Peri dan Elf

1 Desember 2009

ADI

Hari itu aku bertemu dengannya pertama kali. Namanya Ida. Lucu, nama kami hanya tinggal dibalik. Lucu, wanita itu adalah wanita pertama yang membuatku tertawa semenjak aku menginjakkan kaki di ibukota negara ini. Lucu, ternyata kami mempunyai kisah masa lalu yang sama. Lucu, kami berdua lucu. Lucu…

“Kamu baik sekali.” ucap Ida saat kami jalan beriringan. Kulihat wajahnya sekilas. Wajahnya bersemu merah. Serasi dengan jilbab merah yang saat itu ia kenakan.

“Aku tahu.” ucapku pede.

Wanita itu tertawa lepas menatapku. “Geer.”

“Lho? Tadi bukankah kamu menegaskan bahwa aku baik?”

Wanita itu tetap tertawa lepas. Tawanya membuat senyumku semakin mengembang. Aku suka tawa itu.

“Kamu cantik jika tertawa.” ucapku tulus.

“Terima kasih.”

Aku mengambil tangan kanannya dan mengecup punggung tangan halus itu. “Sampai bertemu lagi, peri.”

Wajahnya semakin memerah. Ia terdiam. Aku semakin gemas melihatnya. Ingin rasanya aku mengecup bibirnya.

IDA

Hari itu seharusnya menjadi hari tanpa kesan. Aku bertemu dengan sahabatku, membagi kisah hatiku, menangis bersama, kemudian pulang. Aku belum siap menerima bentuk cinta, apapun bentuknya. Peninggalan kemarin terlalu sakit untukku. Aku ingin terbebas, bebas dari bayang-bayang pria.

“Ida.” Kujabat tangan pria itu.

Pria itu tertawa lepas. “Namaku, kebalikan namamu, Adi.” ucapnya sambil menggengam erat tanganku.

Ramah. Itu kesan pertamaku ketika berkenalan dengannya. Wajahnya yang jauh dari kata ganteng sangat bertolak belakang dengan sikap gentlemannya. Saat itu adalah pertemuan kami pertama kali, tapi entah mengapa, aku seakan sudah mengenal baik pria itu.

“Sampai bertemu lagi, peri.” Adi mengecup punggung tanganku, belum pernah seorang pria melakukan hal itu kepadaku.

Aku tertawa lepas menanggapi perlakuan itu, berusaha mengalihkan konsentrasiku akan degub jantungku yang tidak karuan akan kecupan selamat malam itu.

“Sampai jumpa lagi, elf.”

Adi tertawa terbahak-bahak. “Elf?”

Aku menarik tangan kananku pelan. “Ya, daripada ku katakan, kurcaci? Kamu kan ngga cebol?”

Adi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap tertawa lepas. Aku menghela nafas pelan. Pria ini seperti telah membuatku lupa akan sakit kemarin.

15 Juni 2010

ADI

Aku melambaikan tanganku ke udara ketika melihat wanita mungil itu memasuki gedung itu. Aku dan teman-temanku sedang menikmati festival film yang berlangsung di gedung itu. Ida selalu tampak sempurna di mataku. Anggun, pintar, cantik dan… sexy. Ya. Dia sempurna. Tapi, ia terlalu sempurna untukku.

Aku melirik wanita pucat disisiku. Wanita yang kusebut sebagai seorang pacar. Aku jatuh cinta kepadanya semenjak pertama kali melihatnya. Aku mulai mencintainya. Tapi melihat Ida saat ini, aku merasakan pacarku ini… AH! Kenapa aku jahat sekali, wanita ini calon ibu anak-anakku. Sementara Ida? Ia… Ia…

“Hai di!” Ida menghampiriku dengan senyuman manis.

Ida sempurna.

IDA

SHOCK! Itulah yang kurasakan ketika melihat Adi. Ia telah menemukan belahan hatinya. Wanita itu cantik, cantiknya orang jawa. Wanita itu manis, semanis gula. Kurasakan aura cinta ketika mendekati mereka.

“Sari.” ucap wanita itu memperkenalkan diri. “Kamu ya Ida yang terkenal itu ya?”

“Terkenal?” spontan aku menatap Adi meminta penjelasan. “Maksudnya?”

Adi tersenyum penuh makna dengan tangan yang merangkul pinggang Sari. Entah mengapa, aku merasakan tidak suka dengan hal itu.

“Kata Mas Adi, Mbak itu pemain teater terkenal.”

Aku tertawa. “Aku belum seterkenal itu. Dan, jangan panggil mbak dong. Aku seperti sudah tua banget.”

Kami bertiga tertawa. Di sela-sela tawaku, aku tetap memandang tangan Adi di pinggang Sari.

Ya Tuhan, aku cemburu! Aku tidak boleh seperti ini. Adi adalah sahabatku, dan dia tidak pernah ada tanda menyukaiku, menyukaiku sebagai seorang wanita.

7 Desember 2010

IDA

Adi menghilang. Kabar terakhirnya ia putus dengan Sari, kantornya pindah, dan… hilang. Semua teman-temanku tidak ada yang tahu dia dimana. Ia masih di Jakarta, tapi sepertinya tidak mau bertemu dengan siapapun.

Semenjak awal aku dan Adi hanyalah teman. Aku juga tidak pernah terbersit sedikit pun harapan kepada dirinya. Tapi ketika malam itu aku melihatnya duduk di teras kosku, sepertinya semua pemikiran itu kupatahkan.

“Adi? Ngapain kesini? Darimana tahu kos ku?” ucapku sedikit kaget.

Adi bangkit dan tersenyum sedih. “Boleh aku menginap disini?”

Aku tidak pernah menyadari ketika refleks aku mengangguk. Kubuka pintu kosku dan mempersilahkannya masuk.

ADI

Seharusnya aku tidak boleh melakukan ini. Seharusnya aku menjaga peri-ku. Seharusnya aku tetap menjadi elfnya Ida. Seharusnya aku tetap menjadi seorang Adi yang gentleman, bukan sebagai Adi pengecut. Seharusnya…

Ida duduk diam di ujung sudut kosnya. Pandangan matanya kosong, rambutnya berantakan. Ya, aku melihat rambutnya, tapi bukan itu saja yang kulihat. Wanita muslimah itu telah kuperlakukan tidak senonoh. Kenapa? Kenapa aku lakukan ini? Apakah aku sudah segila itu ditinggalkan oleh Sari? Apakah aku harus membalas perselingkuhan Sari dengan perselingkuhan? Tunggu! Aku tidak selingkuh, dan Ida mengundangku masuk kedalam kamarnya. Tapi…

“Da…” Aku mendekati Ida perlahan, mencoba meminta maaf.

Ida tidak menatapku. Ia tetap memandang kosong kearah lantai.

“Maafkan aku, Ida.” Aku mengambil tangannya. Tangannya basah akibat keringat dingin. Kucium tangan itu. Tangan yang sama, yang setahun lalu kucium untuk pertama kalinya.

Ida menoleh akhirnya. Kulihat matanya berkaca-kaca.

“Kenapa kamu memanggilku Ida? Aku bukan Ida!”

Kaget. Kuberanikan diri untuk menyapu poni panjang wanita itu dari wajahnya. Ya Tuhan!

Wanita itu…

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing