Rein – Karn – Asi

Dulu aku pasti seekor burung. Terbang bebas mengarungi samudera angkasa. Angin sahabatku. Matahari guruku. Hujan kekasih hatiku. Awan pelindungku. Aku dulu pasti sangat bahagia menjadi burung. Aku ingin menjadi seperti dahulu. Terbang bebas kemanapun aku mau.

Aku ingin kembali seperti itu. Terbang. Kurentangkan tanganku.

“Angin, bawa aku bersamamu.” Teriakku menghadap langit. “Aku ingin terbang.”

Baru saja aku berjinjit untuk menghampiri angin, tubuhku seakan melayang. Aku bukan terbang. Tubuhku diangkat oleh seseorang.

“Reina… Ayo turun.” Ucap pria itu. “Bahaya main di atap rumah.”

“NGGAK MAU!!!” teriakku histeris. “Rein, mau terbang. Rein nggak mau turun.” ucapku meronta-ronta.

Kekuatan pria itu mengalahkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan mengikuti keinginannya.

Namanya Karni. Wajah cantiknya membuat banyak orang menyangka dia adalah wanita. Tapi percayalah dia seratus persen pria, aku pernah mencoba bersamanya. Tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang tirus juga menipu banyak orang. Mereka menyangka dia penyakitan. Percayalah itu juga sangat salah, dia benar-benar kuat. Terlalu kuat.

Karni menurunkanku di sofa reyot. Ia tersenyum lebar karena telah berhasil menemukanku. Seperti biasa ia selalu dapat menemukanku di atap rumah. Aku menekuk mukaku. Kesal.

“Sudahlah Rein. Jangan seperti anak-anak. Tidak pantas.” Ucapnya sambil berjalan menuju lemari es. Ia mengambil botol minum besar dan menenguk isinya hingga ludes tak tersisa setetespun.

Aku terdiam dan melipat tanganku. Masih kesal.

“Kamu itu manusia, bukan burung.” Ia menyodorkan satu kaleng minuman dingin dan menempelkannya ke pipiku. Aku menepis kaleng minuman itu hingga terlempar dari tangannya.

Karni menghela nafas. Ia mengambil minuman itu dan meletakkannya di meja di hadapanku. “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan!!” teriaknya kesal.

“Kenapa aku dikekang seperti ini?” akhirnya aku membuka mulut dan berteriak.

“Siapa yang mengekang?” teriak Karni.

Aku membuang muka. Aku benci dengan wajah cantik pria itu. Mengapa ia harus secantik itu? Aku selalu terkesima melihat wajahnya. Sial.

Kudengar helaan panjang dari Karni. Hatiku sedikit terhibur. Jika ia menghela seperti itu, pasti dia akan mengalah. Ia duduk disebelahku dan memeluk pinggangku. Ia mulai mencium tengkukku.

“Baiklah. Aku mengalah.” Ucap Karni. “Kamu boleh terbang kemanapun kau mau.”

“Benarkah?” tiba-tiba jantungku berdetak menjadi semakin kencang.

Karni membalik badanku dan perlahan membuatku tertidur dibawahnya. Ia menatap mataku dalam-dalam. “Aku janji.”

Jangan tanya apa yang kami lakukan kemudian. Hal itu tidak ada apa-apanya dengan keinginanku terbang. Aku ingin terbang.

Dulu Karni pasti adalah seorang leopard, macan tutul yang gemulai. Tubuhnya yang liat dan kuat membuatku tunduk jika bersamanya. Ia bagaikan leopard cantik jika dipandang, tapi ganas jika disentuh. Semua titik syarafku pasti bergetar jika ia sudah menyentuh diriku.

Karni sangat memujaku. Pujaan yang berlebihan. Aku tak pantas untuknya, tapi aku pun tak sanggup meninggalkan kenikmatan yang selalu ia berikan. Ia begitu berharga untuk ditinggalkan, tapi aku pun tak sanggup terus bersamanya.

Kupandang Karni yang tidur bagaikan kucing kecil disampingku. Perlahan aku melepaskan pelukannya dari badanku. Aku berjingkat-jingkat dan pergi menuju tempatku berasal.

Aku berdiri di balkon flat itu dan merentangkan tanganku. Aku kembali meminta angin membawaku. Ia mengabulkan permintaanku. Ia menghembuskan nafasnya dan akupun merasakan panggilannya untuk terbang. Aku berjinjit dan mulai meloncat dari flat tingkat sepuluh itu.

***

Pria itu berdiri mematung melihatku kaget dari ujung kaki sampai kepala. Aku tertawa melihat caranya memandangiku seperti itu. Aku menghampirinya dan memberikan ciuman di pipi kanannya.

Asi, You have changed!! For God sake!!” ucap pria itu kaget.

Aku memegang pipinya. “Ini semua untuk kebaikan kita bersama.”

“Kamu masih menjadi seorang burung?”

Aku menggeleng perlahan. “Aku telah menjadi seorang manusia. Seutuhnya manusia.”

“Rein?”

“Rein telah mati, sayangku.”

“Mati?”

Aku mengangguk perlahan. “Aku membunuh jiwa burungku itu untuk menjadi jiwaku sekarang.”

“Jadi sekarang dirimu menjadi titisan apa?”

Aku tersenyum. “Aku titisan pacarmu.”

Aku mencium bibir pria itu sekilas. Pria itu tertawa pelan. Ia memeluk pinggangku dan mendekapku lebih erat.

“Baiklah. Apakah kamu siap sekarang my dearest Clasia?”

Aku mengangguk yakin dan kembali mencium bibir pria di hadapanku.

“Jangan buat semua tamu menunggu, Mari kita mulai pernikahan ini.” Bisiknya.

***

As_3d

*sungguh absurd ini cerita*

2 Comments (+add yours?)

  1. lelakibudiman
    Nov 14, 2010 @ 01:17:35

    Ide ceritanya menarik, ada semacam “permainan” alter ego. Membuat pembaca menebak, apa hubungan di antara mereka bertiga. Coba dibaca ulang, tulis ulang, baca ulang, tulis ulang. Nanti akan bisa kita rasakan, bahwa cerita kita semakin “kuat”

  2. zadika
    Nov 17, 2010 @ 05:34:51

    Makasih pakde…
    ^^v

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing