(4) Marie

Cinta.
Ah sungguh merepotkan jatuh cinta itu.
Lebih mati aku mati tanpa pernah merasakan sekalipun jatuh cinta

September 2010
Aku tersenyum bangga melihat bayanganku di pintu lift metalik. Warna mengkilat itu membuatku bisa bercermin seluruh badan.

“Cantik” pujiku sendiri sambil menggerakkan tubuhku ke kiri dan kekanan. Memperhatikan bentuk tubuhku yang ramping.

Pintu lift terbuka dan dari dalam keluar beberapa pria muda. Aku mencoba tersenyum setulus mungkin ketika pria-pria itu tersenyum kepadaku. Salah satu pria bahkan sempat menyapaku singkat ketika berpapasan dengannya. Aku tidak menjawab hanya mengangguk pelan dan masuk ke dalam lift. Para pria itu masih tetap menoleh menatapku dan bercanda satu sama lain membicarakan diriku, sampai akhirnya pintu lift tertutup.

Aku tersenyum puas menatap bayangan sosok sempurna di hadapanku. Sekali lagi aku bercermin di keempat sisi lift kaca itu. Aku memang cantik dan pantas dikagumi.

***

Maret 1990
Hari ini aku berulang tahun. Orang tuaku seharusnya ingat hari ini tepat enam tahun yang lalu aku dilahirkan. Kenyataannya mereka tidak pernah ingat. Menurut mereka untuk apa mengingat hari dimana kita akan berkurang umurnya.

Sungguh menyebalkan! Kenapa aku tidak seberuntung teman-temanku? Mereka meskipun sama-sama miskin
seperti diriku, tapi tetap disayang oleh keluarganya. Setidaknya pas ulang tahun, kedua orang tuanya akan mencium mereka. Sedangkan aku?

Ketika ku bangun, aku sudah tidak menemukan dimana orang tuaku berada. Suara tangisan adik bungsuku membangunkanku. Ibuku sepertinya tidak peduli akan keberadaannya. Aku menggendong bayi berumur sembilan bulan itu.

“cup…cup…” ucapku sambil menepuk nepuk punggung bayi yang hingga sampai hari ini belum diberi nama oleh orang tuaku.

Sebuah gebrakan pelan membuat tangisan adikku sedikit berkurang. Aku menoleh dan menatap sosok dekil.

“Mabok lagi lo?” ucapku sinis

Pria muda itu terduyun duyun berjalan memasuki rumah kardus kami, pria itu kakak tertuaku. Kerjanya sehari-hari hanya 3M, Malak, Mabok dan Meler.

“Gue kerja, goblok!” teriaknya kasar

“Kalo lo kerja, mana duit buat beli susu si adek?”

Pria muda itu tertawa keras. Aku tahu itu tertawa dipaksakan. “Buat apa gue kasih makan anak haram kaya dia? Duit gue itu buat gue sendiri”

Aku membuang muka dan mengelus dada bayi digendonganku yang mulai sesak nafas karena kebanyakan menangis.

“Eh meski anak haram, dia adik lo juga”

“Iya gue nyesel dilahirkan di keluarga miskin nista kaya gini. Harusnya gue lahir di keluarga kaya”

Aku tertawa sinis “Kalo lo lahir di keluarga kaya, yang ada lo yang membuat keluarga lo hancur dan miskin mendadak.”

Sebuah tarikan keras kurasakan di kepala. Kakakku itu menjambak rambutku. “Heh, lo kira lo itu suci? Lo itu hasil pelacuran! Si emak itu menjual tubuhnya ke pria-pria hidung belang. Tau ngga?”

Aku menatap tajam pria itu dan memegang ekor kudaku. Berusaha agar ia melepaskan tangan kotornya dari rambutku. “Aku tahu. Untuk itulah aku bercita-cita jadi pelacur kelas atas. Nggak kayak emak yang cuma berani di bedeng-bedeng.”

***

Oktober 2010

Aku memencet bel kamar sebuah hotel di kawasan senayan. Kelas kakap. Pria ini menghubungiku langsung, tidak melewati perantara seperti yang biasa kulakukan selama ini. Ia menelponku dengan suara beratnya yang menurutku sexy. Aku jatuh cinta dengan suaranya. Suatu hal yang tabu di dunia hitam ini, jatuh cinta kepada customer.

Pintu hotel itu terbuka. Pria yang membukanya berperawakan tinggi besar dengan rambut hitam tebal. Kacamata membuat wajah pria itu semakin ganteng. Ia tersenyum dan mempersilahkanku masuk.

“Marie? betul?” tanyanya ramah.

Aku mengangguk dan berdiri dengan pose elegan andalanku, memperlihatkan belahan kaki indahku. Ia berdecak kagum melihatku dari atas hingga bawah hingga kacamatanya sedikit turun ke pangkal hidungnya. Ia menyuruhku duduk di sofa kamarnya, dan menawarkan minum kepadaku.

“Saya lebih suka air mineral.”

Ia membungkuk membuka lemari es. Sejenak aku mengamati pemandangan indahnya yang membelakangiku. Figur pria ini terlalu sempurna untuk menjadi seorang hidung belang. Jangan-jangan ia malah gay. Aku terkikik pelan membayangkannya.

“Ada yang lucu?” ia menyerahkan botol minuman air mineral mahal kepadaku. Aku menggeleng pelan.

“Anda cantik.” pujinya sambil memandangku lekat-lekat dan duduk tak jauh dariku.

Aku tersenyum nakal, mendekatinya dan mulai memainkan aksiku. Diluar dugaanku, ia berdiri dan mundur menjahui sofa. Ah, sepertinya mungkin dia benar-benar gay.

“Maaf.” Ia menutup wajahnya. “Maaf, saya tidak bisa melakukan ini. Wajah anda mirip sekali dengan dia.”

Ah sudah kuduga. Pria patah hati. Aku merengut kesal. Sial. Ah, biarlah. Yang terpenting bayarannya buatku. Aku membuka air mineral yang pria itu berikan dan meneguknya sedikit.

“Tidak apa-apa.” ucapku getir “Saya telah anda sewa, jadi jika anda hanya ingin mengobrol dengan saya, saya tidak keberatan.”

Pria itu berlutut dihadapanku dan meletakkan tangannya ke pahaku. Sikapnya aneh dan membuatku ngeri.

“Nama saya, Anton. Boleh saya meminta wajahmu?”

“Apa?!?”

***

As_3d

*cerita ini adalah bagian dari rangkaian 21 cerita paralel*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing