Sebuah Nomor

Sebenarnya aku tidak suka ditelpon. Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri tidak menyadari semenjak kapan aku membenci menerima telepon. Intinya jangan pernah menelponku, terlebih ke no pribadiku.

Tapi, kasus ini berbeda. Sebuah no GSM akhir-akhir ini sering menghiasi nomor panggilan di handphone mahalku ini. Jangan tanya siapakah pemilik no GSM ini. Karena aku pun tidak tahu, dan tidak ingin tahu.

“Hai, sayang.” Sapaan itulah yang selalu kudapat jika pria asing itu menelponku. Suaranya yang empuk menenangkan hatiku yang sering kali galau dibandingkan gembira.

“Hai juga, sayang. Apa kabar?”

“Baik. Kerjaan sih sedikit numpuk, agak sedikit pusing sih. Tapi kalau dengar suaramu, tiba-tiba pusingku menghilang.”

Aku tertawa. Entah apa karena aku memang mudah digombalin atau aku memang haus akan kata-kata pujian seperti itu. Satu hal, aku memang merindukan masa-masa seperti ini.

“Kata-kataku lucu ya?” Nada suaranya berubah, seakan ia tidak suka dengan tawa lepasku.

“Tidak.” Aku masih terkikik. “Kamunya yang lucu, sayang.”

“Ah, kamu tahu darimana aku lucu? Kan kita belum pernah bertemu.”

Bertemu? Sepertinya itu tidak akan terjadi.

“Aku itu punya indera keenam. Aku bisa tahu seperti apa wajahmu, hanya dari suaramu.” ucapku sambil menarik poniku kebelakang.

Pria itu tertawa. Suara tawanya menggemaskan. Aku memandang bayangan di cermin dihadapaku.

“Aku jadi penasaran tahu, sayang.” ucap pria itu.

“Penasaran?”

“Iya. Kamu pasti cantik sekali.”

Aku tersenyum dan memandang cermin dihadapanku. Kamu tidak akan pernah tahu, sayang.

***

Pernahkan kamu begitu mencintai seseorang, hingga kamu ingin bunuh diri jika ia meninggalkanmu? Aku pernah, meski sebenarnya niat bunuh diriku hanyalah ancaman kosong yang kuteriakkan kepada pria yang mencuri hatiku itu.

Pria itu tidak pernah mencintaiku. Dia bersedia menuruti apapun keinginanku. Ia bersedia menjadi budakku, bonekaku, tamengku sekaligus kekasihku. Pria itu bodoh, oh bukan, dia lebih dari itu. Dia idiot.

“Hai, sayang.” Suara empuk itu menyapaku.

“Hai juga, sayang. Tumben sudah menelponku sepagi ini.” Aku melihat jam di dinding kamar kosku. Jam 6 pagi.

“Baru bangun ya, sayang?”

“Hooh.” ucapku sambil menguap. “Ada apa, sayang?”

“Ah tidak…” Ia terdiam. “Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Aku merasakan bibirku tertarik keatas. Tersenyum geli. “Untuk apa? Kamu pasti menyesal nanti.”

Pria itu terdiam lama. Aku hanya bisa mendengarkan desahan nafasnya. Aku bangun dari tidurku dan berusaha mendengarkan dia dengan jelas.

“Sayang, kamu masih disana?”

“Iya.” jawabnya pendek.

“Kamu marah, yang? Maaf. Aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa. Lebih baik kita telepon-teleponan seperti ini saja. Tidak usah bertemu.”

Pria itu menghela nafas. “Aku capek, Yan. Aku tahu siapa kamu, Yanti Ardianti.”

Nafasku tercekat. Seperti ada yang memukul keras punggungku, hingga punggungku nyeri. Pria ini bisa tahu namaku? Pria ini kenal aku?

“Aku saat ini sedang berdiri di depan pintu kosmu, Yan.”

Refleks aku memandang pintu putih dihadapanku. Tak lama, pintu itu terketuk. Jantungku berdetak terlalu cepat. Nafasku semakin sesak. Ini tidak boleh terjadi. Ini salah. Sangat salah.

***

Pria itu bernama Brian. Dia itu cinta pertamaku, jika itu bisa disebut cinta. Aku mengenal dirinya ketika SMA. Dia sahabat kakakku, sering main dan menginap dirumahku. Aku begitu memujanya, hingga aku menjebak dirinya. Aku memfitnahnya.

Orangtua Brian menemukanku di kamar Brian. Keadaanku memprihatinkan. Aku tergeletak di lantai keramik kamar Brian dengan darah berceceran disekitarku. Sementara Brian hanya berdiri kaku melihatku kehabisan darah. Orangtua Brian membawaku ke rumah sakit dan memutuskan bahwa aku dan Brian akan segera di nikahkan.

Perasaanku sungguh bahagia saat itu. Dinikahkan oleh pria yang kucintai. Pernikahan kami pun dilaksanakan di gedung termewah di Jakarta. Aku selalu tersenyum sepanjang pesta resepsi itu. Saat itu aku tidak pernah menyadari benar-benar jika Brian nyaris tidak tersenyum.

Ketukan di pintu semakin mengeras. Kurasakan keringat dingin menyelimutiku. Takut. Aku merinding.

“Yan…” Sebuah bisikan mengiri ketukan di pintu. “Buka!”

“Siapa?” ucapku bergetar.

“Cepat buka!! Atau aku dobrak.” Bisikan itu berubah bentakan kasar.

Mataku berkeliling keseluruh sudut kos 4×6. Entah apa yang kucari. Otakku tiba-tiba melumpuh, tak bisa berpikir. Siapa pria itu? Kenapa dia bisa tahu siapa aku? Apakah dia pemerkosa? pembunuh? Ah… aku belum siap mati.

“Yanti!!!”

***

Pria itu hanyalah sebuah nomor. Sebuah nomor yang tidak dikenal. Aku lupa siapa yang terlebih dahulu menelpon, pria itu atau aku. Aku juga lupa kapan pertama kali kami saling menyebutkan satu sama lain dengan sebutan “sayang”. Sepertinya belum lama. Tapi mengapa aku merasakan pria itu telah mengenalku lama.

Kami tidak pernah bertukar nama, bertukar alamat, ataupun bertukar id media sosial. Semenjak awal, hanya ada aku-kamu dan sayang. Aku tidak pernah berniat ataupun penasaran kepada pria itu. Karena bagiku ia hanyalah sebuah nomor. Nomor GSM yang menghiasi daftar panggilan di ponsel mahalku.

Pintu kos itu akhirnya terdobrak. Pria itu langsung masuk kedalam kamar kosku. Matanya memerah menatapku tajam. Wajah itu. Mata itu. Tubuh itu. Dia… Dia…

Pria itu mengunciku dengan tatapan dinginnya. Tubuhku tidak bisa bergerak. Mulutku terkunci. Aku bagaikan patung hidup. Aku hanya bisa bernafas. Bernafas, dan memperhatikan gerak-gerik pria itu yang dengan kasar mengangkat tubuhku dan menggendongku keluar kamar.

***

Pria itu menculikku. Pria itu membunuhku. Tapi bukan nyawaku yang melayang, tapi jiwaku. Pria itu memperkosaku. Tapi aku menikmati semua perbuatannya kepadaku. Ini salah. Ini sangat salah. Dia seharusnya tidak melakukan semua ini. Dan, akupun harusnya tidak boleh merasa senang.

Brian. Pria itu Brian. Brian yang sama yang meninggalkanku tanpa keterangan di sebuah hotel entah berantah. Brian, suamiku diatas kertas, yang tiba-tiba datang setelah hampir dua tahun menghilang.

Dan sekarang, Brian yang kupuja itu, telah menghancurkan semuanya. Ia yang dahulu melihatku berpura-pura bunuh diri, sekarang benar-benar membunuhku. Ia melakukan itu dengan senyum, dan tanpa kata-kata.

***

As_3d
*sepertinya saya benar-benar menulis tidak jelas kali ini*

1 Comment (+add yours?)

  1. sibair
    Dec 20, 2010 @ 06:38:27

    … dan cinta semu itu kadang sangat berkesan walau hanya sebentar. ~absurd~

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing