Ok. i’ll waiting for that.”

Dan itu tidak pernah terjadi. Aku selalu kalah, bahkan di semua hal aku kalah. Termasuk urusan percintaan.

***

Amy berlari menuju diriku dan memelukku, ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruang resepsi pernikahannya. Ruangan resepsi itu sepi, bahkan terlalu sepi untuk sebuah pesta pernikahan. Antara terkejut dan bingung, aku menatap punggung Amy yang memelukku sambil tersedu. Tersedu? Amy nangis?

Aku merasakan bahu kananku lembab, ya, Amy benar-benar menangis. Aku speechless, tidak tahu harus bersikap apa atau mengucapkan apa. Setelah puas membuang air matanya di bahuku, Amy melepaskan pelukanku dan menatapku nanar.

“Makasih, Win. Terima kasih sudah datang.”

Aku mencoba menaikkan bibirku, tapi sepertinya senyumanku tidak terbentuk dengan sempurna.

“Sama-sama.”  ucapku kaku.

Amy memeluk lenganku dan menarikku pelan menuju kursi terdekat. Aku menurut dan ikut duduk di sampingnya di kursi VIP.

“Mhmmm… calon suamimu mana, My?” ucapku serak.

Bendungan air di mata Amy kembali pecah, dan ia kembali memelukku. Kali ini ia menangis dengan histeris.

“Ia pergi!! Ia meninggalkanku!!! Aku kalah!!!”

Aku kembali membeku. Tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia mendengar ucapan Amy.

***

Aku melirik kearah wanita disampingku. Wajahnya menunduk. Sedari tadi ia tidak mau menatap wajahku. Ia terus menunduk ketika dibawa oleh keluarganya untuk duduk disampingku.  Sepertinya ia memang enggan duduk disampingku saat ini.

Kuhembuskan nafas pelan-pelan agar tidak terdengar seperti helaan nafas kesal. Telapak tanganku sudah mendingin karena menunggu wanita itu keluar dari kamarnya. Tapi ketika ia sudah disampingku, perasaanku semakin malah tidak enak. Aku merasakan penolakan yang kuat dari wanita disampingku, menolak menikah denganku.

Ya. Akhirnya kudapatkan juga wanita yang mau kunikahi. Wanita yang diidam-idamkan oleh kedua orang tuaku. Wanita yang selama ini menjadi musuhku, Amy.

“Sudah siap mas Windu?” tanya pak penghulu dengan senyum penuh makna.

Aku mengangguk ragu-ragu.

“Koq anggukannya kurang meyakinkan nih?” tanya sang penghulu dengan penuh canda.

Aku tersenyum malu. Kualihkan pandanganku ke Om Wirya, Ayah Amy. Pria itu tersenyum lebar dan langsung menjabat tanganku erat.

Amy, sekarang aku mengalahkanmu…

***

As_3d

*Dalam rangka menulis di jejak kubikel. Tema : Balapan*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing