Sebuah Rasa Takut

Yanti Ardianti.

Itulah nama yang tertulis di kartu nama yang kuterima dari salah satu kolegaku.

“Wanita itu sekarang menjadi pemilik Kurnia Enterprise.” ucap Bambang, kolegaku.

“Pemilik?” ucapku tercekat. Seperti ada aliran listrik mengalir di darahku mendengarkan penjelasan Bambang.

“Iya. Padahal usianya baru dua puluh dua. Dan single.” Bambang mengedipkan sebelah matanya kepadaku.

Aku berusaha tersenyum. Ingin rasanya aku meremas kartu nama yang di genggamanku. Tapi aku tidak boleh menunjukkan rasa marahku. Belum saatnya.

***

Kejadian itu terjadi tiga tahun lalu. Saat itu aku baru kembali pulang dari Bandung, kota dimana aku menuntut ilmu teknik arsitektur. Seharusnya aku menjadi seorang arsitek, cita-citaku semenjak kecil, jika gadis sialan itu tidak ada.

“Hai Kak.” Itulah ucapan pertamanya ketika aku berdiri kaget menatapnya telah setengah telanjang diatas tempat tidurku.

“Kamu ngapain kesini?” Aku buru-buru menutup pintu kamarku, dan menguncinya. Entah mengapa aku melakukan itu, mengunci kamar. Itu adalah tindakan yang sangat bodoh.

“Aku mau menyambut kakak.” ucapnya manja. Ia bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menghampiriku.

Aku tidak bisa memungkiri, aku sebenarnya menikmati pemandangan dihadapanku saat itu. Tapi aku mengingat satu hal, Diana. Aku mendorong tubuh gadis itu menjauh.

Gadis itu menatapku marah. Ia berbalik dan menodongku sebuah pisau. Entah darimana pisau itu berasal. Apakah dia membawa pisau itu?

“Kalau kakak menolakku, aku akan bunuh diri.” Gadis itu meletakkan pisau itu diatas tangan kirinya.

“Jangan kamu lakukan itu.” bujukku. Aku berusaha mendekatinya dan mengambil pisau itu. Tapi terlambat. Gadis itu benar-benar mengiris tangan kirinya, dan berteriak keras.

Semua orang berlari menuju kamarku. Aku tidak bisa bergerak ketika suara gedoran itu semakin mengeras. Aku mematung memandang gadis itu pingsan di lantai kamarku. Aku takut. Aku takut melihat gadis itu.

***

Pernahkan dirimu ketakutan sehingga tidak bisa menjadi dirimu sendiri? Aku pernah. Aku begitu shock dengan kejadian gadis itu mengiris nadinya dihadapanku. Akhirnya, aku menjadi seperti mayat hidup. Menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Menjadi robot. Menjadi manusia tanpa keinginan.

Seharusnya pernikahan itu menjadi momen terindah bagiku. Kenyataannya tidak. Aku bahkan tidak sadar ketika aku mengucapkan janji pernikahan. Aku seakan berada di dunia lain. Aku tidak sadar, telah menjadi suami orang. Bahkan aku tidak sadar ketika aku meninggalkan “istri”ku.

Aku menekan no telepon yang hampir setiap hari kuhubungi sambil memperhatikan wanita yang duduk di bagian lain cafe itu.

“Hai, sayang.”

“Hai juga, sayang. Apa kabar?” jawabnya.

“Baik. Kerjaan sih sedikit numpuk, agak sedikit pusing sih. Tapi kalau dengar suaramu, tiba-tiba pusingku menghilang.”

Wanita itu tertawa. Tiba-tiba aku melihat sisi lain dari wanita itu.

“Kata-kataku lucu ya?” ucapku sambil mengesap kopiku.

“Tidak. Kamunya yang lucu, sayang.”

“Ah, kamu tahu darimana aku lucu? Kan kita belum pernah bertemu.”

“Aku itu punya indera keenam. Aku bisa tahu seperti apa wajahmu, hanya dari suaramu.”

Aku tertawa. Wanita belum berubah. Pembohong. “Aku jadi penasaran tahu, sayang.”

“Penasaran?”

“Iya. Kamu pasti cantik sekali.”

Wanita itu membetulkan tatanan rambutnya di cermin cafe yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia tersenyum bangga sepertinya.

“Habis potong rambut ya?”

“Koq tahu?”

“Aku juga punya indera keenam. Aku bisa melihatmu sedang bercermin memegang rambut.”

Wanita itu langsung menoleh kekanan kiri.

“Kamu lagi ada di cafe…?” nada suaranya terdengar panik.

“Tenang sayangku. Aku akan selalu mengawasimu.” Aku mengakhiri pembicaraan singkat kami.

Wanita itu menatap ponsel mewahnya dengan takut. Ia masih menoleh ke segala arah cafe. Berusaha menemukanku. Ia ketakutan. Aku tersenyum. Ini belum apa-apa, sayangku.

***

“Hai, sayang.” ucapku ketika berhasil membuka pintu rumah kontrakan itu. “Masih ingat aku, sayang?”

Yanti menatapku takut. Bibirnya memutih. Ia seakan melihat hantu menatapku. Aku menghampiri Yanti dan mengangkat tubuhnya.

“Bagaimana, kalau kita berjalan-jalan sebentar, sayang?”

***

And we did it.

Seharusnya hal ini terjadi ketika malam pertama kami. Seharusnya ini indah. Seharusnya hal ini membahagiakanku dan Yanti. Seharusnya…

Kenyataannya, aku begitu marah, kesal, dendam dan benci. Yanti membuatku kehilangan segalanya. Aku kehilangan mimpiku, kehilangan cinta suciku dan kehilangan keluargaku.

Orang tuaku mengusirku ketika aku kembali lagi menghadap mereka setelah berhari-hari menghilangkan diri. Aku tidak menghilang sebenarnya. Aku pergi menemui Diana. Gadis manis itu ternyata mengusirku, tidak menerima ucapan maafku. Aku menjadi gelandangan. Aku hidup sendirian selama dua tahun terakhir, dan semua ini karena Yanti.

Kutatap tubuh di lantai itu dengan perasaan dingin. Pemilik tubuh itu menatapku nanar. Aku membuang wajahku dari tatapan itu.

“Selamat malam, sayang. Semoga kau menikmati apa yang sudah engkau cita-citakan semenjak dahulu.

***

As_3d
*bagian kedua saya menulis tidak jelas*

6 Comments (+add yours?)

  1. hanifah
    Dec 27, 2010 @ 13:00:50

    haha kenapa dibilang nggak jelas sih mbak…
    bagus gitu

  2. sibair
    Jan 26, 2011 @ 06:29:53

    “Kutatap tubuh di lantai itu dengan perasaan dingin” terdengar seperti ini menyetubuhi dengan liar…😐

  3. doroii
    Feb 04, 2011 @ 02:46:58

    Entah kenapa, terkesan ada sedikit emosi menggantung sejak masuk paruh kedua cerita. Harusnya ketakutannya bisa terasa lebih dalam dan gelap. Ah, mungkin hanya saya saja yang luput kemampuannya. Salam kenal😉

  4. zadika
    Feb 04, 2011 @ 04:43:55

    salam kenal roiii…
    hihihihi…
    ini hanya satu dari sekian banyak cerita absurd saya😛
    thanks udah mampir

  5. zadika
    Feb 04, 2011 @ 04:44:20

    *ngakak*
    thanks ya bair udah mau mampir😉

  6. zadika
    Feb 04, 2011 @ 04:44:47

    Haaiii Hani….
    hahaha… ya kan dirimu sudah berpengalaman baca mp qu😛

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing